JAKARTA (Jatengdaily.com) – Hamparan Pantai Lampuuk di Aceh yang elok tak hanya menyisakan cerita tentang keindahan ombaknya, tetapi juga tantangan lingkungan yang nyata.
Di balik hiruk-pikuk aktivitas pariwisata yang hidup, tumpukan buah kelapa sisa kunjungan wisatawan sempat menjadi persoalan pelik.
Sebanyak 60 ton limbah kelapa menumpuk setiap bulannya, dibiarkan membusuk atau berakhir di kepulan asap pembakaran yang melepaskan hingga 34,8 ton emisi karbon ke udara bumi serambi mekah.
Namun, cerita itu kini berubah haluan. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) melalui unit usahanya, PT Solusi Bangun Andalas (SBA), berhasil membalikkan keadaan dengan merajut solusi yang mengawinkan kelestarian alam dan kesejahteraan warga.
Melalui sebuah inovasi sosial bertajuk program Sakeladera (Sampah Kelapa untuk Desa Sejahtera), tumpukan limbah yang semula tak bernilai tersebut disulap menjadi cocopeat (serbuk halus sabut kelapa) berkualitas tinggi untuk campuran pakan ternak unggas.
Langkah cerdas ini langsung menjawab keresahan ganda yang dihadapi masyarakat setempat. Di satu sisi, lingkungan pesisir menjadi lebih bersih dan sehat karena volume timbulan sampah berhasil ditekan drastis menjadi hanya 20 hingga 24 ton per bulan.
Di sisi lain, para peternak unggas lokal di kawasan Lhoknga, Aceh, yang selama ini tercekik oleh tingginya biaya pakan akibat ketergantungan pasokan dari luar daerah—mencapai Rp48 juta per bulan—kini bisa bernapas lega. Kehadiran cocopeat sebagai alternatif campuran pakan mampu memotong ongkos produksi peternak secara signifikan hingga 60%, atau setara dengan penghematan Rp28,2 juta per bulan.
Program Sakeladera yang diinisiasi SBA sejak tahun 2024 ini tidak tumbuh sendirian. Perusahaan kembali menggandeng komunitas pemuda penggerak lingkungan lokal, Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil).
Komunitas ini sebelumnya telah menjadi mitra strategis dalam payung program Sobat Si Abes (Solusi Bangun Andalas Sahabat Pesisir) yang berjalan sejak 2022.
Komitmen SIG diwujudkan secara menyeluruh, tidak sekadar menyerahkan bantuan mesin pengolah, melainkan juga memberikan edukasi, pendampingan teknis yang intensif, hingga membantu proses sosialisasi agar program ini berakar kuat dan diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni menjelaskan bahwa Sustainability Roadmap SIG 2030 merupakan kompas strategis bagi seluruh entitas bisnis di bawah naungan SIG untuk memastikan operasional perusahaan berjalan selaras dengan kelestarian sosial-ekologi.
Keberhasilan program di Aceh menjadi bukti sahih performa keberlanjutan yang aplikatif dan berdampak multiguna bagi warga sekitar.
”Program Sakeladera merupakan wujud komitmen nyata SIG terhadap pembangunan berkelanjutan. Inovasi ini menyatu dengan pilar keberlanjutan kami, yaitu ‘Perlindungan terhadap Lingkungan’ serta ‘Menciptakan Nilai untuk Karyawan dan Komunitas’ yang tertuang dalam Sustainability Roadmap SIG 2030,” ujar Vita Mahreyni.
Dampak ekonomi dan kemandirian yang dilahirkan dari program ini pun telah teruji secara ilmiah dan finansial. Produk cocopeat hasil olahan Basagemil telah dinyatakan lulus uji laboratorium oleh Balai Riset dan Standardisasi Industri atas kandungan kalsium dan proteinnya yang aman serta bergizi untuk ternak.
Dari sisi ekonomi makro komunitas, analisis Social Return on Investment (SROI) mencatatkan rasio yang mengesankan sebesar 2,5. Artinya, dari setiap Rp1 investasi yang ditanamkan oleh perusahaan, mampu melahirkan manfaat sosial dan ekonomi senilai Rp2,5 bagi masyarakat lokal.
Ekosistem ini sukses menghidupkan rantai pasok baru yang melibatkan 28 orang, mulai dari pengumpul sampah pantai, tim pemilah, proses pengolahan, hingga jaringan distribusi.
Manfaat langsung ini dirasakan mendalam oleh Muhammad Ikhsan, salah seorang warga yang tergabung dalam Kelompok Usaha Puyuh Andalas binaan SBA. Bagi Ikhsan dan rekan-rekannya, kehadiran program Sakeladera mengubah jalannya roda usaha mereka menjadi jauh lebih stabil dan mandiri.
“Program Sakeladera sangat inovatif dan membawa perubahan yang bisa kami rasakan langsung di dompet operasional sehari-hari. Sekarang sampah kelapa tidak lagi dibuang percuma atau bikin kotor pantai. Kami bisa mengolahnya jadi produk bernilai ekonomi, bahkan menekan biaya produksi pakan ternak secara luar biasa. Terima kasih SIG dan PT Solusi Bangun Andalas, semoga terus peduli dan sukses bersama kami masyarakat di sini,” tutur Ikhsan penuh syukur.
Melalui keharmonisan kerja sama antara korporasi, komunitas milenial, dan peternak lokal, Pantai Lampuuk kini tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memukau mata, tetapi juga mengirimkan pesan kuat dari ujung barat Indonesia: bahwa dari sebutir sampah kelapa, kesejahteraan desa dan kelestarian alam bisa tumbuh beriringan. St

