By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Seloyang Pizza, ¼ Juta Rupiah untuk Bertiga (Belajar Bisnis dan Hidup dari Meja Jajan)
Share
Font ResizerAa
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Tausiyah

Seloyang Pizza, ¼ Juta Rupiah untuk Bertiga (Belajar Bisnis dan Hidup dari Meja Jajan)

Jatengdaily.com
Published: 6 Juni 2026 10:49
Share
SHARE

Oleh: Anis Maftukhin, Pemimpin Ponpes Wali

JUMAT malam. Perut rupanya tak bisa diajak kompromi. Padahal, Anda tahu sendiri, kurs dolar belakangan ini lagi gila-gilaan. Isyarat alam agar kita makin kencang mengikat pinggang. Tapi, ah… saya ingat pidato Pak Prabowo. Orang kecil seperti kita ini toh tidak belanja pakai dolar, bukan? (nyengir).

Rawon masakan istri sebenarnya masih ada. Sudah kami santap sejak pagi. Tapi entah kenapa, lidah tiba-tiba mogok. Kasak-kusuk sebentar, rapat keluarga dadakan digelar.

Hasilnya: saya, istri, dan anak sepakat melipir ke Pizza Hut. Niatnya sederhana saja. Menikmati makanan kaum miskin Napoli yang kini sukses “naik kelas” dan mendunia.
Memikirkan pizza ini, nalar saya jalan.

Bayangkan. Abad ke-18 di Napoli, pizza itu cuma penganjal perut kuli kasar. Makanan pinggiran. Kini? Jadi industri bernilai miliaran dolar. Perubahan wujud dari makanan jelata jadi simbol gaya hidup. Bukti telanjang bahwa kita ini sering amnesia sejarah.

Kebutuhan perut dibungkus ilusi prestise. Hal-hal tulus—seperti pendidikan, gotong royong, sampai sepotong roti panggang—disulap jadi komoditas bisnis.

Cuss… Ba’da maghrib berjamaah, kami membelah pekatnya malam Salatiga. Tiba di gerai, logo mentereng itu menyambut: si gubug sederhana beratap merah.
Pantat baru saja mendarat di kursi empuk, seorang pramusaji datang menyapa. Ramah sekali. Tapi ia tidak bawa buku menu.

Ia justru mengarahkan kami memesan secara online. Tinggal scan barcode. Scroll-scroll layar gawai sebentar. Sepakat. Bintang utamanya: “Meat Lovers” ukuran sedang. Pendampingnya: Cheese Beef Fusilli.

Minumnya, saya tunjuk Coca-Cola. Anak dan istri punya selera sendiri. Klik. Pesanan meluncur diproses ke sistem cloud. Canggih.
Sambil menunggu pesanan, iseng saya buka ChatGPT. Tanya-tanya soal filosofi atap merah itu. Lho, ternyata menarik! Jawabannya renyah.

Syahdan, tahun 1958, dua bersaudara Dan dan Frank Carney buka restoran pertama. Bangunannya? Ya cuma restoran mungil. Atapnya mirip gubug. Bentuk gubug itulah yang lantas dikunci jadi logo imperium global ini. Baru malam itu saya benar-benar mafhum.

“Pizza Hut”. Gubuk Pizza. Desain ndeso yang dipertahankan mati-matian agar abadi di kepala pelanggan melintasi zaman.

Pikiran saya seketika melompat. Ke tahun 90-an. Ke warung lothek Mbak Warnah di turunan Tapen, selepas kuburan arah Candirejo, Tuntang. Kira-kira, warung Pizza Hut zaman dulu ya wujudnya seperti warung Mbak Warnah itu.

Kenapa atap gubug pizza warnanya merah menyala? Alasannya polos saja. Persis strategi warung kampung. Biar gampang diendus. Biar gampang diingat orang lewat. Ilmu marketing purba yang ternyata ampuh melawan gerusan waktu.

Jari saya baru mau mengetik pertanyaan lanjutan ke kecerdasan buatan, eh, hidangan keburu mendarat. Bau gurih keju panggang menampar hidung. Lamunan digital saya ambyar.

