Kisah Riang di Syahrul Masjid

Oleh : Anis Agung Nurkholisa
KEUTAMAAN lain di bulan yang dirindukan, masjid bahkan surau menjadi tempat idaman setiap insan. Sedari sahur hingga berbuka puasa, meriahnya lentera jalan di setiap sudut pandang. Hiruk piruk tua muda menyebut asma-Nya, penuh kasih tanpa balas yang didapatnya. Begitu merdu lantunan anak kecil mengagungkan Muhammad-Nya, di setiap waktu shalawat menjadi pengisi siang malamnya.

Fajar hingga petang membaca kalam, membagikan takjil menjadi kebiasaan. Buka bersama dengan alas daun pisang, tarawih indah tambahan tawa riang anak kecil dengan kebahagiaan, silaturahmi karena sering bertemu dengan lengkung setengah lingkaran, berlomba lomba memberikan jaburan terbaik di setiap posonan.

Masihkah ada yang memberikan kata kurang berkenan kepada anak kecil saat meramaikan masjid? Tawa riangnya mungkin mengganggu kekhusyukan, canda dan keseruan bersama temannya membuyarkan lantunan bacaan. Tetapi sungguh spesialnya mereka, mungkin kita terlupa Rasulullah kebanggaan kita hingga turun dari mimbar untuk mendekati cucunya yang tengah berlarian dengan senangnya. Dengan lembutnya Beliau turun lalu menggendongnya dan kembali melanjutkan khutbah.

Atau cerita Rasulullah yang amat kita tunggu syafaatnya sedang sujud dalam sholatnya yang indah, cucu tercinta Hasan dan Husein bermain menaiki punggungnya. Ketika ada sahabat yang ingin melarang Hasan-Husein, maka Rasulullah memberi isyarat untuk membiarkannya. Apabila shalat telah selesai, Rasulullah memangku kedua cucunya.

Siapa yang akan melanjutkan kebiasaan meramaikan masjid yang usang? Jika bukan anak-anak yang kita biasakan, jika bukan kita yang mengajaknya dengan niat mereka dapat mensejahterakan, satu tindakan yang kita lakukan bersama mereka, menjadi memori tak terlupakan dan bermakna hingga mereka tua.

Mega menjadi lebih indah, fajar menjadi lebih teduh, candra menjadi lebih terang, rinai beberapa kali datang pun tetap tenang dan menenangkan. Kedalaman penuh khidmat dari satu bulan yang di istimewakan, memenuhi masjid dingin yang hangat karena kebersamaan. Desaku, ramadhan terindahku.
Anis Agung Nurkholisa, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Semarang dan Santriwati Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah. Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here