Era Digital dan Tugas Berat Ulama

Oleh Ahmad Rofiq

PERKEMBANGAN  sains dan teknologi yang makin canggih (sophisticated) dan bersentuhan dengan industri, melahirkan suatu era revolusi industri 4.0, yang lazim disebut dengan era disrupsi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan, bahwa disrupsi artinya hal tercabut dari akarnya. Dalam pengertian umum sederhana, disrupsi adalah terjadinya perubahan fundamental atau mendasar, akibat kemajuan teknologi. Fenomena digitalisasi, di mana komunikasi berlangsung dalam skala masif, paperless, cashless dalam dunia perbankan, munculnya intelegensi buatan (artificial intelligence) yang melanda generasi millenial, melahirkan tantangan baru dalam kehidupan umat manusia.

Era serba digital ini tampaknya bagian dari hukum alam (natural law) atau sunnatuLlah, yang mau tidak mau, rela tidak rela, harus diterima dengan segala persiapan dan kesiapan, segala implikasi positif dan negatifnya, sebagaimana amanat kalimat bijak (mahfudhat) yang berbunyi “al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” artinya “memelihara nilai, aturan, norma, yang lama yang baik, dan mengambil nilai, aturan, norma baru yang lebih baik”.

Ulama bentuk jamak dari kata ‘alim, artinya orang yang berilmu. Al-Quran (35):29 menegaskan, “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Allah menegaskan, bahwa hanya ulama lah, yang takut kepada Allah. Redaksi yang digunakan pun, menggunakan kata kerja bentuk sedang dan akan datang (ingform dan future tense) yang menurut para ahli bahasa, penggunaan fi’il mudlari’ ini mengandung pesan adanya kesinambungan untuk memperbaharui (istimrar al-tajaddud atau sustainability reform). Berarti ulama menurut ayat di atas, akan secara terus menerus takut kepada Allah. Karena itu, Ulama sering disebut sebagai ahli waris para Nabi (al-‘Ulama waratsatu al-anbiya’).

Merefer pada ungkapan di atas, maka Ulama memiliki tugas dan tanggung jawab untuk terus melaksanakan tugas-tugas kenabian (prophetic) untuk melanjutkan misi Rasulullah saw, untuk membawa ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Rasulullah saw menyatakan, “Shinfaani min al-naas idza shaluhaa shaluha al-naas wa idzaa fasadaa fasada al-naas al-‘ulama wa al-umara’” artinya “Dua golongan manusia apabila dua golongan tersebut baik, maka baiklah manusia, dan apabila dua golongan manusia itu rusak, maka rusaklah manusia. Mereka itu adalah ulama dan umara (pemimpin pemerintah)”.

Lalu bagaimana para Ulama merespons era digital atau era disrupsi? Menolak jelas, tidak mungkin. Karena era digital ini terus merangsek dengan percepatan yang begitu dramatis. Karena itu, pertama, sains dan teknologi ini harus dijinakkan, dikelola, dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dalam dunia digitalisasi, banyak sekali khazanah ke-Islaman klasik atau lama yang seirng disebut turats sudah banyak yang dilakukan digitalisasi dengan sangat baik. Demikian juga, khazanah ke-Islaman karya-karya Ulama atau sarjana baru, yang juga sudah didigitalkan.

Lebih dari itu Al-Quran, kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadits sembilan yang dikenal dengan Kutub al-Tis’ah yang sudah bisa dinikmati sejak puluhan tahun, termasuk e-books dari ilmu-ilmu metodologi penelitian ilmu-ilmu Al Qur’an, metodologi penelitian ilmu-ilmu Hadits, dan lain sebagainya. Tentu ini, dibutuhkan asistensi oleh para santri, agar kemajuan sains dan teknologi bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Kedua, era digitalisasi ini, belakangan menjadi instrumen dan media dakwah yang sangat masif, dan dikonsumsi oleh generasi millenial yang dengan sangat mudah berdampak penetratif pada mereka. Karena itu, ulama diharapkan bisa memanfaatkan untuk bisa memanfaatkan media digital ini sebagai media dakwah dengan misi mengajarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, dengan mengusung moderasi, persaudaraan, toleransi, dan mengarusutamakan kemajemukan sebagai kekayaan khazanah bangsa kita yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Ketiga, sebenarnya sudah banyak ulama atau pesantren yang sudah memanfaatkan dunia digital atau dunia maya ini, untuk berdakwah dan memberikan informasi kepada masyarakat. Bahwa masih ada kelompok masyarakat yang secara masif menyampaikan dakwah sesuai dengan faham atau manhaj pemahaman ke-Islaman yang boleh jadi kurang atau tidak sejalan dengan kerangka NKRI, Pancasila, dan UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Tantangan Ulama bertambah hari tidak semakin ringan, akan tetapi semakin berat. Sebelum masyarakat kita terjebak pada ajaran dan faham yang tidak sesuai dengan falsafah hidup Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, maka pemanfaatan dunia maya atau dunia digital, untuk dakwah dan pencerdasan umat, merupakan suatu keniscayaan. Allah a’lam bi sh-shawab.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, M.A, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, dan Guru Besar Ilmu Hukum Islam UIN Walisongo Semarang.Jatengdaily.com-st