Ritual makan pun dimulai, tentu dibumbui obrolan ngalor-ngidul. Anda perhatikan tidak? Sepotong pizza, betapapun tebal atau tipisnya, selalu lahir di loyang bundar untuk satu tujuan: dibagi.

Ini antitesis telak buat budaya modern yang makin individualis. Di tengah kepungan ruang digital yang ironisnya bikin kita sering kesepian, berbagi seloyang pizza mengembalikan memori kita. Bahwa kebahagiaan sejati manusia selalu berakar pada komunalitas. Duduk setara, meruntuhkan ego, dan berbagi cerita.

Sambil mengunyah daging Meat Lovers, paradoks modernitas makin kentara. Industri mencekoki kita dengan ilusi kelimpahan. Topping makin meriah. Pinggiran makin tebal. Porsi makin raksasa. Logika kapitalis terus berbisik: “lebih banyak pasti lebih baik”.

Padahal, Anda tahu varian pizza paling legendaris yang sanggup melawan zaman? Pizza Margherita. Topping-nya cuma tiga lapis. Sangat bersahaja. Rupanya, kesederhanaan punya napas jauh lebih panjang ketimbang kemewahan yang dipaksakan.

Perut kenyang, kami bertolak pulang. Tapi sisa penasaran masih nyangkut di kepala. Tiba di rumah, saya menyelami lagi linimasa sejarah di dunia maya. Ketemu satu pencerahan.

Di balik wajah komersialnya, pizza menitipkan nilai mahapenting: adaptasi. Masuk Amerika, ia berubah. Masuk Jepang, menyesuaikan. Masuk Indonesia, rela berselimut bumbu rendang.

Ia menolak mati karena lentur diajak kompromi. Ini sentilan halus buat kita. Menjadi modern di era digital tak harus membumihanguskan identitas lokal. Justru kita harus pintar bernegosiasi agar tradisi tak cuma jadi fosil pajangan.

Sayangnya, jutaan orang hari ini mungkin cuma merayakan gemerlap neon Pizza Hut. Tanpa sudi menengok luka sejarah kemiskinannya di gang-gang Napoli. Persis manusia modern yang mabuk kepayang oleh kilau teknologi, tapi rabun pada arah peradaban dan akar budaya.

Pelajaran termahal malam itu bukan urusan karbohidrat. Tapi soal cara kita merespons zaman: merawat akar tradisi, membuka dada pada dunia, dan melangkah maju tanpa kehilangan kompas batin.

Sebelum kelopak mata benar-benar terpejam, saya tagih nota pembayaran ke anak saya. Di kertas tipis itu tertera angka lumayan: sekitar seperempat juta rupiah untuk makan bertiga. Nominal yang, jujur saja, lumayan merobek kantong, hehehe…

Tapi ya sudahlah. Nasi sudah jadi bubur. Pizza sudah aman bermukim di lambung demi menjinakkan lidah. Ada pembelaan kecil untuk menghibur hati: tak apalah sesekali boncos.

Anggap saja malam ini saya baru menebus biaya kuliah kilat 2 SKS. Mata kuliahnya tentang filosofi hidup dan racikan bisnis yang sukses.

Eh, kejutan manis datang satu jam kemudian. HP saya bergetar. Ada pesan forward WhatsApp dari anak saya. Isinya? Foto kami bertiga yang sedang sumringah bersiap makan tadi. Fotonya sudah dibingkai twibbon estetik. Slogannya menohok: “Eat good, feel good”. Di bawahnya tersemat ucapan terima kasih dengan sapaan karib: “Sampai jumpa lagi di Pizza Hut Salatiga Kak”.

Saya tersenyum kecil. “Oh, begini toh cara baru mereka mengikat hati pelanggan,” gumam saya, diam-diam menaruh kagum. Jatengdaily.com-St

You Might Also Like

Spirit Isra Miraj dan Menjaga Persaudaraan
Ramadan sebagai Ruh Ekonomi Syariah
Idul Qurban dan Hidup Zuhud
Spirit Maulid Menuju Bangsa Transformatif
Berbekal Ilmu, Santri Miliki Fondasi Hebat Hadapi Gempuran Modernitas
TAGGED:¼ Juta RupiahSeloyang Pizzauntuk Bertiga (Belajar Bisnis dan Hidup dari Meja Jajan)
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?