Dawet Dibal, Kuliner Legend yang Hampir Punah

Dawet jadul asal Desa Dibal dan Sawahan Kecamatan Ngemplak, menjadi kuliner legend karena sudah ada sejak puluhan tahun silam. Kini menjadi kuliner klangenan warga Solo sekitarnya. Foto: yds

SOLO (Jatengdaily.com) – Era tahun 1980 hingga 2000-an, kuliner satu ini memang sangat digemari warga Solo dan sekitarnya. Warga Solo sering menamainya Dawet Sawahan, namun juga ada sebagian yang menyebut Dawet Dibal.

Kuliner dawet segar ini, dijajakan dari kampung ke kampung di wilayah Solo. Penjualnya sangat khas, bercaping dengan memikul tenggok yang berisi kendhil, sebagai tempat santan, gula jawa serta cendhol.

Dawet legend ini, mempunyai khas ras yang berbeda dengan lainnya. Meskipun sebenarnya, isian dawet sangat sederhana, cuma santan, cendhol dan gula jawa. Namun yang membedakan, rasa manis gula jawanya terasa halus dan tak bikin gatal tenggorokan. Selain itu cendhol juga tanpa pewarna dan terasa lembut. Yang jelas bikin segar saja dan tak bikin sakit tenggorokan.

Dawet ini terbilang sederhana, namun rasanya mewah, karena manis gula jawa asli dan cendhol dibikin sendiri oleh penjualnya. Foto: yds

Namun kini penjual dawet jadul ini semakin punah. Hampir tak ada lagi penjual yang menjajakan dari kampung ke kampung di Kota Solo. Salah satu penjual yang bertahan adalah Mbah Dasto (70), itupun sekarang tak berkeliling dan cuma menjajakan menetap di daerah Dibal, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, tepatnya di pinggir jalan raya Utara Bandara Adi Soemarmo, Boyolali.

Menurut Mbah Dasto, yang jualan Dawet Dibal secara tradisional dengan tenggok dipikul seperti dirinya, mungkin tinggal dua orang. Ada penjual lain namun naik sepeda motor. “Saya sudah jualan dawet sejak tahun 1970-an, dan dipikul terus. Dulu saya juga sampai Sriwedari (Kota Solo), sekarang pilih manggrok (menetap) saja di sini,” kata Mbah Dasto.

Mbah Dasto pun tak pernah mengurangi nuansa tradisional dalam berjualan dawet. Mulai dari tenggoknya yang khas, bercaping serta kendhil yang tak pernah dihilangkan. Dia juga mengaku membuat sendiri cendholnya, serta santan dibuat ndadak (seketika) setelah habis. “Kalau santan dibuat banyak terus disimpan, takutnya basi dan mengurangi rasa,” tambah warga asli Desa Dibal ini.

Dia mengakui, sekarang ini banyak yang menjadikan dawetnya sebagai kuliner klangenan. Kebetulan tempat jualnnya dekat Bandara Adi Soemarmo, sehingga sering warga Solo yang lewat sekaligus menikmati dawet yang konon sudah ada sejak 1970-an ini.

Mbah Dasto memarut kelapa untuk membikin santan langsung untuk dawetnya. Foto: yds

“Di sini saya juga lebih enak. Nggak capek, sudah banyak pembeli yang datang. Sehari saya bisa mendapat Rp 250 ribuan, dengan harga Rp 3.000 per mangkuk. Tapi tak perlu ke mana-mana, dekat dengan rumah,” ungkapnya.

Nama Dawet Dibal atau Sawahan sebenarnya mengambil dari nama desa yang letaknya berdekatan di daerah Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. Memang dari dulu, penjual dawet ini rata-rata berasal dari kedua desa tersebut, dan menjajakannya berjalan kaki, hingga perkotaan dari kampung ke kampung di Solo. yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here