By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Waduk Lalung Karanganyar Berubah jadi Hamparan Tanaman Padi
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Waduk Lalung Karanganyar Berubah jadi Hamparan Tanaman Padi

Last updated: 25 Juni 2019 19:49 19:49
Jatengdaily.com
Published: 25 Juni 2019 19:49
Share
Waduk Lalung di Karanganyar yang menyusut volumenya, dimanfaatkan warga untuk menanam padi. Foto: yds
SHARE

KARANGANYAR (Jatengdaily.com) – Waduk Lalung di Desa Lalung, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, juga mulai terdampak kekeringan. Sejak beberapa bulan terakhir volume air menyusut drastis.

Kini perairan waduk tinggal menyisakan di areal tengah dan pintu waduk saja. Sedangkan di pinggiran hingga hampir ke tengah berubah menjadi hamparan tanaman padi dan palawija, yang dikelola oleh warga setempat.

“Kalau bulan-bulan seperti sekarang, Juni sampai Agustus memang Waduk Lalung mesti kering. Nanti bisa lebih kering lagi (kerontang). Ini sudah biasa dan malah bisa dimanfaatkan warga untuk menanam padi,” kata Mbah Karto (70) warga setempat baru-baru ini.

Menurut Mbah Karto yang mengaku ikut membantu membangun tanggul waduk sekitar tahun 1960-an tersebut, dulu waduk tersebut bisa menampung air yang lebih banyak. Namun dari tahun ke tahun waduk dinilainya rusak dan dangkal sehingga sekarang tak bisa menampung air banyak.

“Ini waduk ketoke (kayaknya) peninggalan Belanda atau Jepang. Tapi saya ikut membantu membangun lagi (perbaikan) dengan ngunggahke tanggul,” kata Mbah Karto.

Waduk Lalung menurut data teknis yang ada dibangun sekitar tahun 1940. Waduk ini mempunyai elevasi normal 164,75 meter dengan volume air normal sekitar 5 jutaan meter kubik. Namun pada musim kemarau ini, data dari Pusdataru Provinsi Jateng, pada minggu ke V Mei (28 Mei-3 Juni 2019) volume air Waduk Lalung 2,24 juta meter kubik atau tinggal separuhnya.

Mengeringanya Waduk Lalung memang menjadi berkah tersendiri bagi warga setempat. Mereka bisa menanami areal waduk yang biasanya tenggelam dengan tanaman padi atau palawija. Bahkan bulan-bulan ini sudah memasuki masa panen, artinya mereka sudah bisa menanami sejak tiga bulan lalu.

Selain ditanami padi oleh warga, Waduk Lalung ternyata juga masih menjadi jujugan warga untuk berwisata murah. Mereka sering memanfaatkan untuk sekadar rekreasi menikmati panorama waduk maupun untuk menyalurkan hobi memancing.

“Kalau banyak yang memancing, juga berkah bagi warga setempat. Karena bisa menjual makanan atau minuman ke orang-orang yang sedang memancing,” kata Mbah Karto. yds

You Might Also Like

Komisi X Desak Pemerintah Buka Rekrutmen PPPK Tahap Kedua
Melihat Kecanggihan Pemantauan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Tambang di Pabrik Tuban
Menaker Minta Perusahaan Beri Kesempatan Pekerja Rayakan HUT Kemerdekaan RI
Ditreskrimsus Polda Jateng Tangkap Pelaku Pencucian Uang di BPR Kudus
Antisipasi Lonjakan Transaksi Lebaran, Bank Mandiri Region Jawa 2 Semarang Siapkan Rp4,18 Triliun dan Perkuat Ekosistem Digital
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?