Oleh: Gunoto Saparie
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan kecerdasan buatan, banyak jenis sastra klasik dan konvensional mulai kehilangan tempat di hati pembaca. Buku cetak perlahan digantikan oleh layar, dan puisi-puisi liris semakin jarang terdengar gaungnya dalam ruang publik. Namun yang mengejutkan, sebuah bentuk baru dalam kesusastraan Indonesia justru tumbuh subur dan berkembang menjadi sebuah gerakan yang kuat: puisi esai. Gerakan ini dipelopori oleh Denny JA, seorang tokoh publik, penulis, dan intelektual Indonesia, yang berhasil menciptakan sebuah genre baru yang bukan hanya bertahan, tetapi juga meluas pengaruhnya.
Puisi esai merupakan perpaduan unik antara puisi naratif dan esai reflektif. Ia mengusung struktur narasi panjang yang menarasikan tokoh, peristiwa, dan konflik sosial, namun tetap mempertahankan unsur estetik dan ritmis dari puisi. Ciri khas lain dari puisi esai adalah keberadaan data dan fakta sosial yang terintegrasi secara harmonis dalam narasi puitik. Dengan kata lain, puisi esai tidak hanya menyentuh rasa, tetapi juga mengasah pikir.
Yang menarik, gaya penulisan puisi esai bercirikan kedalaman pemikiran, kebebasan asosiasi, dan kemampuan merangkum realitas dalam narasi yang tampak personal namun menyimpan dimensi sosial dan politis yang kuat. Denny membawa semangat itu ke dalam puisi esai, dengan menambahkan elemen dramatik dan alur cerita yang utuh.
Gerakan ini kemudian dikenal sebagai Angkatan Puisi Esai, sebuah istilah yang merujuk pada para penulis yang mengadopsi dan mengembangkan gaya puisi ini setelah kemunculan karya monumental Atas Nama Cinta (2012), antologi puisi esai pertama karya Denny. Sejak saat itu, ratusan penulis dari berbagai daerah ikut serta dalam proyek puisi esai, yang berkembang menjadi gerakan literasi lintas wilayah dan budaya. Puluhan buku telah diterbitkan, dan lomba-lomba puisi esai pun rutin digelar, menjadikannya salah satu bentuk sastra paling produktif dalam dekade terakhir.
Di era ketika perhatian generasi muda cenderung tersita oleh gawai, media sosial, dan hiburan instan, muncul satu fenomena yang mengejutkan sekaligus menggembirakan: minat besar anak-anak muda terhadap puisi esai. Di tengah gempuran budaya digital yang serba cepat, puisi esai justru tumbuh subur sebagai bentuk ekspresi yang tidak hanya menarik, tetapi juga menyentuh sisi intelektual dan sosial mereka. Genre ini menghadirkan wajah baru sastra: lebih inklusif, terbuka, dan relevan.
Yang membedakan puisi esai dari bentuk puisi konvensional adalah pendekatannya yang naratif, argumentatif, dan factual, tanpa kehilangan keindahan bahasa. Puisi esai tidak mensyaratkan penulisnya harus penyair. Siapa pun bisa ambil bagian: pelajar, mahasiswa, santri, guru, aktivis, atau bahkan mereka yang tak memiliki latar belakang sastra sekalipun. Inilah yang membuat genre ini begitu diminati oleh generasi muda. Ia memberi ruang yang luas bagi mereka untuk mengekspresikan keresahan, pengalaman, dan pandangan terhadap berbagai isu sosial, tanpa dibatasi oleh syarat teknis sastra yang kaku.
Contoh konkret datang dari Blora, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kota ini dikenal sebagai tanah kelahiran sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, dan kini kembali bergema dalam lanskap sastra Indonesia modern melalui pelatihan penulisan puisi esai oleh Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena belum lama ini. Yang mengejutkan, pelatihan ini diikuti secara antusias oleh para pelajar dan santri. Mereka datang bukan karena diwajibkan, tetapi karena tertarik. Mereka menemukan dalam puisi esai medium baru yang bisa menjembatani nilai-nilai religius, sosial, dan refleksi pribadi ke dalam bentuk tulisan yang bermakna dan bernas.
Salah satu daya tarik kuat puisi esai terletak pada gaya penulisannya yang cenderung bebas, reflektif, kadang menyisipkan perenungan filosofis, namun tetap terhubung dengan realitas sehari-hari. Bagi generasi muda yang terbiasa berpikir kritis dan multidimensi, pendekatan ini terasa dekat dan membebaskan.
Puisi esai juga tidak sekadar bentuk seni, tetapi telah menjadi alat pendidikan. Dalam pelatihan-pelatihan itu, para peserta belajar meramu data, membingkai narasi, dan menyampaikan argumen dalam bentuk yang estetis. Mereka belajar berpikir kritis dan empatik dalam waktu yang bersamaan. Puisi esai mendorong mereka untuk tidak hanya merasakan, tetapi juga memahami dan menyuarakan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa puisi belum mati, dan bahkan tengah memasuki babak baru yang lebih terbuka dan demokratis. Dalam puisi esai, generasi muda menemukan suara mereka sendiri—suara yang tak harus puitis dalam bentuk, tapi tetap menyentuh dalam makna. Mereka tidak harus menjadi Chairil Anwar untuk bisa menulis. Cukup menjadi diri sendiri yang jujur dan peduli pada sekitar.
