By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Swasembada Energi, Pangan, dan Air, Topang Kemandirian Indonesia
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
NewsPendidikan

Swasembada Energi, Pangan, dan Air, Topang Kemandirian Indonesia

Last updated: 10 April 2026 16:02 16:02
Jatengdaily.com
Published: 10 April 2026 16:02
Share
Mohamad Endy Julianto. Foto: dokpri
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com)- Dosen Sekolah Vokasi Undip, Dr. Mohamad Endy Julianto, ST, MT, membuat kajian mengenai masa depan Indonesia yang tidak boleh lagi bergantung pada impor minyak, impor pangan, dan eksploitasi air tanpa kendali.

Indonesia harus bergerak menuju satu cita-cita besar yakni swasembada energi, swasembada pangan, dan swasembada air.

Pemikiran ini dikemukakan oleh Dr Mohamad Endy Julianto, yang merupakan Dosen Teknologi Rekayasa Kimia Industri/ TRKI Vokasi Universitas Diponegoro Senin 6 April 2026, di Kampus Undip Tembalang. “Indonesia sedang berdiri di sebuah persimpangan sejarah. Di satu sisi, harga minyak dunia terus melonjak, ancaman krisis pangan semakin nyata, dan ketersediaan air bersih mulai menjadi persoalan serius,”kata dia.

Di sisi lain, Indonesia sesungguhnya memiliki kekuatan yang luar biasa: lahan subur, sinar matahari melimpah, laut yang luas, biomassa terbesar di Asia Tenggara, serta sumber daya manusia yang mampu mengubah krisis menjadi kebangkitan.

Inilah yang sedang dikaji secara mendalam oleh Dr Mohamad Endy Julianto.

Menurutnya berbagai hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Energi menentukan kemampuan petani memproduksi pangan. Pangan membutuhkan air. Air membutuhkan energi untuk dipompa, diolah, dan didistribusikan.

Jika satu sektor runtuh, sektor lainnya akan ikut terguncang. Karena itu, Indonesia memerlukan strategi terpadu yang tidak hanya memadamkan krisis hari ini, tetapi membangun ketahanan bangsa puluhan tahun ke depan. “Saya memulai kajian dari persoalan energi,”imbuh dia.

Ketika harga minyak dunia melonjak di atas 100 dolar per barel, Indonesia langsung merasakan dampaknya: subsidi BBM membengkak, biaya transportasi naik, harga pangan ikut melonjak, dan daya beli masyarakat menurun.

Namun bagi dia, jawaban terbaik bukan terus menambah subsidi. Solusi yang jauh lebih cerdas adalah membangun sistem energi yang mandiri.

Indonesia, menurutnya, memiliki peluang besar untuk menjadi raksasa energi terbarukan dunia. Sawit dapat diolah menjadi biodiesel B40 hingga B50 untuk truk, bus, kapal, alat berat, dan genset.

Tebu, singkong, molase, dan sorgum dapat diubah menjadi bioetanol E10 hingga E20 sebagai pengganti bensin. Minyak jelantah dan biomassa dapat diproses menjadi green diesel dan bioavtur.

Bahkan limbah pertanian yang selama ini dibakar begitu saja sebenarnya dapat menjadi sumber energi baru.

Dia menggambarkan masa depan Indonesia yang sangat menakjubkan: motor listrik mendominasi jalan-jalan kota, bus dan kendaraan logistik menggunakan baterai, truk berat dan industri memakai hidrogen, sementara kapal antarpulau menggunakan biodiesel dan sistem hybrid. Kereta listrik menghubungkan pelabuhan, kawasan industri, dan sentra pangan dari Sumatera hingga Sulawesi.

Bagi Dr Mohamad Endy Julianto, kendaraan listrik bukan sekadar tren modern, melainkan strategi nasional untuk mengurangi impor bensin. Indonesia memiliki cadangan nikel yang sangat besar untuk memproduksi baterai. Jika motor dan mobil listrik dikembangkan secara masif, konsumsi BBM nasional dapat turun drastis.

Bahkan dirinya menilai bahwa konversi jutaan sepeda motor ke motor listrik adalah langkah tercepat dan paling realistis untuk menyelamatkan Indonesia dari ancaman krisis energi.

Namun dia juga mengingatkan bahwa swasembada energi tidak boleh merusak swasembada pangan. Jangan sampai lahan pertanian produktif justru berubah seluruhnya menjadi kebun energi. Karena itu, biofuel harus dibangun dengan prinsip keberlanjutan: memanfaatkan limbah, lahan marginal, minyak jelantah, biomassa, dan teknologi yang tidak mengganggu produksi pangan utama. Di sinilah kajian itu memasuki dimensi kedua yakni swasembada pangan. she

You Might Also Like

DMI Jateng Bahas 11 Program Unggulan, Galang Donasi untuk Gaza
Bendungan Randugunting Blora Mulai Diisi Air
Mama Wati Ajak Ganjar Berkeliling di Rumah Doa 
Ketua MA Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Tidak Tetap oleh UNDIP
Sejumlah Medsos Promosikan Haji Nonprosedural, Masyarakat Harus Waspada
TAGGED:sekolah vokasi UNDIP
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?