SEMARANG (Jatengdaily.com) – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Keluarga Besar Marhaenis (KBM) tahun 2026 ini dimaknai secara istimewa oleh Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) KBM Jawa Tengah.
Alih-alih seremoni seremonial, KBM memilih menggelar ziarah ideologi—sebuah perjalanan reflektif menapaki jejak sejarah lahirnya Marhaenisme, ideologi perjuangan yang menjadi asas organisasi.
KBM sendiri lahir di Yogyakarta pada 1 Januari 1999, dengan sejumlah tokoh nasional sebagai penggagasnya, antara lain Dr. H. Roeslan Abdoelgani, Prof. Dr. Teuku Yakob, dan Prof. Dr. Woeryadi.
Memasuki usia ke-27, KBM meneguhkan kembali komitmennya untuk terus menjaga dan menghidupkan nilai-nilai Marhaenisme di tengah dinamika zaman.
Kegiatan ziarah ideologi diawali pada Jumat malam (9/1). Sebanyak 30 fungsionaris DPP KBM Jawa Tengah bertolak menuju Bandung. Rombongan dipimpin langsung oleh Ketua DPP KBM Jateng, dr. Adhi Kuntoro, bersama Sekretaris, dr. Agung Sudarmanto.
Turut serta dalam rombongan tersebut Ketua DP KBM Kota Semarang Drs. Suwarno, MSi, Ketua DP KBM Kabupaten Purbalingga Drs. Supriyono, MSi, serta Ketua DP KBM Kabupaten Karanganyar Djoko Lelono.
Keberangkatan rombongan dari halaman Gedung Panti Marhaen, Jalan Brigjen Katamso No. 24 Semarang, dilepas oleh Pembina DPP KBM Jateng, H Soetjipto, didampingi Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi, Oerip Lestari atau yang akrab disapa Mbak Oe Oel.
Suasana pelepasan berlangsung khidmat, sarat pesan agar perjalanan ini menjadi ruang kontemplasi ideologis bagi para kader.
Selama di Bandung, rombongan dijadwalkan berziarah ke Makam Pak Marhaen di sebuah desa di Bandung Selatan, serta ke makam Ibu Inggit Garnasih, sosok perempuan pejuang yang setia mendampingi Bung Karno dalam masa-masa sulit perjuangan.
Selain itu, para kader Marhaenis juga akan meninjau Gedung Indonesia Menggugat dan Gedung Merdeka, lokasi bersejarah tempat diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika pada April 1955.
Setibanya di Bandung, rombongan DPP KBM Jawa Tengah akan disambut Ketua Umum DPN KBM Prof. Dr. dr. Sudigdo Adi, SpK, bersama Sekretaris Jenderal Joko Sugiarto, ST, MBA, serta jajaran pengurus DPP KBM Jawa Barat.
Menurut H Soetjipto, Bandung memiliki posisi istimewa dalam sejarah perjuangan Bung Karno. Kota ini menyimpan rekam jejak penting Bung Karno, baik sebagai politikus, ideolog, maupun negarawan. Di Bandung pula Bung Karno memperoleh inspirasi lahirnya Marhaenisme—sebuah ideologi perjuangan yang berpihak kepada kaum kecil dan tertindas, serta menjadi dasar gerakan KBM hingga kini.
“Di kota inilah Bung Karno merumuskan siapa itu Marhaen dan siapa itu Marhaenis,” ujar Soetjipto.
Marhaenisme, lanjutnya, bertujuan meniadakan penghisapan dan penindasan manusia atas manusia, maupun bangsa atas bangsa lain. Nilai luhur tersebut menemukan wujud nyatanya dalam penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 yang melahirkan Dasa Sila Bandung.
Melalui ziarah ideologi ini, KBM berharap para kader tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga meneguhkan kembali spirit perjuangan Marhaenisme sebagai pedoman berpikir dan bertindak di tengah tantangan sosial kebangsaan masa kini. St
0



