FSH UIN Walisongo Gelar Seminar Falak Internasional, Cari Solusi Penetapan Awal Bulan Kamariah

0
29
Suasana seminar falak internasional yang diinisiasi FSH UIN Walisongo Semarang. Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Penetapan awal bulan kamariah menjadi hal paling urgen dalam pelaksanaan ibadah umat Islam, seperti awal dan akhir Ramadan serta pelaksanaan ibadah haji.

Menyikapi hal itu, Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Walisongo menggelar seminar Falak Internasional online dengan tema Penetapan 1 Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei. Seminar internasional secara daring tersebut dipandu moderator Dr Mahsun,MAg, Kaprodi S2 Ilmu Falak.

Seminar ini menghadirkan pemateri yang kompeten, antara lain Prof Dr H Thomas Djamaludin MSc, Kepala LAPAN dan anggota Tim Hisab Rukyah Kemenag RI, Prof Dr H Ibnor Azli Ibrohim (Profesor Madya di Fakulti Syariah dan Undang-undang, Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA, Brunei Darussalam), dan Dr H Ahmad Izzuddin MAg, Ketua Umum Asosiasi Dosen Ilmu Falak Indonesia/ADFI dan Pakar Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang.

Acara yang diminati tidak kurang dari 600 peserta ini berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga 10.30 WIB. Peserta yang bergabung cukup beragam, dari dosen perguruan tinggi, perwakilan ormas Islam, mahasiswa, hingga pegiat dan pengamat ilmu falak se-Indonesia.

Rektor UIN Walisongo, Prof Dr H Imam Taufiq MAg, didaulat untuk membuka seminar. Dalam sambutannya, rektor menekankan perlunya kajian yang intensif agar ilmu falak memberikan kontribusi yang nyata untuk masyarakat. Mengingat ilmu falak memiliki akar sejarah yang kuat dalam khazanah perabadan Islam dan dunia.

Adapun ketiga pemateri menekankan uraian pada upaya penyatuan penetapan awal bulan kamariah. Prof Ibnor memberi gambaran penetapan awal bulan kamariah di Malaysia dan Brunei. penentuan awal bulan kamariah di Malaysia sangat dinamis sejak tahun 1950-an hingga saat ini.

Sementara di Brunei yang mayoritas bermazhab syafi’I menggunakan metode tunggal rukyah dalam penetapan awal Syawal. Tidak ketinggalan Prof Thomas kembali mengingatkan perlunya kriteria yang menyatukan semua pihak di Indonesia. Salah satu kriteria yang dimaksud adalah kriteria rekomendasi Jakarta dengan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6.4 derajat. Di samping unsur penting lainnya berupa otoritas tunggal yang mengatur.

Hal senada disampaikan Dr H Ahmad Izzuddin yang menekankan kemaslahatan sebagai tujuan utama penyatuan kriteria. Perlu kriteria yang menjembatani mazhab hisab dan mazhab rukyat. Semua pihak harus menyadari kalau masing-masing mazhab memiliki keterbatasan dan kelemahan.

”Pemerintah (Kemenag) sebagai pemegang otoritas hendaknya tidak pernah berhenti untuk melakukan kajian sebagai dasar untuk penetapan, juga disosialisasikan kepada masyarakat,” jelas Dr H Ahmad Izzuddin.

Satu catatan penting dalam sesi diskusi yaitu mendorong political will dari semua pihak untuk bersatu. Di samping tetap memberi ruang diksusi akademis untuk mencari kriteria terbaik yang bisa diterapkan. Peserta cukup antusias mengikuti seminar. Terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang disampaikan melalui room chat maupun disampaikan secara langsung. Seminar ditutup secara resmi oleh Dr Moh Arja Imroni MAg., Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here