Pentas drama wayang Sang Penjaga Hati. Foto: yil

JAKARTA (Jatengdaily.com) -Untuk terus menjaga kesenian tradisional agar tidak tergerus zaman, tentu butuh inovasi dalam hal pementasannya. Agar anak muda zaman milenial bisa memahami dan makin mencintai budaya sendiri yang terkenal adiluhung.

Kesenian tradisional jarang dipentaskan. Tidak ada regenerasi dan terancam punah. Para pelaku seninya sebagian uzur dan meninggal dunia. Kiat untk menghidupkan dilakukan oleh Sanggar Swargaloka yang peduli kesenian tradisional agar tetap hidup dan berkembang searah zaman, dengan menggelar Pentas Drama Wayang (Drayang) bertajuk Sang Penjaga Hati. Pentas ini setidaknya memberi kesaksian bagaimana kesenian tradisional mampu diolah secara kontemporer menjadi seni kekinian.

Sanggar Swargaloka semakin memperlihatkan kematangannya berpentas, melalui sebuah pertunjukan bertajuk Sang Penjaga Hati ini yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), awal pekan ini.

Tiga disiplin seni (tari, musik, teater) secara tematis tampil tanpa sekat mengguratkan arah pesan moralistik. Menghentak dan menggetarkan jiwa lebih dari 700 penonton yang memadati Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

Tampak sejumlah seniman, budayawan dan beberapa mantan birokrat ikut menyaksikan pertunjukan ini, antara lain Romo FX Mudji Sutrisno, Muhamad Sobari, Deddy Mizwar, Tarzan, Nungki Kusumastuti, Ir Erman Soeparno, MBA MSi (politikus, mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI), Eny Sulistyowati (Triardhika Production), serta beberapa pejabat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Dari berbagai elemen estetika panggung, Sang Penjaga Hati berhasil mengolah bentuk dan ruang artistik pertunjukan, melalui lakon wayang sebagai basis penciptaan karya. Tim kesenian ini berhasil membuat lintasan tradisi dan non tradisi menjadi satu kesatuan yang utuh dalam dialektika kreatif.

Sang Penjaga Hati diproduksi Sanggar Swargaloka Jakarta. Disutradarai Bathara Saverigadi Dewandoro, yang juga bertindak sebagai coreografer serta menjadi tokoh utama lakon, berperan sebagai Narasoma. Karya ini diperkuat para aktor-aktris panggung, yang cukup lama berperan dalam khasanah seni Wayang Orang.

Karya ini juga didukung kepiawaian komposer muda Gregoriyanto Kris Mahendra, sebagai penata musik. Keunikan instrumen musik yang digunakan (tradisi dan modern) berhasil mendinamisir dan membangun imaji penonton untuk larut ke dalam pesan yang ingin disampaikan.

“Drama Wayang akan terus berevolusi untuk menemukan format yang tepat agar layak mendapat predikat opera terbaik dunia. Oleh karena itu, kami memerlukan kritik dan saran agar kami terus termotivasi menjadi lebih baik,” terang Pendiri Yayasan Swargaloka, Suryandoro

Sang Penjaga Hati berkisah tetang sang penjaga hati, Dewi Setyawati menemani kemanapun kekasih hatinya Narasoma mencari kesejatian hidup. Karena cinta pula Setyawati harus terpisah selamanya dengan Bagaspati ayahnya. Karena cinta pula Narasoma merelakan Dewi Madrim adik semata wayangnya harus terpisah dengannya, dan melepaskan ke tangan Pandu.

Pengorbanan mendalam adalah ketika Narasoma harus meninggalkan Dewi Setyawati ke medan laga. Perang bharatayuda telah memanggil ksatria Mandaraka yang sudah tidak muda itu turun ke gelanggang payudan demi Pandawa. Semua ini dilakukannya demi cinta untuk sang penjaga hati. yil-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here