By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Diburu Jelang Maghrib, Jamu Coro Legendaris Demak Laris Manis
Share
Font ResizerAa
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Diburu Jelang Maghrib, Jamu Coro Legendaris Demak Laris Manis

Jatengdaily.com
Published: 24 Februari 2026 15:58
Share
Jamu Coro, takjil paling diburu menjelang bukan puasa di Demak. Foto : sari jati
SHARE

DEMAK (Jatengdaily.com)– Menjelang waktu berbuka puasa, kawasan Jalan Bhayangkara, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, selalu dipadati warga yang berburu takjil. Di tengah ramainya pedagang modern dengan aneka minuman kekinian, satu minuman tradisional justru mencuri perhatian: jamu coro, minuman rempah legendaris khas Demak.

Lapak sederhana di sekitar Jembatan Bhayangkara atau Jembatan Kali Tuntang menjadi titik kumpul para pencinta jamu coro. Aroma jahe dan merica yang menguar dari panci besar seolah menjadi penanda bahwa waktu berbuka kian dekat. Tak sedikit warga yang rela antre demi mendapatkan segelas minuman hangat tersebut.

Jamu coro diyakini telah ada sejak masa Kerajaan Demak dan dahulu dipercaya sebagai minuman para bangsawan. Kini, meski zaman telah berubah, minuman tradisional ini tetap bertahan dan bahkan menjadi incaran utama saat Ramadan. Harga yang ramah di kantong, Rp3.000 hingga Rp4.000 per porsi, membuatnya semakin diminati berbagai kalangan.

Perpaduan rempah-rempah seperti jahe dan merica menghadirkan rasa hangat yang khas. Sensasi pedas-manisnya dianggap pas untuk membatalkan puasa setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Selain menghangatkan tubuh, jamu coro juga dipercaya mampu mengembalikan stamina.

Salah satu pembeli, Dwi Teguh, mengaku rutin membeli jamu coro setiap Ramadan. Menurutnya, cita rasa tradisionalnya sulit tergantikan oleh minuman modern.

“Kalau Ramadan rasanya belum lengkap tanpa jamu coro. Badan langsung terasa hangat dan segar lagi,” katanya, Selasa (24/02/2026).

Di balik ramainya pembeli, ada Latif yang setia menjaga resep warisan keluarganya. Ia menuturkan usaha tersebut sudah dirintis sejak zaman neneknya dan terus dilestarikan hingga kini. “Ini usaha turun-temurun dari nenek. Resepnya tetap sama, kami jaga keasliannya,” ujarnya.

Selama bulan Ramadan, Latif mulai berjualan pukul 14.30 WIB hingga menjelang Maghrib. Dalam sehari, ia mampu menjual ratusan porsi. “Alhamdulillah, tiap hari bisa habis ratusan gelas. Banyak pelanggan lama yang selalu kembali,” ungkapnya.

Keberadaan jamu coro di tengah gempuran minuman kekinian menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum untuk merawat warisan budaya agar tetap lestari di tanah Demak. rie-she

You Might Also Like

Pasar Rakyat Grebeg Besar Demak Resmi Dibuka
Zona Hijau Tingkat RT Meningkat di Atas 600 Persen
Debut Manis Ragnar Oratmangoen dan Thom Haye Kalahkan Vietnam
Cegah Peredaran Rokok Ilegal, Pemkot Salatiga dan Bea Cukai Gandeng Perusahaan Jasa Penitipan
Tinjau Kesiapan Mudik, Sekda Minta Rest Area KM 360B Gondang, Batang Segera Selesai
TAGGED:Jamu Corotakjil
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?