PAPUA (Jatengdaily.com)- Tim 18 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (Undip) yang dipimpin Dr. Ling. Ir. Tri Joko, M.Si., bersama anggota tim Nurisma Zenita Dewi, S.Tr.T., M.Eng.; Ayu Sadriah, S.K.M.; Giananda, S.K.M.; Salzabila Maharani, S.PWK.; dan Syafrichard Ihksan N, S.T., melaksanakan survei Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di kawasan transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.
Kegiatan dilakukan melalui kunjungan langsung ke rumah-rumah warga untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan lingkungan, ketersediaan air bersih, sarana sanitasi, serta kebutuhan dasar masyarakat.
Survei dilakukan secara komprehensif melalui wawancara mendalam, observasi kondisi rumah dan lingkungan sekitar, serta diskusi interaktif bersama warga. Pendekatan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai kebiasaan sehari-hari masyarakat sekaligus kondisi sarana yang digunakan.
Pengelolaan air bersih dan sanitasi rumah tangga menjadi salah satu fokus utama tim. Dalam peninjauan tersebut, tim mengamati sumber air, tata cara penggunaan dan penyimpanan air, kondisi jamban, sistem pengelolaan air limbah, hingga kebersihan lingkungan permukiman.
Selain melakukan pendataan, tim juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan wadah air, mencuci tangan menggunakan sabun, menggunakan jamban sehat, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Dari hasil wawancara di lapangan, ketersediaan air bersih dan infrastruktur sanitasi masih menjadi kendala utama bagi masyarakat. Kualitas air dari sumur bor yang cenderung keruh membuat warga menggunakan air hujan atau membeli air kemasan untuk kebutuhan konsumsi. Sementara itu, air dari sumur bor umumnya digunakan untuk mandi dan mencuci.
“Kalau kami bor air, biasanya airnya keruh. Hampir setiap kali membuat atau menggunakan sumur bor, air yang keluar tidak langsung jernih,” ujar Budiyanto, salah seorang warga.
Selain itu, pengelolaan air limbah rumah tangga masih mengandalkan penampungan sederhana di belakang rumah. Kebiasaan mencuci tangan secara rutin juga belum sepenuhnya diterapkan. Warga umumnya mencuci tangan ketika merasa tangan sudah kotor.
“Kalau sebelum dan sesudah makan, kami memang jarang mencuci tangan. Biasanya langsung makan saja, apalagi kalau sedang terburu-buru,” ungkap Andarwati, warga lainnya.
Temuan tersebut menjadi perhatian Tim Ekspedisi Patriot Undip untuk terus memberikan pemahaman mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir merupakan langkah preventif sederhana yang dapat membantu mencegah penyakit dan meningkatkan derajat kesehatan keluarga.
Hasil pemetaan juga menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat kawasan transmigrasi Senggi terhadap akses air bersih dan infrastruktur sanitasi yang layak masih cukup tinggi. Ketersediaan air, pengelolaan air limbah, serta penerapan PHBS menjadi komponen penting yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur dasar permukiman.
Selain mengkaji aspek PHBS, tim turut menggali data mengenai pemenuhan kebutuhan listrik dan infrastruktur pendukung lainnya. Langkah ini dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi wilayah secara lebih menyeluruh.
Pendekatan berbasis komunikasi dua arah menempatkan pengalaman dan aspirasi warga sebagai pijakan dalam menyusun rekomendasi pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Melalui kegiatan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot Undip berharap hasil pemetaan dan rekomendasi lapangan dapat menjadi salah satu dasar untuk mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat Senggi secara berkelanjutan.
Kegiatan ini juga turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi kesehatan masyarakat, SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui pemetaan kebutuhan air bersih dan sanitasi, serta SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui penguatan perencanaan infrastruktur dasar kawasan transmigrasi. she



