By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: FOTO: Saat Petani Perang Lawan Tikus dan Burung
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Foto

FOTO: Saat Petani Perang Lawan Tikus dan Burung

Last updated: 23 Februari 2020 08:51 08:51
Jatengdaily.com
Published: 23 Februari 2020 06:32
Share
Ilustrasi. Foto: yds
SHARE

BOYOLALI (Jatengdaily.com) – Para petani di daerah Gagaksipat, Sindon dan Ngesrep, Kecamatan Ngemplak Boyolali atau kawasan dekat Bandara Adisoemarmo Surakarta, kembali mendapat ujian berat. Setelah beberapa bulan lalu kesulitan air karena kemarau panjang, kini saat musim hujan tanamannya tumbuh malah diserang hama tikus dan burung.

Tanaman padi yang baru ditanam sekitar satu atau dua bulan diserang hama tikus yang menyerang batangnya. Sedangkan hama burung menyerang saat tanaman padi sudah berbulir atau menjelang panen.

Memasang sejumlah jebakan tidak selalu mendapatkan tikus, namun tetap dilakukan petani sebagai cara yang paling mudah dan murah. Petani mengakui harus menekan biaya dalam menanam padi, karena terkadang hasilnya tidak signifikan jika terlalu banyak pengeluaran mulai dari benih, pupuk dan sebagainya. Foto: yanuar


Serangan hama burung juga memusingkan para petani di daerah Gagaksipat, Ngemplak Boyolali ini. Petanipun harus rajin ke sawah pagi dan sore untuk mengusir burung dengan peralatan tradisional, karena jika tidak diusir bisa-bisa tanaman padi tinggal batangnya saja. Foto: yanuar


Cara petani mengusir burung ini dilakukan secara konvensional seperti memasang tali diberi bunyi-bunyian kaleng atau plastik. Petani mengaku cara ini lebih murah dibandingkan harus memasang jaring yang bisa sampai jutaan rupiah per patok. Foto: yanuar


Selain dengan memasang tali dan bunyi-bunyian, petani juga harus rajin melempari burung menggunakan tanah sawah dengan alat bantu bambu. Dengan cara ini burung lebih cepat pergi meski membutuhkan tenaga ekstra bagi sang petani. Foto: yanuar


Petani mengakui serangan burung ke tanaman padi sangat merepotkan mereka. Saat awal tanaman padinya berbuah, terlihat padat namun kini jauh berkurang setelah dimangsa burung, ditambah lagi serangan tikus yang mengerat batang padi. Sehingga petani pun tak bisa menjamin bisa panen secara normal, dan kondisi terburuk hasil panen hanya bisa untuk dikonsumsi sekeluarganya sendiri. Foto: yanuar


You Might Also Like

FOTO: Harga Tembakau Basah di Selo Turun
FOTO: Banjir di Kota Semarang
FOTO: Embung Giriroto yang Multifungsi
Asrama Haji Donohudan untuk Pasien COVID-19 OTG di Solo Raya
FOTO: Cerita Lalu Pit Onthel Hero, Pahlawan bagi Slamet
TAGGED:desa sindon dan ngesrephama tikus dan burungkecamatan ngemplak boyolalipetani merugi
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?