Iring-iringan Tumpeng 9 Grebeg Besar Demak, Simbol Dakwah Warisan Walisongo Serta Bersatunya Pemimpin dan Rakyat

3 Min Read
Bupati Demak dr Hj Eisti'anah didampingi Suami, dr Moh Zaky Maardi, Wabup KH Muhammad Badruddin, Sekda H Akhmad Sugiharto dan Forkompimda saat memimpin iring-iringan Tumpeng 9 dalam Tradisi Grebeg Besar Demak 1447 H. Foto : sari jati

DEMAK (Jatengdaily.com) – Tradisi iring-iringan Tumpeng 9 kembali menjadi daya tarik utama dalam rangkaian Grebeg Besar Demak 1447 Hijriah.

Ribuan warga memadati sepanjang jalan dari Pendapa Satya Bhakti Praja menuju serambi Masjid Agung Demak, Selasa (26/05/2026) malam.

Suasana sakral berpadu semarak budaya saat sembilan tumpeng dan gunungan hasil bumi diarak dari Pendapa Kabupaten Demak bersama pembawa manggar menuju lokasi pasrah tampi atau serah terima di serambi Masjid Agung Demak.

Tumpeng 9 sendiri memiliki makna mendalam dalam sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa.

Angka sembilan melambangkan Walisongo yang dikenal menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan damai melalui seni dan budaya masyarakat.

Filosofi tersebut hingga kini masih dijaga sebagai simbol persatuan, kesempurnaan, dan kuatnya nilai dakwah Islam di Demak.

Selain itu, bentuk tumpeng yang mengerucut ke atas menggambarkan hubungan manusia dengan Allah SWT.

Sementara gunungan hasil bumi menjadi lambang rasa syukur masyarakat atas kemakmuran, kesejahteraan, dan kehidupan harmonis yang terus diharapkan hadir di tengah masyarakat Demak.

Bupati Demak dr Hj Eisti’anah SE mengatakan, malam puncak Grebeg Besar tahun ini menjadi momentum istimewa untuk menjaga tradisi warisan leluhur. Menurutnya, Grebeg Besar bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga bentuk penghormatan kepada ulama dan penyebar Islam di Nusantara.

“Malam ini merupakan momen istimewa karena kita merayakan puncak tradisi budaya Grebeg Besar Demak 1447 Hijriah. Tradisi ini sudah mengakar dan menjadi bagian penting sejarah berdirinya Kabupaten Demak sebagai wujud syukur nikmat kepada Allah SWT, sekaligus penghormatan kepada para leluhur dan ulama yang telah berjasa menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa,” ungkap Eisti’anah.

Ia menambahkan, sembilan tumpeng yang diarak memiliki pesan keteladanan dari Walisongo. “Sembilan menyimbolkan Walisongo dengan kebijaksanaan, keteladanan, dan kelembutan hati dalam menyebarkan ajaran Islam secara damai di Nusantara. Mohon doa semoga tradisi adiluhung ini bisa menjadi pengingat untuk menjaga warisan budaya dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Demak Endah Cahya Rini menjelaskan bahwa tumpeng melambangkan harapan masyarakat kepada Sang Pencipta agar kehidupan semakin baik.

“Di dalam tumpeng terdapat aneka makanan yang diharapkan membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat. Sedangkan benang merah Grebeg Besar dan Tumpeng Songo berasal dari syiar Sunan Kalijaga dan Walisongo di Demak. Grebeg berarti ramai-ramai di depan Masjid Agung Demak, sedangkan sembilan tumpeng menjadi simbol Walisongo yang mengajarkan Islam melalui seni dan budaya agar masyarakat tertarik datang ke masjid,” pungkasnya. rie-she

Share This Article