Petani Tanpa Penerus: Alarm Bagi Ketahanan Pangan Indonesia

6 Min Read

Oleh: Adibatul Hasanah
Statistisi Muda BPS Kabupaten Tegal

ISU rendahnya minat generasi milenial terhadap sektor pertanian sering kali dipersepsikan sebagai persoalan pilihan karier. Bagi anak muda, pertanian dianggap pekerjaan kurang menarik dan kurang kurang prestisius.

Coba saja kita ajukan pertanyaan sederhana kepada anak-anak muda hari ini: “Apa cita-citamu?” Jawaban yang muncul hampir selalu berputar pada profesi-profesi yang dianggap modern dan bergengsi.

Sangat jarang, bahkan nyaris tidak terdengar, ada yang dengan mantap menjawab bahwa ia bercita-cita menjadi petani. Bukan karena pertanian tidak penting, melainkan karena sejak awal sektor ini tidak hadir sebagai imajinasi masa depan yang menjanjikan.

Pertanian lebih sering dipersepsikan sebagai pekerjaan keras, berpenghasilan rendah, penuh risiko, dan minim prestise sosial. Narasi ini membentuk jarak psikologis antara generasi muda dan sawah, jauh sebelum mereka benar-benar mengenal dunia pertanian itu sendiri.

Kondisi ini jika ditarik lebih dalam, persoalan ini sesungguhnya menyentuh jantung ketahanan pangan nasional. Di tengah kebutuhan pangan yang terus meningkat, fondasi produksi justru menghadapi tekanan dari sisi regenerasi pelaku usahanya.

Regenerasi Petani Terancam

Hasil pendataan Sensus Pertanian 2023 (ST2023) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan sinyal yang tidak bisa diabaikan. Jumlah rumah tangga usaha tanaman pangan (padi dan palawija) tercatat menurun 12,28 persen dari 17,73 juta rumah tangga di 2013 menjadi 15,55 juta rumah tangga di 2023.

Penurunan ini bukan sekadar perubahan struktur ekonomi pedesaan, melainkan indikasi melemahnya basis produksi pangan nasional di tengah konsumsi pangan pokok yang masih sangat bergantung pada beras dan palawija.

Di tengah penyusutan jumlah rumah tangga usaha tanaman pangan, komposisi usia petani menunjukkan kecenderungan semakin menua. Lebih dari 66 persen pengelola usaha pertanian perorangan berusia 45 tahun ke atas, sementara banyaknya generasi milenial yang berusia 19-39 tahun masih terbatas.

Secara nasional, jumlah petani milenial hanya sekitar 6,18 juta orang atau 21,93 persen dari total petani nasional, dan dari jumlah tersebut hanya 2,60 juta yang memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan usaha taninya.

Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional, persentase petani milenial hanya sekitar 14,86 persen dari total petani di Jawa Tengah. Kondisi ini menciptakan jurang regenerasi yang berisiko bagi keberlanjutan produksi pangan dalam jangka menengah dan panjang.

Pangan Tanpa Daya Tarik

Penuaan petani bukan sekadar persoalan demografi, tetapi akan berdampak langsung pada produktivitas dan kemampuan adaptasi.

Petani berusia lanjut cenderung lebih was-was dalam mengadopsi inovasi bukan karena enggan berubah melainkan karena keterbatasan akses terhadap modal, teknologi, dan informasi.

Di sisi lain, generasi milenial yang relatif lebih adaptif justru melihat pertanian sebagai sektor yang kurang menjanjikan secara ekonomi dan sosial.
Situasi ini menjadi semakin krusial ketika dikaitkan dengan target swasembada pangan.

Produksi padi nasional memang menunjukkan peningkatan namun pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya memperlihatkan bahwa produksi padi sangat rentan terhadap fluktuasi iklim, pergeseran musim tanam, serta tekanan alih fungsi lahan.

Dibandingkan tahun 2019, luas baku lahan sawah nasional pada 2024 tercatat lebih kecil, terutama akibat konversi lahan di wilayah. Padahal, konsumsi beras per kapita penduduk Indonesia masih berada di kisaran 77 kilogram per tahun yang mencerminkan kebutuhan beras yang tetap tinggi. Indikator kesejahteraan petani memberikan konteks penting dalam membaca daya tarik sektor pertanian.

Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan sepanjang Januari–Desember 2025 tercatat sebesar 110,92, meningkat tipis dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar 110,45. Kenaikan angka ini merupakan sebuah capaian yang patut diapresiasi di tengah tekanan inflasi input dan ketidakpastian iklim.

Namun, stabilitas NTP di kisaran tersebut sekaligus mengungkap keterbatasan struktural sektor tanaman pangan bahwa peningkatan kesejahteraan petani berlangsung lambat dan belum mencerminkan penguatan posisi ekonomi yang signifikan.

NTP yang relatif aman tidak serta-merta berarti usaha tani memberikan pendapatan yang memadai. Bagi banyak petani khususnya skala kecil, surplus yang dihasilkan masih sangat tipis dan rentan tergerus oleh fluktuasi harga, gagal panen, atau kenaikan ongkos produksi.

Dalam situasi seperti ini, bertani lebih berfungsi sebagai mekanisme bertahan hidup ketimbang sebagai kegiatan ekonomi yang menjanjikan.

Perspektif ini menjadi semakin relevan ketika dilihat dari sudut pandang generasi milenial, yang cenderung menilai pilihan kerja berdasarkan kepastian pendapatan dan kejelasan jenjang ekonomi jangka panjang.

Reposisi Pertanian Masa Depan

Di titik inilah tantangan regenerasi petani menjadi semakin nyata. Ketertarikan generasi muda terhadap pertanian tidak dapat dibangun semata-mata melalui narasi ajakan. Pertanian perlu direposisi sebagai sektor usaha modern yang adaptif terhadap teknologi dan mampu menawarkan prospek peningkatan kesejahteraan yang terukur.

Penguatan pendidikan dan pelatihan berbasis praktik termasuk pemanfaatan teknologi digital dan mekanisasi juga perlu diperluas agar pertanian menjadi arena belajar yang relevan bagi generasi muda.

Dengan pendekatan yang adaptif dan inklusif, regenerasi petani tidak hanya menjadi solusi atas krisis demografi, tetapi juga pintu masuk bagi transformasi pertanian Indonesia menuju sistem pangan yang lebih produktif, berkelanjutan, dan tangguh menghadapi tantangan masa depan. Jatengdaily.com-St

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.