SEMARANG (Jatengdaily.com)— Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi fase penting yang menjadi fondasi bagi tumbuh kembang anak. Pada masa tersebut, pemenuhan nutrisi, perhatian terhadap kesehatan, serta pemantauan perkembangan anak menjadi hal yang perlu diperhatikan orang tua.Dokter spesialis anak dr. Hendra Wardhana, Sp.A., mengatakan perkembangan anak perlu dipantau sejak dini, terutama pada masa-masa awal kehidupannya. Orang tua perlu peka terhadap tahapan perkembangan sesuai usia anak.
“Perkembangan anak itu sangat penting, apalagi pada 1.000 hari pertama kehidupan. Misalnya, pada usia lima atau enam bulan ketika anak dipanggil, seharusnya sudah mampu menoleh,” katanya.
Menurutnya, pemantauan tumbuh kembang anak tidak hanya berkaitan dengan berat dan tinggi badan, tetapi juga perkembangan kemampuan motorik, respons, komunikasi, dan berbagai aspek lainnya.

Namun, derasnya informasi mengenai pengasuhan anak, termasuk berbagai mitos yang berkembang di masyarakat, tidak jarang membuat orang tua ragu dalam menentukan langkah yang tepat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan menjaga kesehatan buah hati.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Early Life Nutrition (ELN) 2026: Next Gen(re)parenting, Masa Depan Dimulai Sekarang yang digelar Morinaga di Pandanaran Ballroom 3, Padma Hotel Semarang, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan sebuah inisiatif edukatif dan interaktif yang dirancang untuk mendampingi orang tua dalam memahami berbagai kebutuhan anak pada tahap awal kehidupan.
ELN 2026 mempertemukan para orang tua dan media dengan sejumlah pakar kesehatan untuk berbagi informasi mengenai kesehatan dan nutrisi anak.
Sejumlah aspek penting dalam periode 1.000 HPK menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut, mulai dari perkembangan otak (brain development), kesehatan saluran cerna (gut health), pencegahan risiko alergi, hingga dukungan pemenuhan nutrisi anak.
Berbagai topik tersebut dikemas melalui sesi talkshow bertajuk “Fact or Feeling”. Dalam sesi ini, peserta diajak membedah berbagai informasi mengenai pengasuhan anak dengan membandingkan fakta medis dan mitos yang berkembang di masyarakat.
Selain membahas aspek medis, kegiatan tersebut juga memberikan ruang untuk memahami tantangan emosional yang kerap dihadapi orang tua selama menjalani proses pengasuhan.
Momfluencer Patricia Gouw yang hadir sebagai salah satu narasumber membagikan pengalamannya menjalani masa kehamilan hingga menjadi seorang ibu
Ia mengakui perjalanan menjadi orang tua bukanlah hal yang selalu mudah. Berbagai perubahan harus dihadapi, termasuk dalam menyeimbangkan aktivitas pekerjaan dengan tanggung jawab mengasuh anak.
Patricia yang sebelumnya memiliki aktivitas padat sebagai model dan presenter mengatakan, setelah memiliki anak dirinya merasakan perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari.
“Tantangannya adalah bagaimana tetap bisa menjalankan aktivitas dan pekerjaan, tetapi di sisi lain tetap memikirkan kebutuhan anak, terutama nutrisi dan tumbuh kembangnya,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya orang tua memiliki pengetahuan yang cukup dalam memilih nutrisi tambahan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Sementara itu, psikolog Indah Sundari Jayanti, S.Psi., M.Psi., mengatakan orang tua boleh memiliki ekspektasi terhadap perkembangan anak. Namun, ekspektasi tersebut harus disesuaikan dengan tahapan dan kondisi masing-masing anak.
“Orang tua boleh punya ekspektasi terhadap perkembangan anak. Namun, ekspektasi itu harus disesuaikan karena perkembangan setiap anak berbeda,” katanya.
Ia mengingatkan agar orang tua tidak mudah membandingkan perkembangan anak dengan anak lainnya. Sebaliknya, orang tua harus peka terhadap perkembangan buah hati dan memahami kebutuhan masing-masing anak.
“Jangan terlalu membanding-bandingkan. Ibu dan orang tua harus peka terhadap perkembangan anak,” ujarnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Brand Representative Morinaga. she



