Fokus Perangi Corona, Tradisi Dugderan Sambut Ramadan Ditiadakan

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Tradisi Dugderan menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1441 H di kota Semarang dipastikan ditiadakan, termasuk karnaval – sehari sebelum memasuki bulan puasa. Peniadaan tradisi rutin setahun sekali ini karena sedang perang melawan wabah virus Corona yang melanda khususnya di kota Semarang.

Anggota DPRD kota Semarang pada prinsipnya menyatakan setuju dengan tidak ada kerumunan massa, seperti kegiatan karnaval seperti tahun-tahun sebelumnya, dan tidak ada tradisi Dugderan menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Di kota Semarang, Dugderan sudah melekat sebagai tradisi menyambut datangnya bulan Ramadan yang dimeriahkan oleh pedagang gerabah dari pedagang luar kota. Dugderan menempati area dekat Masjid Agung Semarang (MAS) dan sekitar kawasan Pasar Johar. Tetapi, tahun 2020 ini dipastikan tidak ada agenda Dugderan.

Sekretaris Komisi D DPRD kota Semarang Anang Budi Utomo, Jumat (3/4/2020) mengatakan, pada prinsipnya tidak akan ada perayaan Dugderan dengan kegiatan karnaval seperti tahun-tahun yang lalu karena pandemi Covid-19.

Menurut Anang, tanda kegiatan budaya bahwa bulan Ramadan dan umat Islam akan mulai melaksanakan ibadah puasa akan dikemas secara sederhana, tanpa pengumpulan massa.

Saat ini, kata Anang, sedang dirancang oleh pemkot. Paling tidak ada pemukulan bedug di Masjid Agung Semarang (MAS) dan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) sebagai pertanda besok dimulainya umat Islam menjalankan ibadah puasa.

Anang berharap agar Pemkot Semarang bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini.Termasuk nanti ada imbauan untuk tidak melaksanakan shalat tarawih berjama’ah di masjid, agar physical distancing lebih terjaga.

“Kita upayakan tidak mengundang kerumunan massa, bila perlu diadakan penutupan jalan protokol. Intinya agar selalu ada evaluasi terhadap kebijakan, termasuk kemungkinan jalan-jalan protokol diperluas.

Sementara itu, anggota DPRD kota Semarang dari Fraksi PDI Perjuangan Dyah Ratna Harimurti yang akrab disapa mbak Detty mengakui bahwa, kondisi saat ini kita sedang dihadapkan dengan rasa prihatin.

“Pada saat ini, kita sedang prihatin, Ramadan tetap harus disambut dengan suka cita, namun tidak harus ada kemeriahan, tradisi karnaval bisa dialih kan dengan yang lebih bersifat social care,” kata Detty.

Seperti diketahui, kata Detty, adanya wabah virus Corona dan kebijakan pemerintah kebdepan pasti akan banyak warga kota Semarang yang kehilangan mata pencaharian, ini tentunya sangat membutuhan perhatian lebih.

Masyarakat memang menyambut Ramadan dengan suka cita tapi pasti kegiatan semacam karnaval dan lain lain, tidak akan menarik perhatian warga saat ini. ”Sebab kegiatan dengan mengundang kerumunan massa, saya kira saat ini sangat tidak relevan,” ucapnya. Ugl–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here