By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Produksi Padi di Jateng Naik 5,5% pada 2026
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Produksi Padi di Jateng Naik 5,5% pada 2026

Last updated: 9 Januari 2026 05:54 05:54
Jatengdaily.com
Published: 9 Januari 2026 06:10
Share
Ilustrasi. Foto: pixabay.com
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkirakan produksi padi di wilayahnya pada 2026 naik hingga 5,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares menjelaskan, produksi padi Jawa Tengah pada 2025 mencapai 11,36 juta ton GKP (gabah kering panen), atau 9,38 juta ton GKG (Gabah Kering Giling).

“Produksi itu kami perkirakan bisa meningkat 5,5% pada tahun ini,” tuturnya, seusai mengikuti acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan bersama Presiden Prabowo Subiyanto secara daring, di Kantor Gubernur Jawa Tengah,  dilansir dari laman humas prov Jateng Jumat (9/1/2026).

Dikatakan, Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi penyangga pangan nasional. Kontribusinya terhadap kebutuhan pangan nasional sebesar 15% hingga 16%.

“Apa yang disampaikan Pak Presiden tadi capaiannya jelas, kontribusi kita sampai dengan 15%. Bahkan bisa lebih,” jelasnya.

Terkait optimisme pada 2026, Frans menegaskan, capaian tahun ini akan melampui tahun lalu.

“GKP kita pasang di tahun depan sebanyak 12 juta ton. Otomatis ini kalau kita tercapai, bisa lebih tinggi dari Jawa Barat, dan Jawa Timur,” tuturnya.

Frans menambahkan, surplus pangan di wilayahnya tidak hanya pada komoditas padi, sebanyak sembilan komoditas pangan yang menjadi indikator utama mengalami surplus, kecuali kedelai. Komoditas pangan yang menjadi indikator utama meliputi padi, jagung, cabai, bawang, tebu, kelapa, kopi, kakao dan kedelai.

Meski kedelai tidak mengalami surplus, Frans mengatakan, angka produksinya tetap tertinggi di Indonesia.

Frans menyampaikan, kedelai tidak mencapai surplus karena merupakan komoditas yang tidak mudah dikembangkan. Kedelai memerlukan kondisi khusus, antara lain tidak terlalu banyak air, tapi juga tidak boleh kekurangan air.

“Untuk petani yang belum pengalaman, tetap harus ada pendampingan,” lanjutnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin menegaskan, pemerintah Provinsi Jateng berkomitmen mendorong ketahanan pangan nasional. Berbagai upaya dilakukan, agar produksi komoditas padi bisa mencapai target. Antara lain mengalokasikan APBD untuk infrastruktur pertanian dan penguatan kelembagaan petani.

“Kami ingin petani makin sejahtera dan masyarakat bisa menikmati hasil pertanian dengan harga yang baik. Ketahanan pangan tidak bisa dijaga tanpa kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, dan petani,” ucapnya beberapa waktu lalu dilansir dari laman humas prov Jateng. she 

You Might Also Like

Mendagri Tito Karnavian Minta Daerah Pastikan Kelancaran Arus Mudik
Kembali Gelar UKW, PWI – Diskominfo Jateng Dukung Wartawan Kompeten dan Berintegritas
Antologi Puisi ‘Lukisan Bumi’ Diluncurkan di Restoran Lukisan Bumi
Diduga Berafiliasi dengan NII, Pemerintah Pelajari Dugaan Pelanggaran di Ponpes Al-Zaytun
Ganjar Minta Kades dan Perangkatnya Kompak Bangun Desa
TAGGED:Gubernu JatengProduksi Paditaj yasinWakil Gubernur Jawa Tengah
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?