DEMAK (Jatengdaily.com) – Ancaman banjir rob yang terus berulang di kawasan pesisir mendorong mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal di Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.
Melalui Program AKSARA Mahasiswa 2026, mahasiswa mengembangkan buis beton interlock berbahan substitusi limbah cangkang kerang serta persemaian mangrove terapung sebagai upaya memperkuat ketangguhan masyarakat pesisir.
Program yang diinisiasi Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMTS) Untag Semarang tersebut mengusung tema “Desa Tangguh Rob Surodadi: Pemberdayaan Tukang Konstruksi Pesisir dan Petani Mangrove melalui Infrastruktur Adaptif dan Persemaian Terapung Menuju Ekonomi Biru.”
Desa Surodadi merupakan kawasan pesisir dengan ketinggian sekitar 0–2 meter di atas permukaan laut. Ancaman banjir rob dan penurunan muka tanah telah berdampak terhadap permukiman, sanitasi, tambak, infrastruktur, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Kondisi tersebut membutuhkan solusi adaptif yang tidak hanya menjawab persoalan lingkungan, tetapi juga memperkuat kemandirian masyarakat.
Sebanyak 24 mahasiswa dari Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, serta Fakultas Teknologi Pertanian terlibat dalam program ini.
Tim pengusul terdiri atas Agustinus Sungsang Nana Patria, S.T., M.T.; Dr. Dyah Ilminingtyas Wahyu Handayani, S.T., M.T.; dan Ir. Pramesta Armanisag Pangestuti, S.T., M.T.
Program pemberdayaan tersebut melibatkan dua kelompok mitra, yakni Tukang Konstruksi Pesisir dan Petani Mangrove. Keduanya diberdayakan melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan teknologi konstruksi, perlindungan lingkungan, dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Bersama kelompok Tukang Konstruksi Pesisir, mahasiswa mengembangkan buis beton interlock modular dengan sistem sambungan lidah dan alur bertingkat.
Desain ini memungkinkan setiap modul tersusun lebih stabil, mudah dipasang, serta dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kebutuhan dan perubahan kondisi lingkungan.
Inovasi tersebut semakin menarik karena memanfaatkan limbah cangkang kerang sebagai bahan substitusi sebagian agregat beton. Pemanfaatan material lokal ini diharapkan dapat mengurangi timbunan limbah pesisir, menekan kebutuhan agregat alam, sekaligus meningkatkan nilai ekonomis limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Buis beton interlock dirancang untuk mendukung berbagai kebutuhan infrastruktur di kawasan terdampak rob, mulai dari sanitasi, sumur resapan, perlindungan utilitas, pondasi bangunan, penahan tanah atau sedimen, pemecah gelombang, hingga pelindung bibit mangrove.
Agustinus Sungsang Nana Patria mengatakan, pembangunan desa tangguh tidak cukup hanya dengan menyediakan infrastruktur.
Masyarakat juga harus memiliki keterampilan untuk memproduksi, merawat, dan mengembangkan teknologi secara mandiri.
“Karena itu, masyarakat kami tempatkan sebagai pelaku utama program. Teknologi yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan lapangan dan dapat dilanjutkan oleh kelompok mitra,” ujarnya.
Sebanyak 20 anggota kelompok Tukang Konstruksi Pesisir mendapatkan pendampingan mengenai teknik pembuatan buis beton interlock, konstruksi di kawasan terdampak rob, mitigasi bencana, keselamatan kerja, manajemen usaha kelompok, perhitungan harga pokok produksi, serta pemasaran produk dan jasa.
Peningkatan kompetensi tersebut juga diarahkan untuk mendukung sertifikasi tenaga kerja konstruksi.
Sementara itu, bersama 20 anggota kelompok Petani Mangrove, tim mengembangkan persemaian terapung modular dengan luas keseluruhan sekitar 30 meter persegi. Struktur persemaian dirancang mengikuti perubahan tinggi muka air sehingga bibit mangrove tetap terlindungi ketika terjadi rob.
Fasilitas tersebut dilengkapi rak pembibitan dan aklimatisasi untuk mendukung pertumbuhan bibit sebelum ditanam di kawasan pesisir. Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi risiko kerusakan bibit, meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi kelompok petani mangrove.
Ir. Pramesta Armanisag Pangestuti menjelaskan, sinergi kedua kelompok mitra menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program. Kelompok tukang konstruksi pesisir memiliki kompetensi dalam pembuatan dan pemeliharaan struktur, sedangkan petani mangrove berperan dalam pembibitan dan perawatan tanaman.
“Kolaborasi ini menyatukan aspek sosial, konstruksi, lingkungan, dan ekonomi dalam satu ekosistem pemberdayaan. Masing-masing kelompok memiliki peran yang berbeda, tetapi saling mendukung untuk membangun ketangguhan Desa Surodadi,” jelasnya.
Penguatan kelembagaan dan manajemen usaha juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan program.
Dyah Ilminingtyas Wahyu Handayani, SPi, MP. menyampaikan bahwa mahasiswa mendampingi mitra dalam menyusun standar operasional prosedur produksi, kalkulator harga pokok produksi, pencatatan biaya, strategi pemasaran, hingga identitas produk.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, mahasiswa, masyarakat, dan mitra eksternal, Program AKSARA Mahasiswa 2026 diharapkan tidak berhenti pada pembuatan produk percontohan.
Inovasi yang dikembangkan diarahkan menjadi kegiatan produktif yang dapat dikelola, dilanjutkan, dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.
Pemanfaatan limbah cangkang kerang menjadi material konstruksi dan pengembangan persemaian mangrove terapung menjadi dua inovasi yang mengintegrasikan adaptasi terhadap banjir rob, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, Desa Surodadi diharapkan mampu membangun ketangguhan kawasan pesisir dengan mengoptimalkan potensi lokal menuju ekonomi biru yang berkelanjutan. St



