FOTO: Cerita Lalu Pit Onthel Hero, Pahlawan bagi Slamet

Sepeda onthel 'Sang Hero' inilah yang selalu menemani Slamet untuk angon bebek lintas kota. Berangkat sebelum Subuh menuju Sukoharjo, Sragen atau daerah lainnya untuk menemui bebek-bebek tersayangnya yang dititipkan di rumah warga. Foto: Jatengdaily.com/yanuar

SEBUAH sepeda onthel terlihat berdiri dengan penopang standar samping di pinggir sawah, kawasan Gagak Sipat, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Beberapa bagian sepeda sudah berkarat, namun masih komplit ‘fasilitasnya’ mulai dari lampu, rem, hingga katengkas atau rumah rantai yang jadi ciri khas pit kebo.

Sepeda onthel sempat menjadi alat transportasi andalan di Indonesia di era penjajahan Belanda, hingga akhirnya pada tahun 1970-an ke atas mulai lebih banyak digunakan warga pedesaan. Mungkin salah satu pengguna itu adalah Slamet (62), warga Sindon, Kecamatan Ngemplak, Boyolali ini.

Slamet mengaku membeli sepeda onthel bermerek Hero tersebut sejak dirinya masih remaja dan belum berkeluarga, dan kini anak pertamanya sudah berumur 35 tahun. Pit kebo milik Slamet ini ternyata menjadi teman lara lapa dan saksi kehidupannya dari remaja hingga sekarang.

Slamet sudah puluhan tahun menggeluti profesi unik sebagai pengangon bebek. Dia harus keluar masuk desa hingga luar Kota Boyolali, untuk mencari sawah habis panen, tempat angon bebek. Mulai dari Bekonang Sukoharjo, Sragen hingga Wonosegoro Boyolali dekat Waduk Kedung Ombo. Slamet harus rela keluar kota cari sawah habis panen karena di situlah tempat angon bebek yang murah, menghemat biaya pakan dan disukai bebek.

Meskipun Slamet tak begitu ingat tahun pembeliannya, namun yang jelas sepeda itu sudah berumur di atas 35 tahun karena jauh sebelum anak pertamanya lahir. Dari sepeda inilah dia mengais rezeki untuk angon bebek hingga dia berkeluarga dan mempunyai anak. Foto: Jatengdaily.com/yanuar


Sadar jika pit onthelnya adalah saksi sejarah hidupnya, Slamet pun bergeming ketika banyak orang yang menawar untuk membelinya. Biarlah dia jadi teman hidup saya, begitu kata dia ketika ditanya kenapa tidak dijual meski ditawar harga tinggi. Foto: Jatengdaily.com/yanuar


Resep awet dari sepedanya, menurut Slamet adalah dirawat sebaik mungkin dan jangan pernah menyia-nyiakan barang yang bersejarah bagi kita. Dia pun rajin merawat bahkan menyemir sepedanya hingga kempling. Onderdil sepedanya pun sebagian besar masih orisinil kecuali ban atau pelek serta kunci tambahan. Foto: Jatengdaily.com/yanuar


Sejak beberapa tahun terakhir ini, Slamet memang sudah tak lagi angon bebek. Ia banting setir menjadi petani penggarap di lahan milik orang lain di daerah Gagak Sipat Boyolali. Namun perubahan pekerjaan tetap tak meninggalkan sepedanya untuk menjadi temannya. Foto: Jatengdaily.com/yanuar


Kini, tiap hari ‘Sang Hero’ mengantarkannya ke sawah pulang pergi yang tak begitu jauh dari rumahnya. Meski padinya sudah menjelang panen, namun serangan hama burung harus diusir tiap saat. Jangan melupakan sejarah, mungkin itu kalau kita boleh menebak folosofi hidup Slamet hingga setia dengan pit kebonya. Foto: Jatengdaily.com/yanuar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here