By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Dawet Dibal, Kuliner Legend yang Hampir Punah
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
JedaKuliner

Dawet Dibal, Kuliner Legend yang Hampir Punah

Last updated: 31 Desember 2019 15:47 15:47
Jatengdaily.com
Published: 31 Desember 2019 15:47
Share
Dawet jadul asal Desa Dibal dan Sawahan Kecamatan Ngemplak, menjadi kuliner legend karena sudah ada sejak puluhan tahun silam. Kini menjadi kuliner klangenan warga Solo sekitarnya. Foto: yds
SHARE

SOLO (Jatengdaily.com) – Era tahun 1980 hingga 2000-an, kuliner satu ini memang sangat digemari warga Solo dan sekitarnya. Warga Solo sering menamainya Dawet Sawahan, namun juga ada sebagian yang menyebut Dawet Dibal.

Kuliner dawet segar ini, dijajakan dari kampung ke kampung di wilayah Solo. Penjualnya sangat khas, bercaping dengan memikul tenggok yang berisi kendhil, sebagai tempat santan, gula jawa serta cendhol.

Dawet legend ini, mempunyai khas ras yang berbeda dengan lainnya. Meskipun sebenarnya, isian dawet sangat sederhana, cuma santan, cendhol dan gula jawa. Namun yang membedakan, rasa manis gula jawanya terasa halus dan tak bikin gatal tenggorokan. Selain itu cendhol juga tanpa pewarna dan terasa lembut. Yang jelas bikin segar saja dan tak bikin sakit tenggorokan.

Dawet ini terbilang sederhana, namun rasanya mewah, karena manis gula jawa asli dan cendhol dibikin sendiri oleh penjualnya. Foto: yds

Namun kini penjual dawet jadul ini semakin punah. Hampir tak ada lagi penjual yang menjajakan dari kampung ke kampung di Kota Solo. Salah satu penjual yang bertahan adalah Mbah Dasto (70), itupun sekarang tak berkeliling dan cuma menjajakan menetap di daerah Dibal, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, tepatnya di pinggir jalan raya Utara Bandara Adi Soemarmo, Boyolali.

Menurut Mbah Dasto, yang jualan Dawet Dibal secara tradisional dengan tenggok dipikul seperti dirinya, mungkin tinggal dua orang. Ada penjual lain namun naik sepeda motor. “Saya sudah jualan dawet sejak tahun 1970-an, dan dipikul terus. Dulu saya juga sampai Sriwedari (Kota Solo), sekarang pilih manggrok (menetap) saja di sini,” kata Mbah Dasto.

Mbah Dasto pun tak pernah mengurangi nuansa tradisional dalam berjualan dawet. Mulai dari tenggoknya yang khas, bercaping serta kendhil yang tak pernah dihilangkan. Dia juga mengaku membuat sendiri cendholnya, serta santan dibuat ndadak (seketika) setelah habis. “Kalau santan dibuat banyak terus disimpan, takutnya basi dan mengurangi rasa,” tambah warga asli Desa Dibal ini.

Dia mengakui, sekarang ini banyak yang menjadikan dawetnya sebagai kuliner klangenan. Kebetulan tempat jualnnya dekat Bandara Adi Soemarmo, sehingga sering warga Solo yang lewat sekaligus menikmati dawet yang konon sudah ada sejak 1970-an ini.

Mbah Dasto memarut kelapa untuk membikin santan langsung untuk dawetnya. Foto: yds

“Di sini saya juga lebih enak. Nggak capek, sudah banyak pembeli yang datang. Sehari saya bisa mendapat Rp 250 ribuan, dengan harga Rp 3.000 per mangkuk. Tapi tak perlu ke mana-mana, dekat dengan rumah,” ungkapnya.

Nama Dawet Dibal atau Sawahan sebenarnya mengambil dari nama desa yang letaknya berdekatan di daerah Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. Memang dari dulu, penjual dawet ini rata-rata berasal dari kedua desa tersebut, dan menjajakannya berjalan kaki, hingga perkotaan dari kampung ke kampung di Solo. yds

You Might Also Like

Kemah Sastra Indonesia 2021 Tampilkan Ganjar
Peringati HUT Ke-17, GCN Kerja Bareng Papatong Artspace Gelar Pertunjukan ‘Keumalahayati – Laskar Inong Bale’
Ganjar Minta di Libur Nataru, Mal dan Objek Wisata Wajib Batasi Jam Operasional
Meriahnya Festival Sawah & Jajanan di Kecamatan Mijen Semarang
Rally Wisata 2019 Kenalkan Wisata di Jateng
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?