Pelajar Belgia Tertarik Ikut Membatik

Para pelajar di Surakarta dan pelajar dari Belgia ikut meramaikan membatik bersama di Pura Mangkunegaran, Solo. Foto:dok/hms

SURAKARTA (Jatengdaily.com) – Peringatan Hari Batik Nasional yang dipusatkan di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Rabu (2/10/2019) digelar membatik bersama yang diikuti tak kurang dari 500 orang.

Selain perajin batik, diikuti pula para pelajar maupun pelajar asal Belgia dalam program pertukaran pelajar dunia, atau Rotary Youth Exchange pun ikut ambil bagian dalam kegiatan itu.

“Ini menjadi pengalaman baru bagi saya. Saya mau membatik selendang, dan ini masih tahap belajar. Batik bagi saya adalah karya seni seperti lukisan beragam corak yang aku kira sulit, karena ada banyak tahapan untuk mendapatkan hasil akhir yang luar biasa cantiknya. Kalau buatan saya, hasilnya entah seperti apa nanti,” kata Julie, pelajar asal Belgia yang ditemui saat mencanting.
Momentum Hari Batik dihadiri

Sebelum mulai membatik, Gubernur Ganjar Pranowo terlebih dahulu melantunkan doa agar acara itu berjalan lancar. “Allahumma ubat-ubet, bisa nyandang bisa ngliwet. Allahumma ubat-ubet, moga-moga pinaringan slamet. Allahumma kitra-kitri, sugih bebek sugih meri. Allahumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari.”

Doa agar tekun bekerja dan diberi kelapangan rizki, ijazah dari Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Watucongol Magelang KH Dalhar itu dilantunkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk mendoakan para perajin batik maupun tamu undangan, yang hadir dan melestarikan batik dalam Peringatan Hari Batik Nasional di Pura Mangkunegaran Surakarta, Rabu (2/10/2019) siang.

Doa Ganjar itu diamini oleh Presiden RI Joko Widodo, Ibu Negara Iriana Joko Widodo, istri Wakil Presiden Mufidah Jusuf Kalla, anggota Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE) Kabinet Kerja maupun tamu undangan.

Menurut Ganjar, upaya melestarikan dan mengenalkan batik sudah dilakukan oleh para orang tua sejak zaman dahulu. Mulai bayi dalam kandungan usia tujuh bulan, dikenalkan batik wahyu temurun dalam prosesi mitoni, dengan harapan si calon bayi kelak selalu mendapat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian, dalam prosesi itu dilanjutkan dengan mengenakan batik motif garuda yang merupakan kombinasi dengan batik lain seperti parang atau kawung. Diharapkan nantinya sang anak mampu meraih cita-cita yang tinggi dengan tetap bersifat rendah hati kepada sesama (kawung), bersifat ksatria yang berbudi luhur, dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi.

Presiden Jokowi mencoba membatik pada peringatan Hari Batik Nasional di Solo. Foto:dok/hms

Motif batik yang ketiga untuk dikenakan, adalah motif sido mukti, yang memiliki harapan bayi akan memiliki hidup yang makmur dan dilebihkan selalu rezekinya oleh Yang Maha Kuasa. Selain itu, motif ini juga melambangkan keinginan agar anak selalu mampu membanggakan orang tua.

“Ada pula batik corak semen rante yang berarti cinta dan bangsa yang bersatu. Perjalanan batik si tengah gempuran teknologi, ada yang nyungsep, ada yang terus berkembang. Ini tugas kita untuk terus melestarikan karena sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009,” kata Ganjar.

Presiden Jokowi pun mengakui, corak batik saat ini sudah beragam, dan dipakai di mana pun dan oleh siapa saja. Dia mengapresiasi komitmen generasi muda untuk melestarikan batik melalui muatan lokal seminggu tiga kali di sekolah.

“Tugas kita bersama untuk mengajak seluruh masyarakat dunia mengenakan batik. Agar batik ini tetap mendapat pengakuan dari UNESCO,” harap Joko Widodo. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here