By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: “Sekolah Kehidupan” di Balik Jeruji: Cara Warga Binaan LPP Semarang Merajut Harapan Sebelum Bebas
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
NewsPendidikan

“Sekolah Kehidupan” di Balik Jeruji: Cara Warga Binaan LPP Semarang Merajut Harapan Sebelum Bebas

Last updated: 19 Agustus 2026 22:18 22:18
Jatengdaily.com
Published: 19 Agustus 2026 22:16
Share
Tim ini menggali kisah dari 10 warga binaan melalui wawancara mendalam. ​Hasilnya menunjukkan bahwa pembinaan di dalam lapas telah bergeser fungsi: dari sekadar tempat menjalani hukuman menjadi ruang tumbuh yang humanis.
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) -​Mendekati masa pembebasan, dinding-dinding Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Semarang tidak lagi dirasa sesak oleh penyesalan.

Bagi para perempuan warga binaan, hari-hari menuju kebebasan kini menjadi momen penting untuk merajut kembali harapan, mengukir identitas baru, dan menemukan tujuan hidup yang sempat hilang.

​Dinamika emosional dan proses penerimaan diri ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Tim PKM-RSH Universitas Negeri Semarang (UNNES) sepanjang tahun 2026. Dipimpin oleh Shafa Azzahrah Waluyo bersama rekannya—Jenyes Intan Sururoh, Tri Lutfi Tasdiqu Zaman, Putri Noorfia Khairunnisaa, dan Muhammad Khansa Al Aflah—serta didampingi dosen Achmad Miftachul ‘Ilmi, M.Pd.

Tim ini menggali kisah dari 10 warga binaan melalui wawancara mendalam. ​Hasilnya menunjukkan bahwa pembinaan di dalam lapas telah bergeser fungsi: dari sekadar tempat menjalani hukuman menjadi ruang tumbuh yang humanis.

Ragam aktivitas produktif seperti membatik, menjahit, memasak, bertani, hingga mengajar terbukti membangkitkan rasa percaya diri mereka.

​“Setelah aku masuk, aku malah bisa batik, jadi petani, dan ikut dekor. Jadi dapat kemampuan yang sebelumnya enggak aku punya,” tutur salah seorang warga binaan.

​Bagi mereka, ikatan keluarga dan spiritualitas menjadi jangkar utama untuk bertahan. Dukungan dari anak, pasangan, serta orang tua—dipadukan dengan aktivitas keagamaan yang rutin—membuat mereka berani memaafkan masa lalu.

Saking dalamnya transformasi yang dirasakan, salah satu partisipan bahkan menyebut masa pembinaannya sebagai sebuah “sekolah kehidupan” yang mengajarkan kesabaran, rasa syukur, dan arti penting keluarga.

Menjelang hari pembebasan, ketidakpastian masa depan berganti menjadi rencana yang konkret.

Para warga binaan kini bersiap melangkah keluar dengan kepala tegak: ada yang ingin kembali mendampingi keluarga, bekerja, hingga membuka usaha berbekal keterampilan yang didapat di lapas.

​Penelitian ini turut mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh).

Temuan ini menjadi bukti kuat bahwa sistem pemasyarakatan yang berhasil adalah yang memanusiakan manusia—tidak hanya membekali tangan dengan keterampilan, tetapi juga menguatkan jiwa untuk kembali bersinar di tengah masyarakat. Penulis Putri Noorfia Khairunnisaa dan tim

You Might Also Like

Karhutla di Gunung Sumbing, 69 Pendaki Telah Dievakuasi
Dorong Pertanian Ramah Lingkungan, Kelompok Tani Desa Mluweh Dilatih Produksi Pestisida Nabati
FEB Untag Tambah Doktor Baru
Berkaca dari India, Dewan Desak Evaluasi PTM Tahap II
44,7 Juta Orang Diprediksi Bepergian Saat Nataru, 23-24 Desember 2022 Puncak Mudik
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?