By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Masyarakat Malas Bederma untuk Kesenian
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Seni Budaya

Masyarakat Malas Bederma untuk Kesenian

Last updated: 9 Oktober 2020 00:12 00:12
Jatengdaily.com
Published: 9 Oktober 2020 00:12
Share
Gunoto Saparie
SHARE


SEMARANG – (Jatengdaily.com) – Masyarakat Indonesia dikenal sangat dermawan dan murah hati. Mereka sering berdonasi, menolong orang lain, bahkan terhadap orang yang tidak dikenal. Mereka pun juga senang menjadi relawan. Namun, anehnya, mereka ternyata tetap berpikir dua kali kalau diminta menyumbang untuk kegiatan kesenian. Mereka boleh dikatakan malas melakukan derma untuk kegiatan kesenian maupun kebudayaan.

Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) Gunoto Saparie mengatakan, selama ini kalau ada penggalangan dana sosial untuk bencana alam, wabah, olahraga, dan sebagainya, aktivitas kesenian dan kebudayaan sering dipakai sebagai alat untuk mendatangkan para donatur. Misalnya pementasan musik, penampilan tari, dan sebagainya. Namun, ironisnya, penggalangan dana untuk kegiatan kesenian dan kebudayaan itu sendiri justru sering diabaikan.

“Memang harus diakui, kegiatan filantropi di Indonesia berkembang pesat. Jumlah rata-rata sumbangan masyarakat kepada program-program yang sifatnya umum mengalami kenaikan. Begitu juga kepercayaan masyarakat kepada organisasi-organisasi sosial juga meningkat cukup tajam. Namun, mengapa sumbangan masyarakat untuk program kesenian dan kebudayaan justru sangat minim?” tanyanya.

Menurut Gunoto, apresiasi, penghargaan, dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesenian dan kebudayaan dalam kehidupan ini belum sepenuhnya memadai. Para pejabat eksekutif maupun legislatif dan tokoh masyarakat terkesan menganaktirikan kesenian dibandingkan dengan olahraga.Padahal kesenian dan kebudayaan itu sangat penting bagi upaya pembentukan karakter bangsa.

“Kehidupan masyarakat tidak hanya memerlukan sandang, pangan, dan papan. Ia juga membutuhkan kesenian dan kebudayaan,” tandasnya.

Dalam kaitan ini, lanjut Gunoto, sangat perlu adanya regulasi yang mewajibkan perusahaan, misalnya, memiliki tanggung jawab sosial memberikan sumbangan kepada kegiatan kesenian. Selama ini peraturan daerah yang ada tentang CSR, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, tidak menyebutkan secara eksplisit mengenai bantuan untuk kesenian. Akibatnya, sumbangan untuk kesenian dan kebudayaan sering terlewatkan,” tandasnya. st

You Might Also Like

Teater Lingkar Tetap Berkarya di Tengah Pandemi COVID-19
Satu Pena DKI Berglamping Sastra di Baturaden
Pembelajaran Sastra Dinilai Membosankan
Peluncuran Antologi Puisi 21 Penyair Perempuan Purbalingga
Dakwah Lewat Sastra Lebih Efektif
TAGGED:bedermaDKJTgalang danakesenian
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?