Menyongsong Konferprov PWI Jateng

0
93

Oleh Gunoto Saparie

Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Tengah akan menyelenggarakan Konferprov di Lantai 5 Gedung B Sekretariat Daerah Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Semarang, tanggal 18-19 September 2020.  Pemegang hak suara, yaitu anggota biasa PWI Jateng, sesungguhnya ada sekitar suara 370 orang. Selain itu ada peninjau, yakni anggota yang belum punya hak suara dan anggota kehormatan. Namun, karena ada wabah covid-19, PWI Pusat membuat keputusan yang sifatnya diskresi, pembawa surat mandat yang sebelumnya satu orang hanya membawa satu mandat, untuk konfrerensi kali ini ini satu orang bisa membawa sepuluh surat mandat. Peserta hanya dibatasi 45 orang, termasuk panitia.

Penyelenggaraan Konferprov PWI Jateng ini merupakan akhir dari dua kali penundaan karena adanya wabah covid-19. Semula direncanakan pada 22 April bersama resepsi HUT PWI di Kudus. Namun, hal itu ditunda karena sejak Maret 2020 terjadi pandemi. Bulan April ada edaran PWI Pusat bahwa seluruh kegiatan PWI Jateng ditunda, termasuk konferprov.

Akibatnya harus memperpanjang masa kepegurusan PWI Jateng selama tiga bulan. Berdasarkan musyawarah pengurus PWI Jateng dan konsultasi dengan PWI Pusat, akhirnya ditetapkan pelaksanaan konferprov pada tanggal sebagaimana disebutkan di atas.. Tahap awal konferensi, dilakukan melalui aplikasi zoom anggota PWI Jateng, kemudian dilanjutkan laporan pertanggungjawaban pengurus dan pandangan umum peserta serta pemilihan ketua.

Harus diakui, Konferprov PWI Jateng mengandung makna strategis dan taktis. Ia merupakan amanat organisasi sesuai dengan AD/ART PWI. PWI sendiri boleh dikatakan telah lanjut usia, sudah tidak muda lagi; ia lahir tanggal 9 Februari 1946  Selain itu, banyak media massa, baik cetak, elektronik (radio/televisi swasta atau pemerintah), maupun daring, di Jateng di mana semua tentu memiliki wartawan, sehingga bisa dijadikan bagian dari target program keanggotaan PWI Jateng.

Konferprov PWI Jateng seharusnya jangan sampai terjebak pada permainan politik sesaat saja, yaitu hanya untuk memperebutkan posisi ketua. Meskipun hal tersebut memang salah satu agenda konferensi, tetapi ada hal yang penting lagi, yaitu evaluasi terhadap program dan kinerja kepengurusan PWI Jateng periode sebelumnya. Dengan demikian, anggota PWI Jateng dapat mengetahui dan memahami titik lemah dan kuatnya program kerja organisasi periode sebelumnya yang dilaksanakan selama ini.

Betapapun perencanaan program kerja PWI Jateng periode mendatang harus lebih rasional lagi, dengan memperhatikan faktor internal dan eksternal melalui analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat). PWI Jateng perlu melakukan konsolidasi total, agar organisasi ini dapat berjalan dengan baik dan menyelaraskan diri terhadap perkembangan pers di Jateng khususnya dan Indonesia umumnya. Konsolidasi tersebut bisa bersifat internal maupun eksternal.

PWI Jateng juga perlu melakukan penguatan hubungan dengan para pemangku kepentingan ataupun mitra kerja. Hubungan itu tentu saja harus saling menguntungkan, entah dengan instansi pemerintah (provinsi/kabupaten/kota), TNI/Polri, maupun perusahaan swasta dan pihak lainnya.  Namun, dalam hubungan dengan mereka, hendaknya marwah serta martabat PWI Jateng bisa tetap terjaga.

Langkah konsolidasi anggota juga harus dan mutlak dilakukan oleh Pengurus PWI Jateng periode mendatang. Hal ini mengingat dengan semakin kuatnya tuntutan kepada profesionalitas wartawan yang  memiliki kompetensi dan memahami kaidah-kaidah Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Bukankah sering terjadi polarisasi interes pribadi terhadap pemahaman KEJ dari kalangan pemodal media massa? Mereka tentu saja memiliki setting agenda, sehingga di saat kondisi seperti inilah organisasi wartawan tersebut harus hadir membela anggota yang berkompetensi demi penguatan kode etik, pengembangan profesionalisme, dan penghargaan atas karya jurnalistik wartawan.

Luar Biasa

Konferprov PWI Jateng kali ini memang luar biasa dan terbilang unik. Betapa tidak? Ia dilaksanakan setelah mengalami dua kali penundaan, dalam suasana wabah covid-19, peserta dibatasi dan sebagian besar anggota memberikan mandat kepada peserta yang hadir. Di tengah situasi demikian, rencana konferensi ini diwarnai dengan kasak kusuk, bisik-bisik, dan lobi. Siapakah yang kira-kira yang akan terpilih menjadi ketuanya? Hal ini tentu saja wajar.

Amir Machmud, yang sebentar lagi mengakhiri masa pengabdiannya sebagai Ketua PWI Jawa Tengah, dengan terus terang siap mencalonkan diri kembali. Apakah mantan Pemimpin Redaksi Suara Merdeka itu masih memiliki peluang kembali untuk memimpin organisasi wartawan terbesar di Jateng tersebut? Pesaingnya, Gunawan Permadi, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, memang tidak bisa dianggap ringan. Keduanya, harus diakui, sama-sama memiliki kans. Tentu saja hal itu tergantung para peserta konferensi. Di luar Amir dan Gunawan memang ada nama Sugayo Jawama, mantan Pemimpin Redaksi Tabloid Bina. Namun, kehadirannya barangkali hanya untukmenunjukkan kalau Amir dan Gunawan lebih kuat.

Bahwa ada sejumlah perbedaan pandangan antar-anggota PWI Jateng ketika menyikapi beberapa hal yang terjadi menjelang konferensi memang suatu hal lumrah dalam dinamika organisasi. Semua itu memang belum tentu benar, namun ia harus menjadi bahan masukan berharga untuk introspeksi.

Akhirnya kita berharap, agar Konferprov PWI Jateng mendatang menunjukkan nuansa demokratis, yang selalu berujung pada semangat kesejukan, persatuan, dan kesatuan, sesama insan pers. Selamat berkonferensi.

*Gunoto Saparie adalah mantan pengurus PWI Jawa Tengah. Tinggal di Semarang. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here