SEMARANG (Jatengdaily.com)– Semarang selalu memiliki cara untuk menyatukan masyarakat melalui makanan. Tumbuh dari persilangan budaya Jawa, Tionghoa, kolonial Belanda, hingga Arab, keberagaman itu tercermin dalam berbagai kuliner khas, seperti Lumpia Semarang, Soto Bangkong, Lontong Cap Go Meh, hingga Tahu Gimbal.
Warisan multikultural tersebut tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga menjadi bagian penting dari geliat ekonomi kuliner di Kota Semarang. Toleransi bahkan terlihat dalam kehidupan bisnis sehari-hari, ketika usaha kuliner dengan segmen dan karakter berbeda dapat berdampingan dan melayani konsumennya masing-masing.
Co-Founder dan CEO PT Esensi Solusi Buana (ESB), Gunawan, mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu temuan menarik dari pemetaan merchant yang dilakukan ESB di Semarang.
“Ini bukan sesuatu yang sengaja kami cari, tetapi ditemukan begitu saja saat proses mapping merchant di lapangan. Semarang punya toleransi yang sudah mendarah daging, dan itu ikut membentuk bisnis kuliner di sini yang terus tumbuh menawarkan aneka cita rasa bagi para pecinta kuliner,” ujar Gunawan.
Bisnis Kuliner Semarang Tumbuh
Geliat sektor kuliner Semarang juga tercermin dalam data resmi. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum pada triwulan II 2026 tumbuh 12,80 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut sekitar 2,2 kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah secara keseluruhan yang mencapai 5,71 persen, serta melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Pertumbuhan tersebut juga tercermin dari data internal ESB. Sepanjang Januari-Juli 2026, merchant F&B pengguna ESB di Semarang mencatat pertumbuhan same-store sebesar 8,3 persen dari sisi transaksi dan 6,6 persen dari sisi omzet. Angka tersebut membandingkan kinerja outlet yang sama dari tahun ke tahun, bukan semata-mata berasal dari penambahan merchant baru.
Sebanyak 75,4 persen transaksi tercatat dilakukan secara non-tunai. Sementara itu, waktu paling ramai konsumen melakukan pemesanan makanan terjadi sekitar pukul 19.00, yang berada dalam periode makan malam pukul 18.00-21.00.
Menurut Gunawan, pertumbuhan transaksi pada outlet yang sama menunjukkan adanya pelanggan yang kembali berkunjung.
“Tidak hanya rasanya yang jujur, ternyata data di Semarang juga bicara hal yang sama. Transaksi tumbuh, tetapi yang membuat kami senang adalah pertumbuhannya terjadi di toko-toko yang sama, bukan hanya karena ada merchant baru yang bergabung. Artinya, pelanggan benar-benar datang kembali,” katanya.
Ia menambahkan, tingginya aktivitas transaksi pada malam hari menunjukkan bahwa kuliner tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan makan, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas masyarakat setelah bekerja maupun berkumpul bersama keluarga.
“Tugas kami di ESB hanya satu, yaitu memastikan di balik momen itu operasionalnya tidak kewalahan dan bisa melayani dengan baik, serta para pebisnis tetap bisa mendapatkan margin yang baik meski harga bahan baku naik-turun,” ujar Gunawan.
Tekanan Biaya Menguji Margin
Di balik pertumbuhan bisnis kuliner, pelaku usaha juga menghadapi tekanan biaya bahan baku. Data BPS Jawa Tengah per Agustus 2026 mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil 0,28 persen. Kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, dan buncis menjadi beberapa komoditas yang mendorong inflasi tersebut.
Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah pada Agustus 2026 mencapai 3,08 persen. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pengusaha kuliner yang ingin mempertahankan resep dan bahan baku khas tanpa harus menaikkan harga secara tiba-tiba kepada konsumen.
Lead Strategist F&B Operations, Co-Founder & Managing Partner GASTRO F&B Consulting, Thomas Pangaribuan, menilai efisiensi internal menjadi kunci bagi pelaku usaha F&B untuk bertahan dan berkembang.
“Agar bisnis bisa scale up dan relevan di tengah dinamika biaya bahan baku, para pebisnis kuliner tidak boleh hanya mengandalkan cita rasa. Kontrol atas Cost of Goods Sold (COGS), standardisasi resep untuk menekan risiko food waste, serta efisiensi rantai pasok dapur adalah fondasi agar bisnis kuliner mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan,” tegas Thomas.
Hal senada disampaikan Co-founder & COO Sorak Sorai, Panama Canteen, dan Babakopitiam, Tadeo Christoga. Menurutnya, perubahan tren kuliner dan sensitivitas konsumen terhadap harga membuat pelaku usaha perlu memahami kondisi bisnis secara lebih cepat melalui data.
“Sebagai pelaku usaha F&B lokal, kami merasakan langsung bagaimana sensitivitas konsumen terhadap harga dan tren kuliner bergerak sangat cepat. Kunci konsistensi kami dalam menjaga kualitas serta profitabilitas bisnis adalah dengan cermat membaca data operasional harian,” ungkap Tadeo.
Ia menambahkan, pemantauan HPP dan pergerakan stok secara real-time membantu pelaku usaha menentukan strategi promosi tanpa mengorbankan margin.
ESB Hadirkan Solusi Berbasis Teknologi
Kondisi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Kopdar Racik Bisnis F&B di Semarang yang digelar ESB bersama komunitas TDA (Tangan Di Atas) Semarang. Mengusung tema “Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat”, kegiatan ini mempertemukan owner, founder, dan pengambil keputusan bisnis kuliner untuk bertukar pengalaman serta strategi bisnis.
Kopdar di Semarang merupakan bagian dari rangkaian roadshow nasional ESB yang digelar di berbagai kota di Indonesia sepanjang 2026.
Dalam kegiatan tersebut, ESB memperkenalkan sejumlah solusi berbasis teknologi untuk membantu pelaku usaha meningkatkan efisiensi operasional dan menjaga profitabilitas, antara lain:
- ESB POS, aplikasi kasir berbasis cloud yang terintegrasi secara real-time untuk memantau penjualan, mengontrol stok bahan baku, dan menghitung HPP.
- ESB Order, sistem pemesanan berbasis QR yang memungkinkan pelanggan memesan dan membayar secara mandiri, baik untuk dine-in maupun takeaway.
- ESB Core (ERP), yang memberikan visibilitas data stok dan inventaris secara real-time serta membantu mengendalikan pemborosan bahan baku dan erosi margin.
- ESB OLIN, asisten bisnis berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menganalisis data transaksi, memberikan insight bisnis, rekomendasi promosi, hingga membantu memprediksi kebutuhan stok bahan baku.
Gunawan mengatakan, teknologi pada akhirnya bukan sekadar alat untuk mempercepat operasional, tetapi juga membantu pengusaha kuliner mempertahankan kualitas sekaligus kesehatan bisnis.
“Pada akhirnya, bisnis kuliner itu soal konsistensi, konsisten rasanya, konsisten juga untungnya. Kalau dapur tahu persis stoknya dan kasir tahu persis angkanya, pemilik usaha jadi bisa fokus ke hal yang bikin Semarang istimewa: racikan bumbu dan resep yang diwariskan turun-temurun. Itu yang kami mau bantu jaga lewat ESB,” pungkas Gunawan. she



