Wajah Ganda Pembangunan Manusia: Refleksi Capaian Kabupaten Tegal 2025

5 Min Read

Oleh : Ana Ittihada

Statistisi Pelaksana BPS Kabupaten Tegal

Di tengah riuh tren media sosial dan dinamika politik nasional yang kerap menyita perhatian publik, terdapat satu indikator yang relatif sunyi namun sangat fundamental sebagai cermin kemajuan suatu daerah, yakni Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Bagi Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Tegal, tahun 2025 membawa kabar baik sekaligus sinyal kewaspadaan yang patut dicermati bersama. IPM yang terus meningkat menunjukkan perbaikan kualitas hidup secara agregat, namun pada saat yang sama mengingatkan bahwa pembangunan manusia perlu dibaca secara kritis dan berbasis data agar kemajuannya benar-benar merata dan berkelanjutan.

Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), IPM Kabupaten Tegal pada tahun 2025 tercatat sebesar 72,36 dan berada pada kategori tinggi (70–80). Angka ini melanjutkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir, meningkat dari 70,42 pada tahun 2022. Perkembangan tersebut mencerminkan proses pemulihan pascapandemi yang patut diapresiasi, sekaligus menunjukkan adanya perbaikan pada dimensi pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat.

Namun, di balik kenaikan angka tersebut, terdapat paradoks atau “wajah ganda” pembangunan manusia yang patut menjadi perhatian bersama. Di satu sisi, indikator agregat menunjukkan kemajuan yang konsisten, tetapi di sisi lain, sejumlah data turunan mengungkap masih adanya tantangan struktural yang belum sepenuhnya teratasi. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa peningkatan IPM perlu dibaca lebih dalam, tidak hanya pada level capaian rata-rata, tetapi juga pada kualitas dan pemerataan hasil pembangunan yang dirasakan masyarakat.

Paradoks Kesehatan: Umur Panjang tapi Rentan Sakit?

Pada dimensi kesehatan, capaian Umur Harapan Hidup (UHH) Kabupaten Tegal tahun 2025 mencapai 74,62 tahun. Artinya, bayi yang lahir pada tahun tersebut diperkirakan dapat hidup hingga usia hampir 75 tahun. Capaian ini mencerminkan keberhasilan layanan kesehatan dalam jangka panjang.

Akan tetapi, kuantitas usia ini dibayangi oleh kualitas kesehatan harian yang justru menurun. Data menunjukkan Angka Kesakitan (morbiditas) meningkat signifikan menjadi 18,29 persen pada 2025, naik dari 15,59 persen di tahun sebelumnya. Ironisnya, perempuan memiliki tingkat kesakitan lebih tinggi (19,53 persen) dibandingkan laki-laki. Fenomena ini mengisyaratkan bahwa meski masyarakat hidup lebih lama, mereka lebih sering mengalami gangguan kesehatan yang mengganggu aktivitas. Selain itu, cakupan imunisasi lengkap pada balita baru mencapai 67,27 persen, menyisakan 3 dari 10 balita yang belum terlindungi sepenuhnya.

Kesenjangan Gender dalam Pendidikan

Pada sektor pendidikan, Harapan Lama Sekolah (HLS) Kabupaten Tegal mencapai 12,97 tahun, yang mencerminkan ekspektasi pendidikan hingga jenjang menengah atas. Namun, realita di lapangan yang tercermin dari Rata-rata Lama Sekolah (RLS) baru menyentuh angka 7,37 tahun, setara dengan kelas 1 atau 2 SMP.

Kesenjangan ini semakin terasa ketika dilihat dari perspektif gender. Pada kelompok umur 16–18 tahun (usia SMA), Angka Partisipasi Sekolah (APS) laki-laki mencapai 78,35 persen, sedangkan perempuan tertinggal jauh di angka 62,18 persen. Selisih lebih dari 16 poin persentase ini menunjukkan adanya kesenjangan akses pendidikan yang signifikan. Perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian anak perempuan berpotensi menghadapi hambatan yang lebih besar untuk melanjutkan pendidikan, baik terkait faktor ekonomi rumah tangga, pilihan menikah di usia muda, maupun pembagian peran domestik. Kondisi ini menjadi catatan penting bagi upaya mewujudkan pendidikan yang inklusif dan setara di Kabupaten Tegal.

Ekonomi dan Tantangan Pengangguran

Dari sisi ekonomi, standar hidup layak yang diukur melalui pengeluaran per kapita yang disesuaikan meningkat menjadi Rp11,498 juta per tahun. Kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) menjadi Rp2,334 juta per bulan turut menopang daya beli masyarakat. Meski demikian, dinamika pasar kerja masih menyisakan tantangan, tercermin dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang mengalami kenaikan tipis dibandingkan tahun sebelumnya, yakni berada pada angka 7,61 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa perbaikan pendapatan belum sepenuhnya diiringi dengan perluasan kesempatan kerja yang merata.

Angka Bukan Akhir

Capaian IPM sebesar 72,36 menempatkan Kabupaten Tegal relatif lebih baik dibandingkan beberapa daerah sekitar seperti Brebes dan Pemalang, meskipun masih berada di bawah rata-rata Provinsi Jawa Tengah yang mencapai 74,77. Fakta ini menunjukkan adanya kemajuan sekaligus ruang perbaikan. Oleh karena itu, narasi besar tentang kemajuan daerah atau visi Indonesia Emas 2045 tidak semestinya berhenti pada selebrasi status IPM “Tinggi”. Pemerintah Kabupaten Tegal perlu memberi perhatian lebih pada detail yang kerap luput dari sorotan, seperti upaya menekan angka kesakitan, menutup celah cakupan imunisasi, serta yang tidak kalah penting yaitu memastikan keberlanjutan pendidikan remaja perempuan agar tidak terhenti sebelum waktunya. Pada akhirnya, pembangunan manusia bukan semata tentang pencapaian angka, melainkan tentang sejauh mana kebijakan mampu memperluas pilihan dan kesempatan hidup bagi seluruh warga, tanpa terkecuali. Jatengdaily.com-st

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.