MAGELANG (Jatengdaily.com) — Candi Borobudur kembali menunjukkan wajahnya sebagai monumen peradaban yang agung. Pada Sabtu (31/10/2026), kawasan wisata superprioritas di Kabupaten Magelang ini menjadi saksi bisu pemandangan yang menyejukkan hati.
Di tengah persiapan konser internasional maestro musik Andrea Bocelli, ratusan warga dan tokoh masyarakat tampak khusyuk melantunkan doa bersama untuk kebangsaan.
Dua peristiwa dengan latar belakang berbeda tersebut berlangsung secara berdampingan. Alunan musik kelas dunia berpadu syahdu dengan doa istigasah dari Masjid Al-Ikhlas, Dusun Ngaran I. Tanpa gesekan dan provokasi, yang terpancar hanyalah keindahan toleransi yang dibalut kedewasaan bermasyarakat.
Kepolisian Daerah Jawa Tengah memberikan apresiasi mendalam atas terciptanya suasana yang damai tersebut. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jateng, Kombes Pol. Yuliyanto, menilai peristiwa di Borobudur sebagai bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia mampu merangkul perbedaan.
”Kami memahami bahwa setiap orang memiliki pandangan dan kepentingan yang berbeda. Namun, hari ini masyarakat telah menunjukkan bahwa perbedaan tersebut dapat disikapi dengan saling menghormati tanpa mengganggu hak maupun aktivitas orang lain,” ujar Kombes Pol. Yuliyanto.
Doa untuk Negeri di Tengah Gemerlap Dunia
Kegiatan istigasah dan doa bersama yang digelar Forum Masyarakat Borobudur Bangkit (FMBB) ini berlangsung khusyuk. Acara yang dimulai sejak pukul 13.30 WIB tersebut dihadiri oleh puluhan warga, tokoh agama, perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas), serta lembaga bantuan hukum.
Ketua FMBB, Puguh Triwarsono, menyampaikan bahwa doa bersama ini merupakan wujud cinta kasih mereka terhadap Tanah Air, khususnya kawasan Borobudur. Warga menitipkan harapan besar agar Borobudur tidak sekadar menjadi panggung hiburan, tetapi tetap menjadi denyut nadi perekonomian dan kebudayaan masyarakat setempat.
Melalui doa tersebut, warga juga menyampaikan aspirasi mereka secara santun. Mereka berharap pengelolaan kawasan Candi Borobudur ke depan dapat lebih merangkul masyarakat lokal, menghidupkan kembali denyut ekonomi pedagang kecil, serta menjaga nilai-nilai luhur cagar budaya.
Kehadiran Ketua Forum Ukhuwah Islamiyah Magelang Raya (FUIMARA), Priyo Waspodo, dan perwakilan LBH Avadhana, Ivan Dafis, semakin menguatkan pesan perdamaian tersebut. Mereka sepakat bahwa perjuangan untuk kesejahteraan warga harus tetap berada di jalur yang elegan dan beradab.
Pendekatan Humanis Kepolisian
Keberhasilan menjaga harmoni ini tidak lepas dari peran serta aparat keamanan. Polda Jateng bersama TNI, pemerintah daerah, dan pengelola kawasan menerapkan pendekatan yang humanis serta persuasif selama proses pengamanan.
”Terima kasih kepada saudara-saudara yang telah menjaga ketertiban, kepada para pengunjung dan wisatawan yang mengikuti arahan petugas, serta masyarakat sekitar yang turut menjaga lingkungan tetap kondusif,” lanjut Kombes Pol. Yuliyanto.
Polri, lanjutnya, hadir bukan untuk membatasi hak masyarakat, melainkan untuk memastikan setiap orang mendapatkan perlindungan yang sama. Penyelenggaraan konser yang berjalan lancar dan doa bersama yang penuh hikmat menjadi bukti nyata bahwa demokrasi dan kebebasan berekspresi dapat berjalan selaras.
Menutup keterangannya, Kombes Pol. Yuliyanto mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat semangat kebersamaan. Perbedaan pandangan tidak seharusnya memecah belah persaudaraan, melainkan menjadi kekayaan budaya yang memperkokoh persatuan bangsa. St



