Oleh: Tri Karjono
Statistisi Ahli BPS Provinsi Jawa Tengah
TEPAT pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (Senin, 17/8/2020), Provinsi Jawa Tengah memperoleh penghargaan sebagai daerah dengan tingkat produksi beras tertinggi se-Indonesia tahun 2019.
Penghargaan ini diperoleh karena Jateng, berhasil memproduksi panen padi 9,66 juta ton gabah kering giling (GKG), pada 2019. Jumlah tersebut, setara dengan produksi beras 5,52 juta ton beras. Produksi tersebut berasal dari luas tanam seluas 1,69 juta hektare atau luas lahan panen 1,68 juta hektare. Dengan kebutuhan beras penduduk Jawa Tengah selama setahun sebesar 3,72 ton, maka tahun lalu terjadi surplus beras sebanyak 1,8 juta ton.
Sebenarnya tahun lalu secara nasional produksi padi gabah kering giling (GKG) mengalami penurunan sebesar 4,6 juta ton atau 7,76 persen menjadi 54,60 juta ton. Penurunan hampir terjadi di semua provinsi. Jawa Tengah yang merupakan salah satu sentra produksi padi nasional pun mengalami hal yang sama. Dengan total produksi padi di Jawa Tengah pada 2019 sekitar 9,66 juta ton GKG atau setara dengan 5,52 ton beras tersebut menunjukkan terjadinya penurunan produksi beras sebanyak 0,84 juta ton (8,04 persen) dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun demikian walau mengalami penurunan produksi bahkan persentase penurunannya yang lebih tinggi dibanding persentase penurunan nasional tetapi justru menempatkan posisi Jawa Tengah menjadi provinsi dengan sumbangan produksi padi tertinggi di Indonesia dengan 17,68 persen, mengalahkan Jawa Timur yang sebenarnya lebih tinggi luas panennya. Padahal Jawa Timur hanya sedikit mengalami penuruan luas panen dibawah persentase penurunan Jawa Tengah. Apalagi pada tahun sebelumnya jumlah produksi padi Jawa Timur menjadi yang tertinggi secara nasional. Ini artinya pada sisi tingkat produktivitas padi per hektarnya, Jawa Tengah lebih baik dibanding Jawa Timur, yang dapat diasumsikan pula tingkat kesuburan tanah sawah dan penanganan pertanian padi Jawa Tengah lebih baik.
Bagaimana dengan Tahun Ini?
Kurang lebih sebulan yang lalu (16/7/2020) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah memastikan bahwa stok beras Jawa Tengah di tahun 2020 ini aman. Bahkan meyakini bahwa ketersediaan beras pada tahun ini akan terjadi surplus 2,8 juta ton atau 1 juta ton lebih tinggi dibanding tahun 2019. Hal ini menurutnya karena beberapa lahan sawah di Jawa Tengah pada tahun ini mampu berproduksi hingga tiga kali panen.
Asumsi ini bisa pahami mengingat berdasar informasi BMKG bahwa cuaca tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Jika tahun lalu Jawa Tengah dilanda kekeringan yang cukup panjang dengan cuaca yang ekstrim, tidak demikian halnya pada tahun ini. Musim kemarau yang terjadi di tahun ini tergolong sebagai musim kemarau basah, karena disamping waktunya yang tidak lebih panjang dibanding tahun yang lalu, disela-sela musim kemarau di beberapa tempat masih dimungkinkan terjadi hujan. Ini akan sangat membantu lebih banyak petani untuk menanam padi di saat musim gadu.
Namun perlu diingat bahwa dengan panjangnya kemarau di tahun lalu mengakibatkan awal musim hujan mengalami kemunduran, dengan begitu musim tanampun mundur. Dengan mundurnya musim tanam mengakibatkan panen rayapun mengalami bergeser ke belakang. Jika pada tahun lalu panen raya terjadi pada bulan Februari-Maret, pada tahun ini peristiwa tersebut terjadi pada bulan Maret dan April. Belum lagi pada awal tahun ini di beberapa tempat di Jawa Tengah terjadi bencana alam, diantaranya banjir, yang menyebabkan sebagian lahan sawah dan tanaman padi petani terdampak.
Di antara karena situasi tersebut BPS mencatat bahwa luas panen pada semester pertama tahun 2020 ini menunjukkan kondisi yang yang searah yaitu kurang menggembirakan dibanding semester pertama tahun lalu. Jika tahun lalu luas tanam pada enam bulan pertama seluas 1,11 juta hektar maka pada tahun ini hanya seluas 0,98 juta saja atau berkurang 12,2 persen. Hasil perkiraan luas panen selama triwulan ketiga (Juli-September) berdasar metode Kerangka Sampel Area (KSA) sebenarnya mengalami peningkatan yang cukup tinggi dibanding triwulan ketiga tahun 2019 hingga lebih dari 20 persen.
Hal ini diperkirakan akibat terbuktinya musim kemarau yang lebih bersahabat, sehingga musim gadu ini lebih banyak petani yang memanfaatkan masih adanya hujan di beberapa tempat. Namun lebih tingginya luas panen di triwulan ketiga ini belum mampu menutup turunnya luas panen di enam bulan sebelumnya, sehingga belum mampu menyamai jumlah luas tanam selama sembilan bulan di tahun 2019.
Mengingat tiga bulan terakhir sangat dimungkinkan telah memasuki musim penghujan, maka sangat dimungkinkan tidak terjadi kenaikan luas panen. Dengan asumsi tersebut dan jika luas panen di tiga bulan terakhir diprediksi sama dengan tahun 2019 yang lalu maka total luas panen pada tahun ini hanya sekitar 1,65 juta hektar atau 30 ribu hektar (sekitar 1,8 persen) lebih rendah dibanding tahun lalu. Dengan produkstivitas dan konversi yang sama maka hanya akan menghasilkan 9,46 juta ton GKG atau 5,41 juta ton beras. Ini berarti mengalami penurunan sekitar 1,8 persen.
Juga dengan jumlah kebutuhan beras penduduk Jawa Tengah yang masih sama dengan tahun lalu maka hanya akan terjadi surplus 1,69 juta ton beras. Padahal sangat dimungkinkan lebih tinggi akibat bertambahnya jumlah penduduk. Artinya surplus beras alih-alih mengalami peningkatan tetapi justru akan mengalami penurunan. Jika asumsi dan prediksi ini benar maka harapan kembalinya Jawa Tengah menjadi kampiun dalam jumlah produksi beras di tingkat nasional akan terancam. Jatengdaily.com-yds
0



