YOGYAKARTA (jatengdaily.com) — Peningkatan mutu layanan akademik tidak hanya bergantung pada sistem dan fasilitas, tetapi juga pada kompetensi sumber daya manusia yang menjalankannya. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Walisongo Semarang membekali 30 tenaga kependidikannya dengan pelatihan peningkatan kinerja yang memadukan kepemimpinan, digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI), dan penguatan kualitas pelayanan.
Pelatihan bertajuk “Improving the Performance of Educational Staff in Supporting Excellent Academic and Administrative Services” ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Manajemen Pendidikan Tinggi (PSMPT) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Jumat–Sabtu, 23–24 Oktober 2026. Kegiatan berlangsung di Yogyakarta dengan rangkaian pembelajaran di ruang kelas dan praktik lapangan melalui pendekatan experiential learning.
Dekan FSH UIN Walisongo Semarang, Dr. H. Tolkah, M.A., membuka kegiatan secara resmi di University Hotel Yogyakarta. Dalam sambutannya, ia berharap pelatihan tersebut dapat memberikan bekal yang bermanfaat bagi tenaga kependidikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan fakultas.
Memperkuat Kepemimpinan dan Budaya Melayani
Pada hari pertama, peserta mengikuti sesi pengembangan kepemimpinan pelayanan (servant leadership) yang disampaikan Ketua PSMPT UIN Sunan Kalijaga, Dr. Jarot Wahyudi, M.A. Materi ini mengangkat pentingnya kepemimpinan yang menempatkan pelayanan, pengembangan anggota tim, dan pencapaian tujuan bersama sebagai bagian dari budaya kerja organisasi.
Pembahasan turut merujuk pada gagasan Ken Blanchard dalam buku Leading at a Higher Level, yang menekankan pentingnya kepemimpinan efektif dalam mendorong kinerja organisasi. Bagi tenaga kependidikan, nilai-nilai tersebut relevan untuk membangun koordinasi, memperkuat tanggung jawab, serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pelayanan akademik dan administratif.
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan materi service excellence yang disampaikan trainer profesional Ahmad Dzakirin, S.E.I., M.B.A. Sesi ini memperkuat pemahaman peserta mengenai pentingnya pelayanan yang profesional, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan.

AI sebagai Kompetensi Baru Tenaga Kependidikan

Transformasi digital menjadi salah satu perhatian utama dalam pelatihan ini. Dosen sekaligus praktisi kecerdasan buatan dari Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FADIB) UIN Sunan Kalijaga, Dr. Eric Kunto Aribowo, S.S., M.A., memandu sesi kompetensi digital yang dilengkapi simulasi pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pekerjaan sehari-hari.
Melalui sesi tersebut, peserta diperkenalkan pada peluang pemanfaatan AI untuk mendukung pekerjaan, termasuk membantu pengolahan informasi dan penyelesaian tugas secara lebih efisien. Simulasi praktik memberikan ruang bagi peserta untuk mengenali bagaimana teknologi ini dapat digunakan sebagai alat bantu kerja, dengan tetap mempertimbangkan ketepatan informasi dan tanggung jawab penggunanya.
Penguatan kompetensi digital ini menjadi penting di tengah perubahan pola kerja perguruan tinggi. Pemanfaatan teknologi tidak semata-mata diarahkan untuk mempercepat pekerjaan, tetapi juga untuk mendukung proses administrasi yang lebih adaptif dan memberikan ruang bagi tenaga kependidikan untuk meningkatkan kualitas layanan.
Dengan demikian, digitalisasi ditempatkan sebagai bagian dari pengembangan kompetensi profesional, yang berjalan beriringan dengan kemampuan berkomunikasi, pengambilan keputusan, dan pemahaman terhadap kebutuhan mahasiswa maupun sivitas akademika lainnya.
Belajar Kolaborasi dari Pengalaman Langsung

Pembelajaran berlanjut pada hari kedua melalui kegiatan outbound team building bersama tim MOANA di kawasan Nanggulan, Kulon Progo. Menggunakan pendekatan experiential learning, peserta diajak belajar melalui pengalaman langsung, interaksi sosial, dan refleksi atas aktivitas yang dilakukan bersama.

