Mengulang Modus Lama di Era Keterbukaan

Oleh Ahmad Rofiq

Seluruh warga negara Indonesia, yang sedang dilanda keprihatinan akibat pandemi Covid-19, Minggu, 13/9/2020 sore antara jam 17.20 dikejutkan oleh peristiwa penusukan oknum anak muda terhadap Da’i/Muballigh terkenal, Syeikh Ali Jaber yang sedang berdakwah di Masjid Falahuddin Sukajawa Kecamatan Tanjung Karang Barat Lampung. Karena penusukan dilakukan di atas mimbar, yang mengakibatkan luka dan berdarah di lengan kanan, dan harus segera mendapatkan perawatan, maka penusuk yang diketahui bernama A. Alfin Andrian (AAA) (24 th) yang beralamat di Jl. Tamin Gang Kemiri, langsung segera ditangkap dan lumayan babak belur.

Anehnya, dalam waktu sekejap, tanpa harus melalui pemeriksaan oleh para psikolog atau psikiater, sudah berkembang spekulasi bahwa anak muda, bahwa Andrian ini – kata orang tuanya — ditengarai mengidap “gejala kurang waras”. Foto-fotonya pun langsung beredar di medsos dalam berbagai versi dan gaya. Reaksi spontan para netizen pun bervariasi, yang “mengesankan” ada semacam “kelatahan” dan sekaligus mengisyaratkan adanya “distrust” masyarakat kepada yang memiliki otoritas, untuk dapat menangani dan mengusut secara tuntas. Siapa sesungguhnya inisiator atau “otak” dan “sutradara” yang mengatur dan mendesain aksi yang tak berprikemanusiaan itu.

Kapolda Lampung Irjen Pol. Purwadi Arianto menjelaskan “Pelaku membawa pisau dari rumah. Tapi sedang dalam pendalaman dokter jiwa bagaimana informasi tentang yang bersangkutan”. Kapolresta Bandar Lampung Kombes Yan Budi, sudah menetapkan AAA sebagai tersangka, yang terancam Pasal 351 KUHP tentang “penganiayaan berat”. Melalui Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono, Polri segera mengirim tim medis, ke Bandar Lampung untuk membantu Polda. Supaya bisa diusut tuntas.

Modus Lama

Sebagai orang awam, kalau dalam seminggu ini, nanti hasilnya tiba-tiba bahwa penyerang atau pelaku penusukan dinyatakan sebagai orang gila atau kurang waras, ini sepertinya akan “mengulang modus lama” yang di era keterbukaan sekarang ini, sudah “wagu” atau “tidak masuk akal”. Mengapa, karena “orang gila itu” yang dalam Bahasa Arabnya “majnun” itu artinya “otaknya gelap”, sehingga untuk mengurus dirinya sendiri saja tidak ada kesanggupan. Maka menjadi sangat kontradiktif alias “lucu”, kalau orang yang “gila” atau kurang waras, bisa mengambil dan membawa pisau dapur dari rumah, lalu dating ke panggung dan menuju Syeikh Ali Jabir dan menusuknya.

Ini mengingatkan pada waktu menjelaang pilpres yang lalu, di mana banyak “orang gila” yang melakukan “persekusi” pada para Ulama, yang oleh menteri polhukam (waktu itu) tanpa lebih dahulu melalui pemeriksaan oleh dokter yang ahli, para pelaku kekerasan sudah dinyatakan “gila”.

Menkopulhukam Mahfudh, MD, setelah menjenguk Syeikh Ali Jaber, pun berjanji akan mengusut tuntas pelaku penusukan. Menteri Agama pun berharap pelaku diusut tuntas, dan menyatakan agar ulama wajib dilindungi. Persoalannya adalah, apabila mata dan pisau hukum yang diberlakukan itu masih positifistik, maka yang bisa diproses adalah hanya pelaku yang secara kasat mata tampak dan dapat dibutikan dengan mudah. Karena “dalang” di balik penusukan tersebut, tentu tidak akan bisa “dijangkau”.

Tentu “tidak boleh suudhan”, begitu kata Syeikh Ali Jaber. Memang tidak boleh bersuudhan kepada siapapun. Akan tetapi demi keamanan, kesatuan, dan persatuan, apalagi dua bulan lagi, akan digelar pilkada serentak, maka Negara yang memiliki aparat dan BIN (Badan Intelegen Negara) tampaknya perlu mengusut siapa yang terlibat, dan yang mengotaki perencanaan penusukan Syeikh Ali Jaber tersebut.

“Petualangan” politik, dengan cara mengorbankan para Ulama – melalui Syeikh Ali Jaber — yang notabene bersih dari afiliasi partai politik, dakwahnya yang sejuk, apalagi sering muncul di Damai Indonesiaku di stasiun TV swasta ternama, peristiwa penusukan itu, menjadi perlu dipertanyakan dan ditelusuri sampai ketemu siapa “dalang” sesungguhnya di balik kasus penusukan itu. Semoga kita semua, warga yang merindukan adanya kerukunan, kedamaian, persaudaraan, dan persatuan, masih menyimpan harapan, supaya bisa ditemukan. Bahwa Ketika ketemu, nanti dimaafkan, atau diberi ganjaran, itu soal nanti. Ini sekaligus menjawab spekulasi yang berkembang, bahwa “persekusi” ulama, itu modus musiman menjelang pilkada atau even politik yang dilakukan oleh “orang-orang gila”.

Semoga “orang-orang gila” yang tidak mampu mengelola dirinya, dan tidak mampu  mempertanggungjawaban urusannya sendiri, diberi kesembuhan, dan diampuni segala dosa-dosa politiknya jika memang ada. Allah a’lam bi sh-shawab.

 Prof. Dr. Ahmad Rofiq, MA. alumnus Madrasah Tasywiqu th-Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Anggota Dewan Pakar Masyarajat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Bank Jateng, dan Ketua DPS Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung (SA) Semarang. Jatengdaily.com–st