Alam Sumber Inspirasi Sastrawan Sejak Lama

3 Min Read
Para pendukung acara Bianglala Sastra di Semarang TV dengan topik Sastra dan Lingkungan Hidup bergambar bersama. Dari kiri: Driya Widiana Didik MS, Leenda Madya, Mohammad Agung Ridlo, dan Gunoto Saparie. Foto:ist

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Masalah lingkungan hidup kini banyak mendapatkan perhatian serius para sastrawan Indonesia. Alam dan lingkungan hidup sejak lama memang menjadi sumber ilham dan inspirasi bagi penciptaan karya-karya sastra. Bahkan harus diakui alam dan lingkungan hidup sangat dominan, bukan hanya sebagai latar, namun menyatu secara organis dengan berbagai bentuk pengungkapan karya sastra. Karena itulah kemudian muncul istilah “sastra hijau”.

Demikian kesimpulan diskusi pada acara Bianglala Semarang TV dengan topik Sastra dan Lingkungan Hidup di Ngesrep, Semarang, Minggu malam (8/3). Tampil sebagai narasumber Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) Gunoto Saparie dan staf pengajar Planologi Universitas Islam Sultan Agung Semarang Mohammad Agung Ridlo. Dipandu Ketua Kumandang Sastra Driya Widiana Didik MS, acara itu juga menampilkan pembacaan puisi karya Wayan Jengki berjudul “Lumpur” dan “Teluk Benoa” oleh Leenda Madya.

Gunoto Saparie mengatakan, sejak dulu para sastrawan Indonesia menunjukkan kedekatannya dengan alam. Ada kepedulian terhadap alam dan lingkungan. Hal ini karena alam merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa kita lihat pada puisi-puisi Muhammad Yamin. Ia merasa begitu kagum pada keindahan nyiur, pantai, gunung, lembah, sungai, dan bukit. Hal yang sama bisa baca puisi-puisi Amir Hamzah yang dengan sangat bagus mengungkapkan keindahan alam.

“Kalau kita tarik ke belakang sejumlah penyair seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail, atau Abdul Hadi WM pun membuktikan kedekatan dengan lingkungan hidup. Mereka sering menggunakan diksi laut, awan, gunung, burung, bunga, dan lain-lain,” ujarnya seraya memuji upaya penyaiir Bambang Supranoto yang membukukan puisi-puisi lingkungan hidup dengan ilustrasi foto berjudul Menjala Waktu di Lawang Sewu.

Sedangkan dalam prosa, lanjut Gunoto, latar alam dan lingkungan hidup pun muncul. Hal itu dapat kita lihat pada novel Sutan Takdir Alisyahbana, Korrie Layun Rampan, Aspar, Wildan Yatim, Ahmad Tohari dan lain-lain.

Mohammad Agung Ridlo menambahkan, para sastrawan yang memiliki hati bersih pasti memiliki kesadaran terhadap lingkungan hidup. Karena itu mereka tergerak untuk menciptakan karya-karya sastra bertema alam dan lingkungan hidup.

“Kita harapkan dari pembacaan terhadap karya-karya sastra tentang lingkungan hidup itu masyarakat tumbuh kesadarannya. Kesadaran untuk lebh mencintai dan peduli terhadap lingkungan hidup,” tandasnya.

Mohammad Agung pun menunjukkan juga sejumlah syair lagu yang dinyanyikan Koes Plus, Bimbo, Ebiet G. Ade, dan Franky Sahilatua yang memiliki tema lingkungan hidup. Lagu-lagu tersebut menggugah kesadaran mengenai perlunya kita memelihara lingkungan hidup yang rusak dan tercemar.

Meskipun demikian, lanjut Mohammad Agung, untuk menumbukan kesadaran tentang lingkungan hidup tidak bisa serta merta. Itu harus dimulai sejak usia kanak-kanak. Karena itu pendidikan lingkungan hidup sejak usia dini harus dilakukan.

Pada kesempatan itu Gunoto membacakan puisi karya Chairil Anwar “Derai-derai Cemara”. Sedangkan Mohammad Agung membacakan puisi “Beri Daku Sumba” karya Taufiq Ismail. Ugl–st

0
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.