By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Tausiyah Ramadan di Masjid Baitussalam Ngaliyan: Dr Agung Ridlo Ajak Jamaah Menjadikan Kejujuran sebagai Benteng Kehidupan
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Tausiyah Ramadan di Masjid Baitussalam Ngaliyan: Dr Agung Ridlo Ajak Jamaah Menjadikan Kejujuran sebagai Benteng Kehidupan

Last updated: 16 Maret 2026 07:57 07:57
Jatengdaily.com
Published: 16 Maret 2026 07:57
Share
Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Baitussalam, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, pada malam ke-26 Ramadan.Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Baitussalam, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, pada malam ke-26 Ramadan.

Puluhan jamaah duduk bersila di atas karpet hijau masjid, mengikuti tausiyah yang disampaikan oleh Mohammad Agung Ridlo, Ketua Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Islam Sultan Agung (Unissula).

Dalam ceramah bertema “Arti Sebuah Kejujuran”, Dr Agung mengajak jamaah untuk kembali meneguhkan nilai kejujuran sebagai fondasi utama kehidupan, sekaligus benteng kuat dari sifat munafik yang dapat merusak individu maupun masyarakat.

Mengawali tausiyahnya, Dr Agung mengutip hadis sahih dari Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadis tersebut menyebutkan tiga tanda kemunafikan: ketika berbicara berdusta, ketika berjanji mengingkari, dan ketika dipercaya justru berkhianat.

Menurutnya, pesan hadis tersebut menjadi peringatan penting bagi umat Islam di tengah kehidupan modern yang penuh tantangan, mulai dari maraknya informasi palsu hingga praktik ketidakjujuran dalam berbagai aspek kehidupan.

“Ketidakjujuran bukan sekadar kesalahan kecil. Ia adalah ciri kemunafikan yang dapat menghancurkan kepercayaan dan merusak tatanan sosial,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menegaskan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya mengingatkan tentang bahaya kemunafikan, tetapi juga menunjukkan jalan keluarnya, yakni dengan memegang teguh kejujuran dalam setiap aspek kehidupan.

Ramadan, menurutnya, merupakan momentum terbaik untuk melatih hal tersebut, karena puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan dari dusta serta menjaga amanah dengan penuh tanggung jawab.

Untuk memperjelas makna kejujuran, Dr Agung mengisahkan sebuah cerita inspiratif tentang seorang raja tua yang mencari penerus takhta melalui sayembara menanam biji. Semua pemuda diberikan biji yang sama untuk dirawat selama satu tahun. Namun, tanpa diketahui mereka, biji tersebut sebenarnya telah direbus sehingga tidak mungkin tumbuh.

Ketika hari penentuan tiba, para pemuda datang membawa tanaman yang tampak subur. Hanya seorang pemuda bernama Abdul yang datang dengan pot kosong karena bijinya memang tidak tumbuh. Alih-alih dimarahi, raja justru mengangkat Abdul sebagai putra mahkota karena kejujurannya.

“Kejujuran dan integritas jauh lebih berharga daripada keberhasilan yang dibangun di atas kebohongan,” tutur Dr Agung menegaskan pesan dari kisah tersebut.

Ia juga mengaitkan nilai kejujuran dengan kehidupan profesional dan sosial. Dalam bidang perencanaan wilayah dan kota, misalnya, integritas sangat penting agar kebijakan pembangunan tidak tercemar oleh kepentingan pribadi atau praktik korupsi.

Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, kejujuran dalam berdagang, menepati janji, serta menjaga amanah pekerjaan merupakan kunci membangun masyarakat yang sehat dan berkeadilan.

Di akhir tausiyah, Dr Agung mengajak jamaah melakukan introspeksi diri selama Ramadan. Ia mengingatkan agar setiap Muslim bertanya kepada diri sendiri: apakah lidah sudah dijaga dari dusta, apakah janji selalu ditepati, dan apakah amanah dijalankan dengan baik.

Kegiatan yang berlangsung khidmat itu ditutup dengan salat witir berjamaah serta doa bersama yang dipimpin oleh Ustaz Mustaqim. Para jamaah pun meninggalkan masjid dengan hati yang lebih tenang dan semangat baru untuk menjalani sisa Ramadan dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran.

Tausiyah tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia, kejujuran tetap menjadi harta paling berharga yang mampu menjaga kehormatan diri sekaligus memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat. St

You Might Also Like

Realisasikan Program Pembangunan, Mbak Ita Siap Tancap Gas
Hari Pertama Vaksinasi Covid-19 untuk Anak, Ganjar Ikut Dampingi Mereka
Pengusaha Perikanan Sambat Ditagih Setoran, Amal Alghozali Minta Pemerintah Perhatikan Keluhan Nelayan
Berbagi dengan Anak Yatim
Usai Dilantik, Gibran-Teguh Lanjut Cek Persiapan Vaksinasi di Klewer
TAGGED:Ajak Jamaah Menjadikan Kejujurandi Masjid Baitussalam NgaliyanDr Agung Ridlosebagai Benteng KehidupanTausiyah Ramadan
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?