Salah satu kegiatan yang dijalani adalah bersepeda menyusuri jalan pedesaan di kawasan Selokan Mataram dan Nanggulan, dengan hamparan persawahan serta latar perbukitan Menoreh. Hujan yang mengguyur kawasan tersebut tidak menghalangi peserta untuk mengikuti rangkaian kegiatan di lapangan.

Perjalanan ini bukan sekadar aktivitas luar ruang. Peserta juga berinteraksi dengan masyarakat setempat melalui lokakarya pembuatan tempe secara tradisional bersama Mbah Yem dan Mbah Ti. Mereka mempelajari proses pembuatan tempe menggunakan ragi alami dan pembungkus daun pisang.

Rangkaian pembelajaran dilanjutkan dengan praktik membatik. Dalam kegiatan ini, peserta berkesempatan mencoba proses membatik secara langsung dan menghasilkan karya masing-masing. Kedua aktivitas tersebut memberikan pengalaman tentang ketelitian, kesabaran, kreativitas, serta penghargaan terhadap pengetahuan dan keterampilan yang berkembang di tengah masyarakat.

Sesi akhir dari perjalanan bersama tim Moana, para peserta singgah di TepiKota, sebuah rumah kuliner yang meneliti dan mempresentasi-ulang resep-resep Nusantara lama terutama dari resep yang tertulis di buku Mustika Rasa, sebuah kompilasi resep dari penjuru Nusantara dari Aceh hingga Papua yang disusun oleh Presiden Pertama NKRI Ir. Soekarno. Kekayaan cita rasa Nusantara yang otentik selalu coba dihadirkan TepiKota, Proyek memasak ulang dan memvisualkan hidangan resep Mustikarasa ini disajikan oleh Mas Febri dan Mbak Fida TepiKota.
Mas Febri juga menjelaskan bahwa kenikmatan masakan masa lalu Nusantara banyak di antaranya yang diolah bersama dengan minyak kelapa, selain kenikmatan, rasa gurih, dahulu Nusantara juga belum mengenal minyak sawit sebagai bahan pokok masakan.
Melalui interaksi dan praktik bersama, peserta memperoleh ruang untuk mengembangkan komunikasi, membangun kepercayaan, memahami pembagian peran, dan menyelesaikan aktivitas secara kolaboratif. Nilai-nilai tersebut menjadi inti pembelajaran berbasis pengalaman yang melengkapi materi kepemimpinan dan pelayanan pada hari pertama.
Dari Pelatihan Menuju Perubahan Budaya Kerja
Kombinasi materi manajerial, kompetensi digital, pelayanan prima, dan pembelajaran berbasis pengalaman menunjukkan bahwa pengembangan tenaga kependidikan membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Keterampilan teknis perlu ditopang oleh kepemimpinan yang baik, kemampuan bekerja sama, dan orientasi pelayanan yang kuat.
Dalam lingkungan perguruan tinggi, kualitas layanan akademik dan administratif tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh koordinasi antarbagian, kejelasan tanggung jawab, serta kesediaan untuk beradaptasi dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi.
Melalui kolaborasi antara FSH UIN Walisongo Semarang dan PSMPT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pelatihan ini diharapkan menjadi bekal bagi tenaga kependidikan untuk menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh ke dalam pekerjaan sehari-hari.
Pada akhirnya, peningkatan kinerja tidak berhenti pada keikutsertaan dalam pelatihan. Hasil yang diharapkan adalah perubahan nyata dalam budaya kerja: pelayanan yang semakin responsif, administrasi yang lebih efisien, pemanfaatan teknologi yang tepat guna, serta kolaborasi yang semakin kuat dalam mendukung mutu layanan akademik di FSH UIN Walisongo Semarang. -sr



