By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Asmariah dan Sebuah Rumah Bernama Buku
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
PendidikanSeni Budaya

Asmariah dan Sebuah Rumah Bernama Buku

Last updated: 2 September 2026 10:55 10:55
Jatengdaily.com
Published: 2 September 2026 10:55
Share
Asmariah
SHARE

YOGYA (Jatengdaily.com) – Ada rumah-rumah yang dibangun dari bata. Ada pula yang, entah bagaimana, dibangun dari kata-kata.

Di Temon, Pandowoharjo, Sleman, ada sebuah tempat yang mungkin tidak tampak istimewa jika dilihat dari kejauhan. Tidak ada kemegahan perpustakaan kota di sana.

Tidak ada arsitektur yang ingin mengesankan siapa pun. Tetapi di tempat itu buku-buku dikumpulkan, anak-anak datang, dan percakapan tentang bacaan berlangsung. Tempat itu bernama Taman Baca Temon.

Dan di baliknya ada seorang perempuan bernama Asmariah.

Asmariah lahir di Serang, Banten, 21 Agustus 1977, dan kemudian menetap di Sleman, Yogyakarta. Dalam kesehariannya ia bekerja, menulis puisi, dan menjadi pegiat literasi.

Ia adalah pendiri sekaligus Ketua Taman Baca Temon. Sebuah pekerjaan yang barangkali terdengar sederhana, sampai kita bertanya: apa sebenarnya arti sebuah taman baca di tengah zaman ketika hampir setiap anak membawa perpustakaan sekaligus bioskop di dalam telepon genggamnya?

Pertanyaan itu penting.

Sebab bagi Asmariah, persoalannya bukan sekadar apakah anak-anak membaca atau tidak membaca. Persoalannya adalah apa yang mereka baca, dari mana mereka memperoleh bacaan, dan apakah di sekitar mereka tersedia ruang untuk bertemu dengan buku.

Teknologi telah membuat informasi menjadi murah dan nyaris tak berbatas. Tetapi murah tidak selalu berarti mudah. Banyak hal tersedia di layar, tetapi tidak semua yang tersedia layak menjadi pengetahuan.

Di desa, kata Asmariah, fasilitas dan kegiatan literasi yang menunjang pendidikan masih dirasakan kurang. Karena itu Taman Baca Temon didirikan dengan dukungan warga sebagai ruang untuk membina dan mengembangkan kreativitas anak-anak sekaligus mengurangi ketergantungan mereka pada gawai.

Barangkali di situlah makna sebuah taman baca.

Ia bukan hanya tempat buku disimpan. Ia adalah tempat perhatian dipelihara.

Sebab membaca, pada akhirnya, bukan sekadar kegiatan memindahkan huruf ke dalam kepala. Membaca membutuhkan waktu. Membutuhkan kesunyian. Membutuhkan seseorang yang mengatakan kepada seorang anak: mari, kita lihat halaman ini.

Asmariah sendiri menemukan kembali kedekatannya dengan puisi justru melalui anak-anak. Ia menyukai puisi sejak sekolah menengah, meski sempat tidak terlalu aktif menekuninya. Kemudian anak-anak yang datang ke taman baca sering bertanya tentang tugas menulis puisi. Dari pertanyaan-pertanyaan kecil itulah dunia puisi seperti mengetuk kembali pintunya.

Ada sesuatu yang menarik dalam kisah itu.

Kadang-kadang guru bukan orang yang berdiri di depan kelas. Kadang ia adalah orang yang didatangi seorang anak dengan pertanyaan sederhana. Dan dari pertanyaan itu, orang dewasa pun belajar lagi.

Asmariah kemudian menulis. Puisinya masuk ke berbagai antologi bersama penyair dari Indonesia dan luar negeri. Ia memenangkan lomba cipta puisi “Melayu dalam Kemerdekaan” pada 2021 dan lomba cipta puisi Imlek pada 2022. Ia juga menerbitkan buku puisi Berangkatlah Kata-Kata pada 2022, Perempuan Penabuh Subuh (2023), dan Jejak Waktu Percakapan Sunyi (2024).

Pada 21–28 Juni 2026 ia mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara di Aceh yang dihadiri oleh 228 penyair, sastrawan, budayawan, dan pegiat literasi dari berbagai daerah di Indonesia serta 14 negara sahabat. Bupati Sleman Harda Kiswaya mengapresiasi dengan memfasilitasi keberangkatannya.

Namun mungkin yang lebih penting daripada daftar buku dan kegiatannya itu adalah hubungan antara puisi dan taman baca. Keduanya sama-sama berangkat dari keyakinan bahwa kata-kata masih mempunyai daya.

Di zaman ketika kalimat dapat dibuat dalam hitungan detik dan dilupakan dalam hitungan detik pula, mempertemukan seorang anak dengan sebuah buku adalah pekerjaan yang diam-diam melawan arus. Tidak heroik. Tidak gaduh. Tetapi justru karena itu ia penting.

Asmariah juga terlibat dalam jejaring literasi yang lebih luas. Baginya, berjejaring merupakan bagian penting dari kegiatan literasi. Buku-buku yang sampai ke Taman Baca Temon antara lain berasal dari donasi berbagai pihak. Ia juga menyuarakan pentingnya akses terhadap bahan bacaan dan mendukung gagasan pengiriman buku dengan biaya seminimal mungkin, bahkan gratis, melalui gerakan Free Cargo Literacy.

Mungkin kita terlalu sering membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang besar: kebijakan, gedung, anggaran, program nasional. Padahal perubahan kadang dimulai dari sebuah meja yang dipenuhi buku.

Dari seorang perempuan yang mau menjaga pintu tetap terbuka. Dari seorang anak yang datang karena ingin membaca. Dan dari pertanyaan kecil: “Bu Asma, ini puisinya bagaimana?”

Asmariah yang aktif di Satupena Daerah Istimewa Yogyakarta ini menjawab pertanyaan itu bukan hanya dengan kata-kata. Ia menjawabnya dengan sebuah ruang. Sebuah ruang bernama Taman Baca Temon.

Di sana, buku-buku mungkin tidak mengubah dunia dalam sehari. Tetapi sebuah buku dapat mengubah cara seorang anak melihat dunia. Dan mungkin, untuk sebuah permulaan, itu sudah cukup.

Sebab masa depan tidak selalu datang dengan bunyi yang keras. Kadang-kadang ia datang pelan-pelan. Dalam bentuk seorang anak yang membuka buku dan membacanya. (G).

You Might Also Like

Dosen USM dan Tim Peneliti BRIN Kolaborasi Riset Kegiatan Usaha Pertambangan Nikel di Kabupaten Kolaka
Tim PkM USM Beri Pelatihan LaTeX
FTP Untag Semarang Kunjungi Industri PT Nissin Biscuit
Jajaki Kerja Sama, Rektor Universitas Pancasila Kunjungi USM
Gerakan Santri Menulis Dukung Kemampuan Literasi Pelajar
TAGGED:AsmaraBernama Bukudan Sebuah Rumah
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?