in ,

Memotivasi Investasi & Konsumsi Rumah Tangga dalam Menopang Perekonomian RI

SEMARANG (Jatengdaily.com)- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2018 hingga sekarang tetap pada angka 5,17% dari tahun ke tahun.Agka tertinggi yang diperoleh sejak tahun 2014.

Di setiap tahunnya pertumbuhan ekonomi tersebut lebih tinggi dari capaian 2017 yang hanya mencapai 5,07%. Namun,kenyataannya tidak sesuai dengan target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditargertkan sebesar 5,4%.

Jika dihitung,konsumsi rumah tangga juga sangat berpengaruh terhadap penompang sebagian besar pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dari 5,17% pertumbuhan ekonomi Indonesia konsumsi rumah tangga mencapai 2,74% atau lebih dari setengahnya.

Kemudian, pertumbuhan investasi naik mencapai 7,27%. Pertumbuhan investasi di dorong oleh sektor non-bangunan yang tumbuh tinggi sejalan dengan percepatan investasi untuk sektor produksi dan sektor bangunan masih tumbuh didorong oleh proyek infrastruktur pemerintah. Dalam pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi mencapai sebesar 2,17%. Sementara pada kenyataannya laju pertumbuhan impor lebih cepat dari ekspor. Dan sisanya berasal dari konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga 0,1% dan konsumsi pemerintah 0,38%.

Kemajuan suatu perekonomian ditentukan oleh besarnya pertumbuhan ekonomi yang ada. Seperti Teori Pertumbuhan yang diungkapkan oleh Harrod-Domar bahwa teori ini menekankan pentingnya investasi bagi pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi investasi maka akan semakin baik perekonomian, investasi tidak hanya memengaruhi permintaan saja tetapi penawaran juga melalui pengaruhnya terhadap kapasitas produksi.

Dalam hal ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi,Indonesia memerlukan fokus yang berkesinambungan dengan peningkatan daya saing dan pengembangan sumber daya manusia.Investasi dalam negeri dan konsumsi rumah tangga yang kuat telah menjadi kompensasi dari kinerja ekspor yang lemah. Perkiraan ini ditopang dengan daya saing dan iklim investasi yang membaik dari sebelumnya,stabilitas makroekonomi terjaga,serta belanja pemerintah dan belanja lembaga non profit rumah tangga yang kuat.Pemulihan ekonomi yang dilakukan menjadi landasan berlanjutnya pemulihan pertumbuhan ekonomi selanjutnya.

Seperti dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakernas) Kementrian Perdagangan Darmin Nasution sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia salah satunya adalah perdagangan ekspor. Karena dengan perdagangan ekspor yang tinggi kemudian dapat diimbangi oleh impor maka secara otomatis pertumbuhan ekonomi RI dapat membaik lagi. Perdagangan ekspor adalah salah satu pilar yang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ekspor juga bisa mempercepat pertumbuhan kalau kita bisa memperluas ekspor kita mencari market baru atau mengekspor komoditi baru.

Kemudian faktor kedua dalam memperbaiki pertumbuhan ekonomi RI adalah dengan menggenjot investasi dan konsumsi rumah tangga. Dengan dua faktor itu, diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sedangkan menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa demand dan supply tunjukkan pertumbuhan cukup baik sehingga kami harap akan tercemin di statistik pertumbuhan ekonomi nantinya.

Selain itu, konsumsi rumah tangga diharapkan dapat tetap menopang pertumbuhan ekonomi kuartal II, karena adanya momentum perluasan. Sedangkan dari sisi investasi, lonjakan impor mayoritas barang modal diharapkan mampu berkontribusi lebih terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia ditambah dengan belanja pemerintah yang diharpakn lebih terakselerasi.

Merlin Nurhandayani
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unissula

Written by Jatengdaily.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Puasa, Kejujuran, dan Kedisiplinan

Desain Jembatan Mahasiswa FT Unissula Terbaik se Jateng – DIY