Kolaborasi Menjaga Daya Beli

0
152

Oleh Diana Dwi Susanti, S.ST

Statistisi BPS Provinsi Jawa Tengah

WABAH corona melanda seluruh dunia tidak terkecuali Jawa Tengah. Corona telah membuat tatanan perekonomian tidak berjalan semestinya. Aktivitas seakan terhenti. Semua diharapkan jaga jarak dan tetap tinggal di rumah. Pembatasan sosial ini tentu mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak terkecuali Jawa Tengah.

Satu per satu perusahaan tumbang. Pertama perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata. Jawa Tengah memiliki obyek wisata yang mendunia seperti candi Borobudur, candi Prambanan dan sejumlah obyek wisata yang menjadi tujuan wisata dari berbagai provinsi. Dalam perkembangan pariwisata tentu efeknya terhadap jasa hotel dan jasa makan dan minum, jasa lainnya, transportasi dan perdagangan cukup pesat.

Pada triwulan IV tahun lalu sektor-sektor ini dengan gagah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah dengan nilai masing-masing  sebesar 10,78 persen, 7,19 persen, 7,56 persen dan 4,05 persen. Triwulan I-2020 sektor-sektor tersebut terimbas hingga pertumbuhannya nyaris tertekan pada level 1 – 3 persen saja. Kunjungan Wisatawan Mancanegara (Wisman) terkontraksi hingga minus 59,86 persen (BPS,2020). Dengan adanya wabah corona ini, tempat-tempat hiburan sudah mulai tutup semenjak adanya surat edaran untuk physical distancing.

Kedua industri, sejak China terkena wabah corona beberapa perusahaan yang berada di Jawa Tengah dan mengandalkan bahan baku dari negeri tersebut mulai memperpendek aktivitas produksinya. Karena kendala bahan baku dan faktor penurunan permintaan barang dari konsumen. Bahkan sudah ada 6 perusahaan besar merumahkan karyawannya (Disnaker Jawa Tengah). Industri yang sebelumnya tumbuh diatas 5 persen, pada triwulan I-2020 hanya tumbuh 2,45. Padahal industri merupakan kontribusi terbesar (34,44 persen) terhadap perekonomian Jawa Tengah dan menjadi sumber utama tumpuan ekonomi Jawa Tengah (BPS,2020).

Ketiga perdagangan. Pertumbuhan ekonomi sektor perdagangan lebih melambat lagi dengan level pertumbuhan 1,73 persen. Perdagangan di luar konsumsi masyarakat sehari-hari nyaris tidak ada aktivitas. Gerai-gerai yang biasa buka 24 jam sekarang sudah membatasi jam bukanya. Karyawan melakukan shift tidak lagi pagi, siang, sore tetapi sehari atau dua hari sekali. Ini juga mempengaruhi pendapatan si karyawan karena tunjangan gaji dihitung dari jam kerja.

Gelombang karyawan dirumahkan dan PHK tidak bisa terelakkan lagi. Darurat PHK mengancam puluhan hingga ratusan ribu buruh. Dengan adanya PHK mempengaruhi pendapatan masyarakat. Jika pendapatan masyarakat turun, bisa dipastikan daya beli masyarakat juga ikut turun. Padahal struktur ekonomi Jawa Tengah 62,30 persen ditopang oleh Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT). Triwulan I-2020 pertumbuhan konsumsi pengeluaran rumah tangga hanya 3,46 persen (BPS,2020). Sebelumnya pertumbuhan konsumsi ini selalu berada pada level 4 persen ke atas. Daya beli menjadi hal penting karena menyangkut kesejahteraan penduduk sekaligus keberlangsungan ekonomi.

Dua sektor sumber pertumbuhan tertinggi di Jawa Tengah dari sisi produksi maupun konsumsi sama-sama tertekan. Sektor industri sangat tergantung dari kemampuan domestic market dan domestic consumtion. Hasil industri 70 persen diserap oleh pasar dalam negeri. Maka ketika daya beli masyarakat tertekan, tidak ada permintaan, otomatis industri menyesuaikan dan terjadi penurunan drastis.