Lebih dari sekadar genre sastra, puisi esai kini telah menjelma menjadi gerakan sosial literasi. Ia menanamkan gagasan bahwa semua orang bisa menulis, bahwa semua pengalaman layak didengar, dan bahwa sastra bisa menjadi alat perubahan. Di tengah perubahan zaman, puisi esai bukanlah warisan masa lalu, tetapi jembatan menuju masa depan literasi yang lebih luas dan inklusif.
Keberhasilan puisi esai di tengah gempuran teknologi justru menjadi anomali yang menarik. Di saat konten-konten singkat dan instan mendominasi dunia digital, puisi esai menawarkan bacaan panjang yang menuntut perenungan dan empati. Ia menjadi ruang alternatif bagi pembaca yangmerindukan kedalaman, sekaligus sarana bagi penulis untuk menyuarakan isu-isu sosial seperti kemiskinan, ketimpangan gender, radikalisme, dan krisis identitas.
Selalu ada nama-nama yang menolak tenggelam. Dalam sejarah sastra Indonesia, setiap zaman memiliki tokohnya. Bukan hanya karena mereka menulis, tetapi karena mereka mewakili sebuah gerakan, sebuah kecenderungan, sebuah semangat zaman. Demikian pula dalam gerakan puisi esai, sebuah bentuk baru yang tidak hanya mencoba bereksperimen dalam gaya, tetapi juga dalam cara memandang kenyataan.
Genre ini lahir dari tangan Denny JA dan itu tak bisa dibantah. Tapi ia tak tumbuh sendirian. Setiap gerakan butuh bukan hanya ide, tapi juga penyangga, penjaga api, dan penjaga arah. Dalam sejarah puisi esai, kita bisa menyebut Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, dan Ahmad Gaus sebagai tiga pilar yang secara intelektual mengukuhkan fondasinya. Merekalah yang menyuplai teori, kritik, dan konteks yang membuat puisi esai tak hanya sebagai karya, tetapi sebagai wacana. Mereka, dalam caranya masing-masing, memberi napas panjang bagi genre yang muda ini membuatnya tak sekadar tren.
Namun puisi esai tak akan menjadi gerakan jika hanya tinggal di atas meja redaksi atau ruang seminar. Ia hidup karena ditulis. Ia tumbuh karena dijalani. Dan karena itu, kita tak boleh melupakan para penulisnya yang setia: mereka yang bersedia turun ke gelanggang, menulis dengan penuh keyakinan, kadang dengan bahasa yang sederhana, kadang dengan luka yang dalam.
Ada Fatin Hamama, dengan puisinya yang membawa aroma perempuan dan luka-luka sunyi yang tak diberi ruang. Ada Anwar Putra Bayu, yang dalam puisinya menyisipkan lokalitas dengan kekuatan naratif yang utuh. D. Kemalawati, penyair dari Aceh, membawa tragedi dan sejarah bangsanya ke dalam bentuk baru yang menghimpun antara kenangan dan gugatan. Nia Samsihono yang lembut namun tajam. Dhenok Kristianti, yang menyuarakan suara-suara dari pinggiran, dari ruang-ruang yang sering luput dari pusat perhatian. Dan tentu, Isbedy Stiawan ZS, yang seperti tak pernah lelah membangun jembatan antara puisi dan peristiwa sosial.
Nama-nama ini tidak hanya menulis. Mereka juga hadir di ruang-ruang diskusi. Mereka mengisi pelatihan. Mereka membuka ruang bagi yang lain. Dengan cara mereka sendiri, mereka memperluas jalan yang dirintis Denny JA. Mereka membuat puisi esai tak hanya jadi suara elite, tapi suara bersama.
Mungkin inilah yang membuat puisi esai tak pernah merasa sendirian. Ia seperti sungai yang tak berhenti menerima anak-anak air dari berbagai mata. Ia terbuka. Ia mempersilakan siapa pun datang, bahkan yang bukan penyair sekalipun. Tetapi untuk bisa menjadi gerakan, ia butuh wajah-wajah. Wajah yang bisa dilihat. Nama-nama yang bisa dikenang.
Dan seperti yang kita tahu, sejarah selalu mencatat bukan hanya ide, tapi juga para pengembannya. Puisi esai bisa saja jadi genre. Tetapi ia baru menjadi gerakan karena ada orang-orang yang memperjuangkannya dengan pena, dengan waktu, dan kadang dengan kesunyian panjang yang tak selalu dipahami.
Dalam konteks kesusastraan Indonesia, Angkatan Puisi Esai merupakan sebuah titik penting. Ia menunjukkan bahwa sastra tidak harus tunduk pada zaman, tetapi bisa bersinergi dengannya. Ia juga menegaskan bahwa inovasi dalam bentuk dan isi bisa menjadi jalan keluar bagi stagnasi sastra. Bukan tidak mungkin, puisi esai akan dikenang sebagai salah satu warisan penting dalam perkembangan sastra Indonesia modern.
Lebih dari sekadar genre, puisi esai adalah gerakan. Dan di balik gerakan itu, berdiri nama Denny JA, bukan hanya sebagai pelopor, tetapi juga sebagai katalis perubahan dalam wajah sastra Indonesia kontemporer.
*Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Satupena Jawa Tengah. Jatengdaily.com-st


