Debat Terakhir, Tolak Ukur Swing Voters

Paslon Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menjalani debat terakhir malam nanti. Foto: instagram KPU

SEMARANG – Sebelum pencoblosan 17 April mendatang, kedua pasangan calon (paslon) capres akan menjalani debat terakhir Sabtu (13/4) malam nanti. Baik paslon Jokowi-Ma’ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno diprediksi akan mengeluarkan jurus-jurus terakhirnya untuk menarik simpati para calon pemilihnya.

Debat final akan digelar di Sultan Hotel, Jakarta Pusat. Debat akan mengangkat tema Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Keuangan, dan Investasi, serta Perdagangan dan Industri.

Tema ekonomi diperkirakan juga akan menjadi penyebab debat nanti lebih seru. Mengingat sejauh ini menjadi isu sentral yang sering dibawa kedua paslon dalam kampanyenya.

Anggota Tim Ekonomi, Penelitian, dan Pengembangan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Harryadin Mahardika mengklaim Prabowo menyiapkan beberapa topik yang akan diangkat dalam debat capres terakhir nanti. Antara lain, cara menurunkan harga bahan pokok, tarif listrik, hingga upaya mengerek penerimaan pajak.

Hal-hal itu yang membuat Prabowo optimistis pertumbuhan ekonomi RI bisa terkerek ke level 8 persen dalam 10 tahun. “Kami akan perbaiki dengan melakukan reformasi struktural di perekonomian,” imbuh dia.

Anggota Tim Ekonomi Jokowi Arif Budimanta menyebut petahana Jokowi akan membela diri pemerintahannya dengan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Diklaim berkualitas karena pertumbuhan ekonomi diiringi dengan menurunnya tingkat pengangguran, kemiskinan, termasuk ketimpangan di Indonesia.

Sebagai informasi, pada pemerintahan Jokowi angka kemiskinan sampai dengan September 2018 bisa ditekan sampai dengan 9,66 persen tinggal 25,67 juta orang. Angka tersebut merupakan level terendah sepanjang sejarah.

Angka pengangguran bisa ditekan dari yang 2014 lalu masih 5,7 persen menjadi 5,34 persen sampai dengan Agustus 2018 kemarin. Arif mengatakan pekerjaan mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran memang belum selesai.

Peneliti Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS) Arya Fernandez menyebut, debat terakhir merupakan momentum kedua paslon untuk meyakinkan pemilih. “Ini adalah momentum terakhir yang bisa digunakan untuk meyakinkan pemilih,” kata Arya dilansir Liputan6.com .

Arya memprediksi, pertarungan adu gagasan antara Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi akan berlangsung ketat. Apalagi, tema yang diangkat dalam debat kelima ini menjadi fokus kedua paslon dalam setiap kampanye.

“Saya kira Pak Prabowo mungkin nanti akan menyerang. Apalagi ini isu yang menjadi konsen mereka ya. Lapangan kerja dan seterusnya. Saya kira Jokowi akan tampil bertahan. Itu saya kira,” ungkap Arya.

Menurut Arya, Prabowo akan menggunakan isu soal utang di pemerintahan Jokowi hingga lapangan pekerjaan. Sementara Jokowi akan lebih banyak bertahan dengan argumen dan keberhasilan pemerintahan yang dipimpinnya.

Arya mengatakan, debat kelima ini akan mempengaruhi keputusan swing voters dan undecided voters. Ia berharap, gagasan yang disampaikan kedua paslon bisa membuat undecided voters menentukan pilihannya pada Pemilu Serentak 2019.

“Saya percaya orang-orang yang undecided voters dan swing voters akan menyaksikan debat sebagai tolak ukur. Bagaimana program yang diangkat skala nasional dan lainnya,” ucap Arya.

Sedangkan Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, kedua paslon cukup menguasai tema debat kelima ini.

Menurutnya, Jokowi-Ma’ruf akan membawa keberhasilan pemerintahan selama 4,5 tahun. Sedangkan Prabowo-Sandi membawa janji dan perubahan khususnya di bidang ekonomi. “Dua-duanya saya rasa sama-sama menguasai. Isu ekonomi ini memang jadi kekuatan kedua paslon,” kata Pangi. yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here