By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Ikhtiar Medis Regeneratif: Menjemput Takdir Seluler Menuju Umur Panjang yang Berkah
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
NewsPendidikanSorot

Ikhtiar Medis Regeneratif: Menjemput Takdir Seluler Menuju Umur Panjang yang Berkah

Last updated: 13 Juli 2026 13:17 13:17
Jatengdaily.com
Published: 13 Juli 2026 13:15
Share
SHARE

Oleh: dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., FISQUA

Di dalam khazanah spiritual Jawa, terdapat sebuah kesadaran mendalam yang berbunyi: “Terkadang Allah sembunyikan sesuatu ingkang sangat panjenengan inginkan, keranten Allah bade maringi ingkang langkung manfaat kagem manah, langkung sae kagem akhirat, dan langkung indah kagem gesang.”

Untaian hikmah ini kerap dipahami secara pasif sebagai obat penawar lara saat manusia menghadapi kegagalan. Namun, jika ditarik ke dalam cakrawala sains modern—khususnya dunia kedokteran anti-penuaan (anti-aging), regeneratif, dan umur panjang (longevity)—kalimat tersebut sesungguhnya adalah cetak biru ilmiah tentang bagaimana tubuh manusia bertahan hidup.

Seluruh ikhtiar manusia dalam terapi kesehatan hari ini, mulai dari tingkat makro seperti menjaga keutuhan organ, memulihkan jaringan, hingga memanipulasi aktivitas sel, tidak lain adalah upaya menerjemahkan mekanisme “penyembunyian” dan “penahanan” tersebut demi mencapai kualitas hidup yang paripurna.

Dalam perspektif biologi seluler modern, penuaan (aging) bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan akumulasi dari ketidakmampuan sel dalam mengelola stres lingkungan. Ketika kita melakukan terapi anti-aging, kita sebenarnya sedang meniru keputusan ilahi yang ada pada sistem pertahanan sel kita. Ambil contoh teknologi kedokteran regeneratif terkini, seperti terapi sel punca (stem cell) atau aktivasi proses autofagi (proses sel mendaur ulang dirinya sendiri).

Saat tubuh menahan atau “menyembunyikan” nutrisi melalui metode seperti intermittent fasting (puasa intermiten), sel-sel tubuh tidak mati. Sebaliknya, sel masuk ke dalam mode hemat energi, membersihkan protein beracun, dan memperbaiki DNA yang rusak. Penahanan ini, secara filosofis dan biologis, adalah bentuk penundaan demi hasil yang langkung manfaat—sebuah restorasi seluler agar organ tidak mengalami kerusakan dini.

Bergerak lebih dalam ke tingkat jaringan dan organ, ikhtiar terapi regeneratif bertujuan untuk membalikkan jam biologis kerusakan. Ketika sebuah organ mengalami degenerasi, pengobatan modern tidak lagi sekadar menambal gejala, melainkan memicu sinyal seluler agar jaringan tersebut mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Ikhtiar medis ini selaras dengan konsep teleologis (tujuan akhir) dalam filsafat Islam. Manusia diwajibkan berikhtiar menjaga jasadnya karena tubuh adalah amanah yang dipersiapkan untuk perjalanan panjang.

Umur panjang yang berkualitas (longevity) bukan sekadar tentang menolak tua demi kesenangan duniawi yang fana, melainkan tentang memperpanjang masa produktivitas beribadah dan menebar manfaat, menjadikannya langkung sae kagem akhirat.

Pada akhirnya, kedokteran anti-aging dan longevity bukanlah sebuah pembangkangan terhadap takdir tak terelakkan bernama penuaan. Ia adalah upaya membaca tanda-tanda kebesaran-Nya yang tertulis di dalam triliunan sel tubuh kita.

Setiap kali ilmuwan berhasil merekayasa genetika sel agar terhindar dari kanker, atau setiap kali seorang dokter berhasil memulihkan fungsi organ yang menua, mereka sedang menyingkap tirai “sesuatu yang tersembunyi” untuk menghadirkan kehidupan yang langkung indah kagem gesang. Melalui harmoni antara kepasrahan spiritual dan agresivitas ikhtiar medis di tingkat seluler inilah, manusia modern dapat menjemput takdir kesehatannya yang terbaik. ***

Penulis: Pemerhati Studi Islam Kedokteran & Sufistik Seluler, Ketua Umum PP Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unissula Semarang

You Might Also Like

Latihan Perdana PSIS di Stadion Citarum Dipadati Penonton
Perlancar Vaksinasi Gotong Royong, Indonesia Terima 1 Juta Dosis Vaksin Sinopharm
Presiden Perintahkan TNI dan Polri Kejar Anggota KKB di Papua
Banyak Timba Pengalaman dari Olimpiade Tokyo 2020, Vidya Optimis Hadapi Paris 2024
Pelanggan Kereta Api Jarak Jauh dan Lokal Diperbolehkan Tidak Menggunakan Masker
TAGGED:Agus Ujianto
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?