Toleransi, Kunci Hidup Rukun di Antara Perbedaan

3 Min Read
Pawai atau karnaval menyambut tahun baru Islam 1 Muharam 1441 Hijriyah diselenggarakan MUI Kabupaten Demak untuk meningkatkan ukhuwah masyarakat Kota Wali. Foto: rie

DEMAK (Jatengdaily.com) – Karnaval menyambut tahun baru Islam 1 Muharam 1441 Hijriyah kembali digelar MUI Kabupaten Demak, Minggu (1/9/2019). Bersamaan momentum pergantian tahun, masyarakat Kota Wali pun diajak berhijrah untuk semakin Indonesia demi menjaga persatuan kesatuan dan tetap tegaknya NKRI.

Bukan tanpa alasan, panitia mengusung tema ‘Dengan Semangat Tahun Baru 1441 Hijriyah, Kita Perkokoh Ukhuwah Guna Mewujudkan Demak Baldatun Toyyibatun Wa Robbun Ghofur’. Sebab bagaimana pun pergolakan terjadi di sisi timur ibu pertiwi belum lama ini, tentunya tak ingin imbasnya merambat ke kabupaten berpenduduk 1,2 juta jiwa lebih ini.

Ketua MUI Kabupaten Demak KH Muhammad Asyiq menyampaikan, toleransi kunci hidup rukun saling berdampingan di antara perbedaan. Terlebih Indonesia merupakan negara kepulauaan, yang terdiri dari berpuluh bahkan beratus suku bangsa, adat istiadat dan kebudayaan.

“Maka sebagaimana dicetuskan KH Hasyim Asyari dan diterjemahkan oleh KH Abdul Wahab Abdullah, ‘hubbul wathan minal iman’ atau cinta tanah air adalah sebagian dari iman,” ujarnya.

Dalam karnaval juga digelorakan agar masyarakat menjaga persatuan kesatuan dan tetap tegaknya NKRI. Foto: rie

Tentu saja kerusuhan di Papua beberapa hari lalu menjadi keprihatinan segenap bangsa Indonesia. Terlebih sejak pra kemerdekaan, para pejuang dan pahlawan telah bertaruh jiwa raga demi tetap terjaganya persatuan dan kesatuan di bumi nusantara.

Karenanya masyarakat Kota Wali pun diajak senantiasa menjaga soliditas dan mempererat silaturahmi dengan tasamuh antar bangsa dan agama. Alasannya, toleransi kunci hidup rukun saling berdampingan di antara perbedaan.

Bahkan semangat toleransi, menurut Muhammad Asyiq, telah dikobarkan Rasulullah SAW usai perang badar. Hal itu tercantum dalam Mitsaqul Madinah atau Piagam Madinah yang memuat tiga poin penting.

Pertama, Nabi Muhammad SAW mempersatukan dua suku yang selalu berperang, yakni Suku Khazraj dan Aus. Kedua, mempersatukan orang Mekkah yang wataknya keras serta budaya berdagang dengan masyarakat Madinah yang halus berikut kultur bercocok tanamnya. Ketiga, mempersatukan Islam dan nonmuslim.

Di sisi lain, Bupati HM Natsir menyampaikan, karnaval Tahun Baru Hijriyah setiap 1 Muharam boleh diikuti siapa saja dari suku apa saja. Sebab semua suku, agama dan kepercayaan hidup rukun di Kota Wali, demi tetap terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa.

“Mari manfaatkan mementum pergantian tahun hijriyah, tahun baru Islam untuk meningkatkan ukhuwah Islamiah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan umat manusia),” tandas bupati. rie-yds

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *