By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Sedimentasi Tinggi, Waduk Botok Kering Lebih Dini
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Sedimentasi Tinggi, Waduk Botok Kering Lebih Dini

Last updated: 4 Juli 2019 08:23 08:23
Jatengdaily.com
Published: 4 Juli 2019 08:23
Share
Waduk Botok di Desa Mojodoyong, Kecamatan Kedawung Sragen kering kerontang pada musim kemarau ini. Foto: yds
SHARE

SRAGEN (Jatengdaily.com) – Kondisi Waduk Botok di Desa Mojodoyong, Kecamatan Kedawung, Sragen kering kerontang pada musim kemarau. Keringnya waduk ini terbilang lebih dini atau lebih cepat beberapa minggu dibandingkan musim kemarau sebelumnya.

Sedimentasi tinggi diperkirakan menjadi penyebab waduk tidak berfungsi optimal. Saat musim hujan, waduk tidak bisa menampung volume air yang maksimal, sedangkan ketika musim kemarau, waduk lebih cepat kering.

Staf Bagian Pemeliharaan Waduk Botok, Riyin Novianto, kemarin mengatakan sedimentasi di Waduk Botok memang terbilang tinggi. Bisa mencapai 1,5 sampai 2 meter. Sedimentasi berupa lumpur tebal tersebut bisa terlihat ketika waduk kering seperti sekarang.

“Sedimentasi Waduk Botok memang tinggi. Bahkan lumpur sedimentasi sampai keluar ke bagian pintu air dan jaringan irigasi yang akan mengaliri ke perairan areal pertanian,” tambah Riyin.

Keringnya Waduk Botok mengakibatkan ribuan areal pertanian di Sragen terancam kekurangan air irigasi. Foto: yds

Volume normal Waduk Botok adalah 513.540 m3 dan biasanya bisa mengairi sekitar 2.488 hektare areal pertanian khususnya di Sragen. Namun per 30 Juni 2019, volume air Waduk Botok tinggal 30.047 m3, sehingga ratusan ribu hektare tanaman pertanian di Sragen terancam tak terairi irigasi dari Waduk Botok yang dibangun pada tahun 1942 ini.

“Memang sebenarnya ini kan musim tanam ketiga, dan itu juga siklus tahunan kalau pada masa ini volume air Waduk Botok menurun atau kering sehingga tak bisa maksimal memberikan pengairan pertanian. Dan sekarang memang sudah memasuki musim tanam ketiga, seharusnya petani menanam palawija seperti yang dianjurkan,” tambah Riyin.

Kendati demikian Riyin mengakui bahwa fungsi Waduk Botok kini berkurang akibat tingginya sedimentasi. Jika sedimentasi ini segera diatasi dan waduk bisa berfungsi normal, mungkin ketika musim kemarau seperti sekarang masih ada sisa tampungan air untuk dialirkan ke jaringan irigasi pertanian petani.

Kondisi Waduk Botok memang terlihat memprihatinkan. Selain kering kerontang dan air tinggal menyisakan di pintu air dengan jumlah yang minimal. Hampir seluruh hamparan waduk terlihat lumpur tebal hingga dua meteran. Selain itu juga muncul pulau-pulau kecil akibat sedimentasi. Sebagian kecil areal waduk pun dimanfaatkan petani setempat untuk menanam palawija khususnya jagung. yds

You Might Also Like

Teliti Value Islamic Vanguard Spirit, Ken Sudarti Raih Doktor di Unissula
Konsisten Terapkan GCG, PT Semen Gresik Raih 3 Penghargaan Bergengsi TOP GRC Awards 2024 
Angka Kesembuhan Mingguan COVID-19 Naik 14,1%
Pendaftaran Pemilukada 2024 Jalur Independen Dibuka 5 Mei
Bantuan 15 Ton Penanganan Darurat Hari Ini Tiba di Wilayah NTT
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?