Vincent Van Gogh (dalam bentuk lukisan), cerita tentang dia akan digelar dan digagas oleh JYPA bekerjasama dengan SLC. Foto: by

JAKARTA (Jatengdaily.com)– Sebuah pagelaran teater mengangkat tema Still Life: The Story of Vincent Van Gogh, Juni 2019 akan digelar di Indonesia. Adalah Youth for Performing Arts (JYPA) bekerja sama dengan Saraswati Learning Center (SLC) yang menggagas acara yang menginspirasi tersebut.

Pagelaran sendiri akan mengkisahkan sisi lain dari Van Gogh, orang hebat yang dianggap gila hingga dikirim ke rumah sakit jiwa. Vincent Van Gogh adalah pelukis pascaimpresionis Belanda yang menjadi salah satu tokoh paling terkenal dan berpengaruh dalam sejarah seni di Barat.

COO Jakarta Youth For Performing Arts dan Produser Still Life, Divanka Larastessya Djamalus mengatakan musikal tersebut menceritakan kisah orang-orang yang berada dalam hidupnya, dan bagaimana mereka memengaruhi kehidupannya.

“Meski tujuan utama JYPA adalah untuk memajukan para pemuda, mereka juga mempunyai tujuan untuk menyebarkan pesan-pesan penting melalui komunitas mereka. Still Life tidak terbatas dengan musik, seni dan tari, tetapi juga menyebarkan pesan positif tentang masalah-masalah yang diremehkan di Indonesia,” ujar Divanka di Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Divanka menambahkan masyarakat Indonesia cenderung mengabaikan meningkatnya masalah kesehatan mental, dan JYPA sangat berharap untuk dapat menghilangkan stigmatisasi prasangka negatif penyakit mental dengan cara melukiskan kehidupan jujur, namun indah yang sudah dilalui oleh Vincent Van Gogh.

Dari kolaborasi dengan Saraswati Learning Center, mereka akan menyebarkan kesadaran terhadap kesehatan mental dan kecacatan mobilitas kognitif, seperti Cerebral Palsy, Down Syndrome dan lain lain,” tambah dia.

Sementara Pendiri Saraswati Learning Center (SLC), Reshma Wijaya Bhojwani mengatakan teater musik dan juga lelang lukisan yang dibuat oleh kolaborasi seniman dengan difabel tersebut sebagai ajang pembuktian untuk mengubah pola pikir.

Dikatakan Reshma, semua orang harus melihat dari segi kemampuan masing-masing individu bukan dari ketidakmampuan. “Kita semua berbeda baik dari segi penampilan, karakter, kegemaran, pola pikir dan sebagainya.Jadi mulai sekarang juga rubah pola pikir lihat dari segi kemampuan bukan dari ketidakmampuan,” tandas Reshma Wijaya. by-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here