By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Awal Ramadan Dipastikan Jumat 24 April, Masyarakat Diminta Tunggu Sidang Itsbat
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Awal Ramadan Dipastikan Jumat 24 April, Masyarakat Diminta Tunggu Sidang Itsbat

Last updated: 4 April 2020 05:24 05:24
Jatengdaily.com
Published: 4 April 2020 05:24
Share
Ahli Falak PBNU Drs KH Slamet Hambali MSi, foto bersama dengan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Walisongo Dr M Arja Imroni, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Dr A Arif Junaidi, dan Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia (ADFI) Dr Ahmad Izzuddin MAg, usai mengikuti Lokakarya Imsakiyah di Moshollatorium At-Taqiy Pesantren Life Skill Daarun Najaah Semarang, kemarin.Foto:Jatengdaily.com-ist
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia (ADFI) Dr Ahmad Izzuddin MAg menjelaskan, meskipun akhir Sya’ban 1441 H dipastikan secara perhitungan tinggi hilal untuk Kota Semarang mencapai 3o 21’ 03,71” di atas ufuk, hal itu sudah memenuhi kriteria visibilitas hilal Mabims.

‘’Saya yakin dan tetap optimistis rukyah akhir bulan Sya’ban 1441 tidak terganggu dengan cuaca mendung ataupun hujan, sehingga hilal awal Ramadan 1441H dapat teramati. Adapun pada akhir Ramadan 1441 H tinggi hilal masih di bawah ufuk -04o 08’ 55,28”. Jadi, baik menurut penganut mazhab hisab, rukyah, dan imkan rukyah akan memulai Ramadan 1441 pada hari Jumat Kliwon, 24 April 2020 dan akan berlebaran atau Idul Fitri 1441 H pada hari Ahad Kliwon, 24 Mei 2020,’’ katanya, kemarin.

Dia mengatakan hal itu usai mengikuti Lokakarya Imsakiyah Ramadan 1441H /2020M di Mushollatorium At-Taqiy Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah Semarang. Lokakarya tersebut diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang bekerja sama dengan Prodi S1 – S2 Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Walisongo Semarang.

Lokakarya dihadiri Ketua LP2M UIN Walisongo Dr H Akhmad Arif Junaidi MAg, Sekretaris LP2M H Mokh Sya’roni MAg dan Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat LP2M M. Rikza Chamami MSi. Hadir juga Dekan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Dr H Moh Arja Imroni MAg. Kaprodi S1 Ilmu Falak Moh Khasan MAg dan para alumni prodi ilmu falak.

Menghadirkan dua pembicara yaitu anggota Lembaga Falakiyah PBNU Drs KH Slamet Hambali MSi dan Dr KH Ahmad Izzuddin MAg sekaligus sebagai pengasuh pondok pesantren tersebut. Meski hasil lokakarya sudah memprediksi awal Ramadan Jumat 24 April 2020, Izzuddin meminta masyarakat tetap menunggu hasil keputusan resmi sidang itsbat dari pemerintah.

Ketua LP2M UIN Walisongo Dr Akhmad Arif Junaidi menjelaskan, lokakarya bertujuan persiapan menghadapi bulan suci Ramadan yang sudah tinggal menghitung hari kedatangannya. Lokakarya juga bertujuan menyepakati penentuan awal Ramadan, awal Syawal dan jadwal Imsakiyah Ramadan 1441 H.

“Meskipun di tengah wabah Covid-19 yang sedang melanda Indonesia, kegiatan lokakarya untuk tahun ini tetap berlangsung atas arahan dari Rektor UIN Walisongo, akan tetapi hanya diperbolehkan untuk dihadiri oleh beberapa orang saja, karena sifatnya terbatas”, kata Dr H Akhmad Arif Junaidi.

Dia menjelaskan, lokakarya bertujuan untuk tetap menjaga wajah UIN Walisongo Semarang sebagai pusat perkembangan Ilmu Falak di Indonesia dan demi menjaga kemaslahatan umat sebab jadwal imsakiyah ini sangat penting untuk pedoman waktu pelaksanaan ibadah di bulan Ramadan.

“ Untuk menyesuaikan terkait problematika perbedaan waktu, perlu adanya kalibrasi pada seluruh jam di lingkungan masyarakat.Selain itu, diperlukan juga penyeragaman titik koordinat minimal per kabupaten atau kota untuk menghindari adanya kebingunan di kalangan masyarakat, ‘’ kata Drs KH Slamet Hambali MAg.

Menurutnya, sering terjadi kesalahan pada jadwal imsakiyah, bahkan bedanya mencapai 3 menit. Menurut Kiai Hambali, hal itu terjadi karena para ahli hisab tidak memperhitungkan tinggi tempat. “Jangan mengambil ketinggian tempat berada pada 0 meter, namun setidaknya harus mengambil ketinggian pada kisaran 50 – 200 meter ”, tambahnya.

Perihal waktu, Drs SlametHambali MSi, menyarankan agar mengambil atau mencocokkan jam yang ada di masjid atau di mushalla dengan waktu yang ada pada web resmi BMKG, di laman http://jam.bmkg.go.id. st

You Might Also Like

PW DMI Jateng Imbau Masyarakat Waspadai Daging Gelonggong dan Ayam Tiren
Target PAD Tinggi, Pengelolaan Parkir Dishub Demak Libatkan Pihak Ketiga
Peduli Sesama Bersama Dompet Dhuafa, KolaborAksi Bangun Negeri dengan Cinta
Pembunuhan Pasutri di Kabupaten Tegal Berlatar Belakang Utang
Cegah Sengketa Hukum, Panitia Pilkades di Demak Diberi Pembekalan
TAGGED:Awal Ramadan 24 April 2020Lokakarya awal RamadanLokakarya imsakiyah Ramadan 1441 HPonpes Daarun Naajah SemarangSidang itsbat Ramadan 1441 H
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?