Oleh: apt. Riza Maulana, M.Pharm.Sci.
Dosen Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
“Sudah minum vitamin hari ini?”
Pertanyaan tersebut kini semakin akrab di telinga kita. Di media sosial, tidak sulit menemukan orang yang membagikan rutinitas mengonsumsi berbagai jenis vitamin setiap pagi. Iklan di televisi, internet, hingga toko daring juga berlomba-lomba menawarkan suplemen yang diklaim mampu meningkatkan daya tahan tubuh, membuat tubuh lebih bugar, mempercantik kulit, bahkan memperlambat penuaan. Akibatnya, muncul anggapan bahwa semakin banyak vitamin yang dikonsumsi, semakin sehat pula tubuh seseorang.
Namun, benarkah semua orang membutuhkan vitamin setiap hari?
Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Vitamin memang merupakan zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh agar berbagai organ dapat bekerja dengan baik.
Tanpa vitamin, tubuh akan kesulitan menjalankan berbagai proses penting, mulai dari menghasilkan energi, menjaga sistem kekebalan tubuh, memperbaiki jaringan, hingga mendukung kesehatan tulang dan mata. Akan tetapi, kebutuhan vitamin tidak selalu berarti harus dipenuhi melalui suplemen.
Tubuh manusia pada dasarnya dirancang untuk memperoleh vitamin dari makanan. Sepiring makanan yang berisi sayuran, buah-buahan, sumber protein, biji-bijian, dan lemak sehat sudah mengandung beragam vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh. Misalnya, jeruk dan jambu biji kaya akan vitamin C, wortel mengandung vitamin A, ikan dan telur merupakan sumber vitamin D, sedangkan kacang-kacangan dan biji-bijian mengandung vitamin B kompleks dan vitamin E.
Sayangnya, banyak orang lebih memilih membeli sebotol vitamin daripada memperbaiki pola makan. Alasannya beragam. Ada yang merasa lebih praktis, ada yang sibuk bekerja sehingga jarang mengonsumsi makanan bergizi, dan ada pula yang percaya bahwa suplemen mampu “menutupi” kebiasaan hidup yang kurang sehat. Padahal, suplemen bukanlah pengganti makanan.
Bayangkan tubuh seperti sebuah rumah. Makanan bergizi adalah bahan bangunan utama yang menyusun dinding, atap, dan fondasi rumah tersebut. Sementara itu, vitamin ibarat alat bantu yang memastikan proses pembangunan berjalan dengan baik. Jika bahan bangunannya tidak tersedia, sebanyak apa pun alat yang digunakan, rumah tetap tidak akan berdiri dengan kokoh. Begitu pula dengan tubuh kita. Vitamin tidak dapat menggantikan manfaat pola makan yang seimbang.
Lalu, mengapa banyak orang tetap merasa perlu mengonsumsi vitamin setiap hari? Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran mudah sakit. Sejak pandemi COVID-19, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga daya tahan tubuh memang meningkat. Hal ini merupakan perkembangan yang positif. Namun, di sisi lain, muncul kebiasaan mengonsumsi berbagai jenis vitamin tanpa mengetahui apakah tubuh benar-benar membutuhkannya.
Padahal, tidak semua orang memerlukan suplemen vitamin. Seseorang yang sehat, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidur cukup, dan rutin beraktivitas fisik umumnya telah memperoleh vitamin dalam jumlah yang mencukupi dari makanan sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, tambahan vitamin belum tentu memberikan manfaat yang berarti.
Bukan berarti suplemen vitamin tidak berguna. Pada kondisi tertentu, suplemen justru sangat penting. Ibu hamil memerlukan asupan asam folat untuk mendukung perkembangan janin.
Bayi dan anak pada kelompok tertentu mungkin membutuhkan vitamin sesuai anjuran tenaga kesehatan. Lansia berisiko mengalami kekurangan vitamin D dan kalsium karena perubahan proses metabolisme.
Begitu pula seseorang yang memiliki penyakit tertentu, menjalani pola makan yang sangat terbatas, atau mengalami kekurangan vitamin berdasarkan hasil pemeriksaan. Dalam situasi seperti ini, suplemen dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh yang tidak dapat dipenuhi hanya melalui makanan.
Kesalahan yang sering terjadi adalah anggapan bahwa vitamin pasti aman karena dijual bebas. Faktanya, mengonsumsi vitamin secara berlebihan juga dapat menimbulkan masalah kesehatan. Vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan vitamin B, memang sebagian besar akan dikeluarkan melalui urine apabila jumlahnya berlebih.
Namun, konsumsi dalam dosis tinggi tetap dapat menyebabkan gangguan tertentu, misalnya keluhan pada saluran cerna atau meningkatkan risiko batu ginjal pada orang yang rentan.
Sementara itu, vitamin yang larut dalam lemak, yaitu vitamin A, D, E, dan K, dapat disimpan di dalam tubuh. Jika dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka waktu lama, vitamin tersebut dapat menumpuk dan menimbulkan efek yang merugikan, seperti gangguan pada hati, tulang, maupun organ lainnya.
Fenomena lain yang semakin sering dijumpai adalah kebiasaan mengonsumsi beberapa produk sekaligus. Misalnya, seseorang meminum multivitamin setiap pagi, kemudian masih menambahkan vitamin C dosis tinggi, vitamin D, zinc, minyak ikan, dan berbagai suplemen lainnya.
Tanpa disadari, beberapa produk tersebut mengandung zat gizi yang sama sehingga jumlah yang masuk ke dalam tubuh bisa melebihi kebutuhan.
Jadi, benarkah semua orang membutuhkan vitamin setiap hari? Jawabannya adalah tidak selalu. Yang dibutuhkan setiap hari bukanlah suplemen, melainkan kebiasaan hidup sehat dan pola makan bergizi yang dilakukan secara konsisten.
Jika tubuh memperoleh gizi yang cukup dari makanan dan tidak memiliki kondisi khusus, vitamin tambahan mungkin tidak diperlukan.
Sebaliknya, bila memang ada kebutuhan tertentu, gunakanlah vitamin secara bijak dan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Sebab, keputusan terbaik dalam menjaga kesehatan bukanlah mengikuti tren, melainkan memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh. **