Bersyukur, inflasi bulan April 2020 yang sudah memasuki ramadhan terkendali bahkan tercatat deflasi sebesar 0,01 persen (BPS,2020). Paling tidak, deflasi ini tak menambah potensi jumlah penduduk yang jatuh di bawah garis kemiskinan. Saat ini Jawa Tengah mencatat ada 3,68 juta penduduk miskin pada September 2019 (BPS,2019).

Walaupun angka deflasi ini mengorbankan petani sebagai produsennya. Karena pemicu deflasi adalah komoditi hasil pertanian yaitu cabah merah, cabe rawit, ayam potong dan telur ayam. Nilai Tukar Petani (NTP) yang menggambarkan kesejahteraan petani turun sebesar 1,58 point. Ini terjadi karena menurunnya indeks harga yang diterima petani dan meningkatnya harga yang harus dibayar petani sehingga daya beli petani juga ikut turun.

Pola Konsumsi Penduduk Jawa Tengah

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas, September 2019) 43,11 persen konsumsi rumah tangga didominasi oleh 20 persen penduduk  teratas. Sedangkan konsumsi rumah tangga 40 persen penduduk kelas menengah sebesar 38,28 persen. Sisanya sebesar 18,61 persen di konsumsi oleh 40 persen penduduk terbawah.

Manakah yang perlu dijaga konsumsinya supaya pertumbuhan ekonomi tetap bangkit. Apakah konsumsi penduduk 20 persen teratas yang mendominasi hampir setengah dari konsumsi di Jawa Tengah? Ataukah konsumsi 40 persen terbawah yang jelas paling terdampak dalam krisis pandemik ini. Walaupun sumbangan konsumsinya terhadap Jawa Tengah kecil tidak sampai 20 persen.

Jika berpikir hanya untuk menjaga ekonomi, dua-duanya perlu dijaga daya belinya. Untuk penduduk terbawah pemerintah pusat maupun daerah sudah menggelontorkan berbagai jenis bantuan seperti PKH (Program Keluarga Harapan), BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai), BLT (Bantuan Langsung Tunai) Dana Desa, BST Kementerian/kemensos, BLT APBD, sembako APBN dan sembako APBD. Pemerintah Jawa Tengah juga menyiapkan anggaran sebesar 1,4 Triliun untuk jenis bantuan ini.

Tetapi konsumsi dari penduduk 40 persen terbawah ini belum mampu sepenuhnya mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Untuk menjaga perekonomian Jawa Tengah tetap tumbuh dari sisi konsumsi, mendorong kelompok 20 persen penduduk teratas untuk melakukan belanja mutlak diperlukan. Karena kelompok ini menyumbang hampir separo dari pengeluaran konsumsi rumah tangga di Jawa Tengah.

Namun karena PSBB dengan pembatasan transportasi dan pusat perbelanjaan membuat kelompok ekonomi atas menahan belanjanya. Ini terbukti dengan melambatnya sektor restoran dan hotel, transportasi, industri dan perawatan pada masa pandemik.

Perlu dipikirkan cara untuk mendorong penduduk konsumsi teratas tetap berbelanja walaupun physical distancing juga tetap harus dijalankan. Akhir-akhir ini bermunculan dan ramai dibicarakan adalah pembukaan bandara dengan ijin khusus atau munculnya makanan dengan harga selangit. Mungkin bisa dicontoh, dengan berinovasi membuat makanan kelas premium bisa membangkitkan penduduk ekonomi teratas untuk belanja. Atau membuat acara-acara virtual yang berkelas dan mengundang penduduk kelas atas untuk membelinya bisa menjadi solusi menjaga daya beli masyarakat.

Kegiatan-kegiatan tersebut harus didasari kepedulian penduduk kelas menengah mapan dan penduduk kelas ekonomi atas dalam meringankan beban hidup penduduk terdampak dan bisa membantu mengurangi masalah sosial. Sehingga apa pun inovasi dan kreasi untuk bertahan hidup dari penduduk menengah ke bawah harus disambut dengan baik dari penduduk menengah mapan dan kelas atas. Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here