By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Menyambut Rahmat di Balik Batalnya Salat Istisqa se-Jawa Tengah
Share
Font ResizerAa
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Menyambut Rahmat di Balik Batalnya Salat Istisqa se-Jawa Tengah

Jatengdaily.com
Published: 27 Oktober 2026 06:25
Share
SHARE

Oleh Isdiyanto Isman

Contents
​1. Dimensi Agama: Doa Terkabul Sebelum Saf Dirapatkan​2. Dimensi Wilayah: Otonomi Daerah Terdampak Kekeringan​3. Dimensi Sosial​4. Dimensi Harapan

​GERAKAN massal Salat Istisqa (salat memohon hujan) serentak se-Jawa Tengah yang semula dijadwalkan berlangsung pada Selasa pagi, 27 Oktober 2026, di halaman Kantor Gubernur dan seluruh kantor kepala daerah se-Jawa Tengah, resmi dibatalkan.

Keputusan ini diambil melalui koordinasi antara MUI dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah setelah fakta empiris di lapangan menunjukkan intensitas hujan mulai turun merata di provinsi ini.

​Penjelasan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum MUI Jawa Tengah, Prof. Dr. K.H. Noor Achmad, M.A., pada Senin pagi (26/10/2026). Pembatalan ini tidak mengurangi esensi gerakan, melainkan mengalihkan momentum menjadi bentuk refleksi dan telaah baru dari berbagai dimensi, baik sosial maupun keagamaan.

​1. Dimensi Agama: Doa Terkabul Sebelum Saf Dirapatkan

​Dalam tuntunan fikih Islam, Salat Istisqa adalah sarana kedaruratan (ikhtiar spiritual) saat kemarau ekstrem melanda. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan hujan sebelum salat didirikan, secara hukum fikih, pelaksanaan salat tersebut gugur.

Para ulama menelaah momentum ini sebagai bentuk tahadus bin ni’mah—manifestasi rasa syukur karena ketulusan niat umat telah diijabah Allah Swt. lebih cepat.

​Landasan ini selaras dengan Al-Qur’an Surah Asy-Syura ayat 28:

“Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji.”

​Sekretaris Komisi Fatwa MUI Jawa Tengah, Dr. K.H. Arja Imroni, M.Ag., mengemukakan bahwa dalam Kitab Fath Al-Wahhab, juz 1, diterangkan ada tiga ikhtiar untuk meminta hujan kepada Allah sebagai Zat pemberi rahmat, yaitu dengan Salat Istisqa, berdoa setiap bakda salat, dan berdoa meminta hujan saat khotbah Jumat.

​Menurut Arja, rupanya sebelum kita memakai cara pamungkas (Salat Istisqa), Allah sudah menurunkan hujan sebagai rahmat untuk kita semua. Ini adalah skenario Allah yang sangat indah. Alhamdulillah.

​Prof. Noor Achmad menjelaskan rencana awal yang telah menggalang kesiapan semua pihak. Selain dirinya akan bertindak sebagai khatib dan Imam Besar MAJT K.H. Ulil Absor Al-Hafiz sebagai imam Salat Istisqa, rencana tersebut akan diikuti oleh ribuan komponen masyarakat. Ini merupakan wujud energi doa yang menembus langit.

Karena rahmat hujan sudah turun di tingkat provinsi, MUI mengimbau umat Islam di Jawa Tengah untuk mengganti momentum tersebut dengan zikir syukur dan meningkatkan amalan kebaikan.

​2. Dimensi Wilayah: Otonomi Daerah Terdampak Kekeringan

​Meskipun agenda di tingkat Provinsi Jawa Tengah resmi dibatalkan, MUI Jawa Tengah menerapkan kebijakan yang fleksibel. Bagi daerah yang dirasa masih mengalami kekurangan curah hujan atau masih dilanda kekeringan, MUI setempat dipersilakan untuk tetap menyelenggarakan Salat Istisqa.

​Kebijakan ini sangat tepat karena menghargai perbedaan kondisi geografis dan iklim mikro di masing-masing wilayah yang tidak sama rata.

​3. Dimensi Sosial

​Dari perspektif sosial, pembatalan fisik ini sama sekali tidak melunturkan nilai gotong royong yang sudah terbangun. Rencana pengerahan 2.000 personel di tingkat provinsi serta instruksi massal di 35 daerah sebelumnya telah berhasil membangkitkan kohesi sosial yang luar biasa.

​Dukungan penuh yang sebelumnya dinyatakan secara kompak oleh Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah, Drs. H. Mufid Rahmat, M.M., dan Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. H. Tafsir, M.A., membuktikan bahwa struktur organisasi Islam di Jawa Tengah sangat solid dan kokoh.

Sinergi antara ulama, umara, dan ormas Islam dalam menghadapi krisis iklim menunjukkan bahwa Jawa Tengah memiliki sistem mitigasi spiritual dan sosial yang sangat matang.

​4. Dimensi Harapan

​Tujuan akhir pascapengumuman pembatalan ini kini bergeser pada aspek tanggung jawab ekologis.

​Semoga hujan membawa manfaat (nafi’an) untuk pertanian. Turunnya rahmat nyata ini agar menjadi pengingat berharga bagi manusia untuk senantiasa bersyukur dan bijak merawat keseimbangan alam.

​Penulis: H. Isdiyanto Isman, S.I.P., M.I.P.

Ketua Komisi Infokomdigi MUI Jawa Tengah

You Might Also Like

Menyembuhkan Raga, Merawat Jiwa: Evolusi Ikhtiar Manusia dari Tradisi Menuju Sains Modern dalam Perspektif Islam
KKN Perguruan Tinggi: Harmonisasi Pendidikan, Hukum, dan Masyarakat
Bukan Sekadar Berenang, Kolam Menjadi Ruang Belajar Murid SLB Yapenas
Dead Man’s Switch, Ibam, Chromebook, dan Kesadaran Hukum Siber
Menjaga Harmoni Digital, PR Besar Komisi Infokomdigi MUI Jateng
TAGGED:Menyambut RahmatPembatalan Salat IstisqaSalat Istisqa se-Jawa Tengah
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?