FOTO: Benteng Vastenburg, Tempat Karantina yang Dikenal Angker

SOLO (Jatengdaily.com) – Benteng Vastenburg di Kota Solo beberapa hari terakhir menjadi perbincangan. Ini lantaran rencana Pemkot Solo menjadikannya sebagai tempat karantina bagi para pemudik atau pendatang dari luar kota di musim libur Natal dan Tahun Baru.

Benteng Vastenburg sendiri kini menyisakan bangunan pintu gerbang serta tembok keliling setinggi enam meter. Luas areal total benteng 66.960 meter persegi, sedangkan lahan di dalam benteng 17.590 meter persegi serta luas bangunan tembok benteng sekitar 10.032 meter persegi, terletak di jantung kota kawasan Jalan Jenderal Sudirman.

Rencananya lokasi karantina pemudik tersebut di dalam benteng yang kini berupa tanah lapang, dan bakal dipasang tenda untuk menginap para pemudik selama 14 hari. Dengan kondisi tersebut diharapkan tidak ada yang nekat mudik, demi mencegah meluasya COVID-19 yang hingga kini masih belum mereda termasuk di Kota Solo.

Benteng Vastenburg dibangun pada 1745-1779 oleh Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff, awalnya diberi nama Grootmoedigheid. Nama Vastenburg berarti istana yang dikelilingi tembok kuat. Benteng ini dibangun sebagai pertahanan penjajah Belanda kepada Keraton Surakarta, sehingga letaknya juga berada di antara Keraton Surakarta dan rumah Gubernur Belanda (sekarang Balai Kota Solo).


Bentuk bangunan Benteng Vastenburg tak berbeda jauh dengan benteng Vredeburg di Yogyakarta, bujursangkar dengan keempat ujungnya terdapat penonjolan ruang untuk teknik peperangan atau bastion. Benteng juga dikelilingi parit dengan jembatan angkat sebagai jalan masuk utama, namun sekarang diganti jembatan permanen baik di pintu depan atau pun pintu belakang benteng.


Benteng Vastenburg menjadi bangunan sarat sejarah seiring dengan berdirinya Kota Surakarta. Dibangun 31 tahun sejak berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta (1744), bermula fungsinya mengawasi gerak-gerik keraton sejak masa kekuasaan Raja Paku Buwono III. Setelah Belanda menyerah, benteng ini sempat menjadi kekuasaan tentara Jepang tahun 1942. Namun sejak 1945, dilansir laman surakarta.go.id, benteng digunakan sebagai markas TNI/ABRI untuk mempertahankan kemerdekaan. Pada masa 1970-1980an sebagai tempat pelatihan keprajuritan dan pusat Brigade Infanteri 6/Trisakti Baladaya Kostrad wilayah Karesidenan Surakarta dan sekitarnya.


Kawasan benteng ini sempat terbengkalai belasan tahun sejak 1986, karena kepemilikan oleh swasta. Dulu benteng bertahun-tahun ditutup seng, hingga semak belukar membelit sekeliling benteng. Warga juga mengenalnya sebagai daerah angker dengan berbagai cerita mistisnya. Baru tahun 2010 sejak ditetapkan sebagai cagar budaya, sejumlah renovasi dilakukan sehingga menanggalkan kesan seram bangunan. Kini sering dipakai berbagai kegiatan budaya, baik di pelataran maupun di dalam benteng. Foto-foto: Jatengdaily.com/ yanuar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here