Lansia yang Terus Bekerja: Potret Sunyi Ketahanan Ekonomi di Kabupaten Tegal

5 Min Read

Oleh: Garnis Nevy Fatmawati
Statistisi Pertama BPS Kabupaten Tegal

Di banyak desa di Indonesia, kata lanjut usia belum selalu identik dengan berhenti bekerja. Di Kabupaten Tegal, kenyataan itu hadir nyata dalam keseharian.

Lebih dari separuh penduduk lanjut usia masih bekerja. Bukan karena mereka tak tahu arti beristirahat, melainkan karena hidup tetap menuntut keberlanjutan, untuk menjaga dapur tetap mengepul.

Data menunjukkan sekitar 51,6 persen lansia di Kabupaten Tegal masih aktif bekerja. Meskipun jika dibandingkan dengan angka Provinsi Jawa Tengah yang mencapai 59,04 persen jumlah lansia yang bekerja ini masih lebih rendah akan tetapi angka ini bukan kecil.

Perlu menjadi perhatian penting bagi pemerintah khususnya pemerintah Kabupaten Tegal: masa tua belum sepenuhnya menjadi masa aman secara ekonomi. Bagi banyak lansia, bekerja bukan pilihan gaya hidup, tetapi kebutuhan hidup.

Lansia Bekerja dalam Senyap
Yang menarik, sebagian besar lansia tersebut bekerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sekitar 57,6 persen menggantungkan hidup pada sektor yang mengandalkan tenaga fisik dan sangat bergantung pada cuaca serta kondisi alam.

Ini menandakan dua hal sekaligus. Di satu sisi, lansia masih menjadi penopang penting ketahanan pangan daerah. Di sisi lain, mereka berada pada posisi yang rentan secara kesehatan.

Lebih jauh, pola kerja lansia di Kabupaten Tegal didominasi sektor informal. Sekitar 56,9 persen bekerja sebagai pengusaha sendiri atau dibantu buruh tidak tetap dan anggota keluarga.

Pola ini mencerminkan kemandirian, tetapi juga menyiratkan absennya jaring pengaman. Tidak ada jam kerja yang jelas, tidak ada jaminan kecelakaan kerja, dan sering kali tidak ada kepastian pendapatan.

Yang kerap luput disadari, sebagian besar lansia ini bekerja dengan jam kerja yang tidak ringan. Sekitar 60 persen lansia bekerja minimal 35 jam per minggu. Artinya, mereka bekerja hampir setara dengan pekerja usia produktif.

Di usia yang seharusnya lebih banyak diisi dengan istirahat dan perawatan kesehatan, tekanan ekonomi justru menuntut produktivitas tinggi.

Akar persoalan ini salah satunya terletak pada pendidikan. Lebih dari 90 persen lansia di Kabupaten Tegal hanya berpendidikan SD atau lebih rendah.

Dengan bekal pendidikan terbatas, pilihan pekerjaan di masa tua juga menjadi sempit. Lansia akhirnya bertahan di sektor yang mereka kenal sejak muda dengan bertani, melaut, atau berdagang kecil-kecilan meski fisik tak lagi sekuat dulu.

Namun, melihat lansia hanya sebagai kelompok rentan juga tidak sepenuhnya tepat. Data ini juga berbicara tentang daya tahan dan etos kerja.

Di tengah keterbatasan, lansia di Kabupaten Tegal tetap berkontribusi bagi ekonomi keluarga dan daerah. Mereka bukan beban, melainkan aktor ekonomi yang bekerja dalam senyap.

Masalahnya, negara dan masyarakat sering kali terlambat hadir. Bekerja di usia lanjut seharusnya menjadi pilihan sadar, bukan keterpaksaan. Ketika lansia terus bekerja karena tidak ada alternatif penghasilan yang aman, di situlah persoalan sosial mulai mengemuka.

Pembangunan Ramah Lansia
Kabupaten Tegal sebenarnya mencerminkan wajah Indonesia yang lebih luas. Indonesia sedang bergerak menuju struktur penduduk menua.

Bonus demografi perlahan menipis, dan jumlah lansia akan terus meningkat. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa perencanaan matang, kita akan menghadapi generasi lansia yang panjang umur, tetapi rapuh secara ekonomi.

Kebijakan publik perlu bergeser dari sekadar bantuan sesaat menuju perlindungan jangka panjang. Jaminan sosial lansia perlu diperkuat agar tekanan ekonomi tidak sepenuhnya dipikul di usia senja.

Di sisi lain, perlu dikembangkan pekerjaan ramah lansia yaitu pekerjaan yang lebih fleksibel, tidak menuntut fisik berat, dan berbasis komunitas lokal.

Penting pula menyiapkan generasi pra-lansia sejak sekarang. Literasi keuangan, kesehatan, dan perencanaan hari tua harus menjadi bagian dari pembangunan manusia, bukan urusan pribadi semata. Masa tua yang layak tidak bisa dibangun mendadak ketika usia sudah senja.

Data lansia Kabupaten Tegal mengajarkan satu hal penting: penuaan bukan sekadar urusan umur, tetapi soal kesiapan sistem. Selama lansia masih harus bekerja keras demi bertahan hidup, selama itu pula kita perlu bertanya, sudahkah pembangunan benar-benar memberi rasa aman hingga usia terakhir?

Mungkin, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya seberapa produktif usia mudanya, tetapi seberapa bermartabat kehidupan mereka yang menua. Jatengdaily.com-St

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.