Oleh: Gunoto Saparie
INFLASI, pada mulanya, hanyalah sebuah angka. Ia muncul di layar statistik, dengan dua atau tiga angka di belakang koma, seolah-olah kehidupan dapat diringkas menjadi sesuatu yang begitu rapi.
Tetapi di pasar, inflasi tidak pernah sesederhana itu. Ia adalah selisih yang terasa ketika uang yang sama dibawa pulang dengan belanja yang lebih sedikit.
Di Jawa Tengah, Agustus 2026 mencatat inflasi tahunan sebesar 3,08 persen.
Indeks Harga Konsumen berada pada angka 111,90. Sebulan sebelumnya mungkin angka-angka itu belum berarti banyak bagi seseorang yang tidak bekerja di kantor statistik.
Tetapi bagi ibu yang menghitung harga cabai di pasar, bagi pedagang yang mengatur kembali harga dagangan, atau bagi keluarga yang harus memilih antara menambah lauk dan menghemat pengeluaran, angka itu mempunyai bentuk yang lain.
Ia menjadi daging ayam yang lebih mahal. Cabai rawit yang tiba-tiba terasa seperti barang mewah. Buncis yang harganya bergerak mengikuti cuaca. Bahkan emas perhiasan dan laptop atau notebook ikut memberi warna pada pergerakan harga.
Inflasi, dengan demikian, bukan sekadar perkara ekonomi. Ia adalah cara lain untuk mengatakan bahwa dunia sehari-hari sedang berubah.
Angka 3,08 persen itu juga menyimpan sebuah perbandingan. Pada Agustus 2025, inflasi tahunan Jawa Tengah berada di 2,48 persen. Kini angkanya lebih tinggi. Dalam ukuran bulanan, Agustus 2026 mencatat inflasi 0,37 persen.
Namun angka-angka itu tidak selalu menjelaskan sebabnya dengan segera. Ada cuaca yang tidak dapat diajak berunding. Ada rantai pasok yang panjang. Ada kendaraan yang harus bergerak dari sentra produksi menuju pasar.
Ada jarak antara petani dan konsumen yang kadang-kadang lebih panjang daripada yang terlihat di peta.
Karena itu, mengendalikan inflasi bukan semata-mata pekerjaan untuk menurunkan sebuah angka. Yang harus dikendalikan adalah ketidakpastian yang berada di belakang angka itu.
Di sinilah Tim Pengendali Inflasi Daerah, bersama Bank Indonesia, bekerja. Mereka memantau rantai pasok, memperhatikan ketersediaan barang, dan berusaha memastikan distribusi berjalan tanpa gangguan.
Pekerjaan itu barangkali tidak dramatis. Tidak ada upacara besar ketika sebuah truk berhasil tiba tepat waktu. Tidak ada tepuk tangan ketika pasokan pangan tetap tersedia di pasar. Tetapi ekonomi sering bekerja melalui hal-hal yang nyaris tak terlihat.
Sebuah jalan yang lancar berarti ongkos yang tidak bertambah. Sebuah gudang yang memiliki persediaan berarti harga tidak mudah melonjak.
Sebuah distribusi yang tepat waktu berarti cabai, ayam, atau sayuran dapat sampai kepada pembeli sebelum persoalan lain ikut menambah harganya.
Pemerintah daerah juga menempuh jalan yang lebih langsung: Gerakan Pangan Murah. Program ini dilakukan secara berkala di berbagai wilayah untuk menjaga agar kebutuhan pokok tetap dapat dijangkau.
Ia seperti sebuah jembatan kecil antara harga pasar dan kemampuan membeli masyarakat.
Tetapi kita tahu, jembatan kecil pun mempunyai batas.
Sebab inflasi bukan hanya soal bagaimana pemerintah menahan harga hari ini. Ia juga tentang bagaimana memastikan produksi esok hari cukup, distribusi tetap terbuka, dan masyarakat tidak kehilangan daya beli.
Harga pangan dapat dipengaruhi musim. Harga komoditas dapat berubah karena pasokan. Harga barang tertentu bergerak mengikuti pasar yang bahkan tidak mengenal batas provinsi.
Maka pengendalian inflasi pada akhirnya membutuhkan sesuatu yang lebih panjang daripada sebuah program dan lebih sabar daripada sebuah kebijakan. Ia membutuhkan koordinasi.
Mungkin itulah kata yang paling sederhana, sekaligus paling sulit, dalam perkara ini. Petani memerlukan kepastian. Pedagang memerlukan pasokan. Konsumen memerlukan harga yang terjangkau.
Pemerintah memerlukan data. Dan semua itu harus bertemu pada waktu yang hampir bersamaan.
Inflasi 3,08 persen tidak perlu dibaca sebagai kabar buruk semata. Ia adalah tanda yang perlu diperhatikan. Statistik bukan vonis; ia lebih menyerupai lampu di dashboard kendaraan.
Lampu itu menyala bukan agar kita panik, melainkan agar kita tahu ada sesuatu yang harus diperiksa.
Sebab harga tidak pernah benar-benar diam. Ia bergerak bersama hujan dan kemarau, bersama ongkos angkut dan hasil panen, bersama produksi dan konsumsi, bersama kecemasan dan harapan orang-orang yang setiap hari membuka dompetnya.
Dan mungkin tugas pemerintah bukan membuat harga berhenti bergerak (sebab itu hampir mustahil), melainkan memastikan geraknya tidak menjadi beban yang terlalu berat bagi mereka yang paling sedikit memiliki ruang untuk menghindar.
Bagaimana pun, keberhasilan mengendalikan inflasi bukan hanya akan terbaca dalam laporan statistik. Ia akan terasa di meja makan: ketika uang yang sama masih cukup untuk membeli lauk, ketika harga pangan tidak membuat orang harus terlalu banyak menghitung, dan ketika angka 3,08 persen berhenti menjadi angka yang menakutkan karena kehidupan di belakangnya tetap dapat berjalan.
Di sanalah sebuah angka menemukan maknanya.
*Gunoto Saparie adalah Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah. Jatengdaily.com



