Oleh Ir Laeli Sugiyono MSi
Statistisi Ahli Madya
pada BPS Provinsi Jawa Tengah
TAHUN 2020 dirasakan semakin berat saja beban dalam mengarungi bahtera kehidupan di persada bumi Nusantara ini, terutama dihadapkan pada masalah perlambatan ekonomi, yang terjadi di awal tahun yang kemudian berlanjut pada akhir semester I. Ditandai oleh ekonomi yang bukan saja melambat tetapi sudah sangat melambat dengan semakin tergerusnya ekonomi yang tumbuh minus, hingga sepertiga waktu menjelang akhir tahun yang juga belum berubah dengan ekonomi terkontraksi minus.
Release BPS menunjukkan bahwa pada triwulan I 2020 tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 2,97 persen lebih rendah dari triwulan IV 2019 sebesar 3,66 persen maupun triwulan I 2019 yang tumbuh 5,07 persen. Di awal tahun 2020, perekonomian Indonesia jelas mengalami perlambatan ekonomi. Sedangkan di akhir semester I dan sepertiga akhir tahun, yaitu triwulan II 2020 ekonomi Indonesia tumbuh -5,32 persen dan triwulan III 2020 ekonomi Indonesia terkontraksi -3,49 persen. Kini Indonesia tidak saja sangat lambat dalam pertumbuhan ekonomi melainkan juga sudah terjerembab ke dalam jurang resesi ekonomi.
Perlambatan ekonomi tidak semata-mata dipengaruhi oleh resesi ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju seperti: Amerika Serikat, Eropah, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, dengan tambahan China sebagai mitra dagang utama Indonesia pada kurun waktu yang sama juga mengalami perlambatan ekonomi, dan lebih mendahului daripada Indonesia yang terjerumus ke dalam jurang resesi ekonomi.
Ada faktor-faktor yang lebih spesifik di dalamnya, antara lain pertumbuhan produktivitas melambat; penyebab ini jelas membawa dampak buruk bagi perekonomian secara keseluruhan. Jika produktivitas semakin melambat, maka standar hidup masyarakat juga semakin sulit untuk meningkat. Gaji yang didapatkan tidak setara dengan jam kerja yang dikeluarkan. Namun para ahli memprediksikan hal ini tidak mudah terjadi di suatu negara.
Dampak Ekonomi Melambat
Sebagai situasi yang kurang menguntungkan dalam perekonomian, ekonomi melambat jelas berdampak pada sendi-sendi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Berikut dampak nyata yang disebabkan oleh ekonomi melambat.
Peningkatan jumlah pengangguran; Pengangguran bisa menyebabkan ekonomi melambat, namun pada saat yang sama juga bisa terjadi karena ekonomi yang melambat. Penerapan teknologi baru oleh perusahaan mungkin akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam waktu singkat. Namun jika pertumbuhan tersebut tidak mampu membuka lapangan pekerjaan, maka bisa jadi dapat menimbulkan pengangguran.
Pengangguran saat ini telah tembus 9,77 juta orang yang melonjak sebesar 2,67 juta orang dari keadaan Agustutus 2019. Lonjakan pengangguran yang sontak mangagetkan Pemerintah akibat perlambatan ekonomi ini begitu dahsyat pengaruhnya pada sendi-sendi kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
Petumbuhan pengeluaran rumah tangga pada triwulan I 2020 tercatat sebesar 2,84 persen lebih rendah daripada rata-rata pertumbuhan dari seluruh komponen pengeluaran sebesar 2,97 persen. Sedangkan pertumbuhan pengeluaran rumah tangga pada triwulan II 2020 tercatat sebesar -5,51 persen, terkontraksi lebih dalam daripada rata-rata dai seluruh komponen pengeluaran sebesar -5,32 persen.
Sementara pertumbuhan pengeluaran rumah tangga pada triwulan III tercatat sebesar -4,04 persen, yang juga terkontraksi lebih dalam daripada rata-rata dari seluruh komponen pengeluaran sebesar -3,49 persen.
Dari keadaan seperti itu jelas mengkomfirmasi bhwa melambatnya ekonomi berdampak antara lain pada melemahnya daya beli masyarakat atau dengan kata lain standar hidup layak yang semakin buruk.
Konfirmasi buruknya standar hidup layak juga ditunjukkan oleh angka deflasi, seperti pada September 2020 telah terjadi deflasi sebesar 0,05 persen dengan deflasi tertinggi terjadi di Timika sebesar 0,83 persen dan deflasi terendah terjadi di Bukittinggi, Jember, dan Singkawang masing-masing sebesar 0,01 persen. Ini menunjukkan ciri perekonomian yang lesu sebagai konsekunsi melambatnya perekonomian akibat melemahnya daya beli masyarakat atau buruknya standar hidup layak.
Standar kehidupan masyarakat sulit naik; tingginya angka pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi bahwa masyarakat suatu negara hidup dengan layak. Meskipun kesenjangan sosial masih sangat kentara, namun jika standar kehidupan masyarakat semakin naik artinya jarak antara pendapatan absolut dalam masyarakat semakin memudar.
Dalam artian, masyarakat dari kelas yang lebih rendah bisa mendapatkan pelayanan yang setara dengan masyarakat kelas atas. Ini bisa terjadi karena pendapatan yang terus naik akibat pertumbuhan ekonomi yang positif.
Sebaliknya, jika ekonomi melambat maka pendapatan masyarakat menjadi stagnan, bahkan semakin menurun. Saat pendapatan mereka menurun, maka standar kehidupan mereka pun ikut menurun. Hal ini menyebabkan daya beli masyarakat rendah sehingga terjadi perlambatan pada pertumbuhan ekonomi. Jatengdaily.com-yds
0



