Mengukur Dampak Ekonomi Larangan Mudik

Oleh: Eko Suharto
ASN/Fungsional Statistisi Madya
BPS Provinsi Jawa Tengah

RAMADAN tahun ini menjadi yang kedua pada masa pandemi COVID-19. Aktivitas selama Ramadan belum sepenuhnya normal. Kegiatan di Masjid dibuka dengan penerapan protokol kesehatan. Jamaah mengikuti Salat Tarawih dengan batasan 50 persen kapasitas. Pelaksanaannya diupayakan dengan durasi yang tidak panjang.

Demikian pula mudik lebaran. Memasuki tahun kedua pandemi, Pemerintah kembali melarang tradisi tersebut. Siklus tahunan pulang ke kampung halaman kembali ditiadakan. Bukan keputusan mudah untuk melarang ritual tahunan ini. Langkah strategis ini tentunya berdasarkan pertimbangan dan pemikiran matang berdasarkan pengalaman sebelumnya.

Di sisi lain, Pemerintah berencana memperbolehkan masyarakat berwisata di daerahnya masing-masing. Situasi ini membuat masyarakat berpolemik. Pro kontra terkait kebijakan tersebut memunculkan anggapan bahwa Pemerintah melakukan blunder. Ketua DPR RI, Puan Maharani bahkan meminta pemerintah memperjelas aturan larangan mudik namun membolehkan tempat wisata beroperasi.

Ekonomi Mudik
Mudik Lebaran merupakan wujud tradisi turun temurun dan telah membudaya. Pulang ke udik (kampung) sebenarnya bisa dilakukan kapan saja. Namun menjadi istimewa karena dilaksanakan saat Hari Raya Idul Fitri. Saudara, handai taulan dan teman di perantauan memiliki hari libur yang sama. Serentak bisa saling bertemu dan melepas rindu di kampung halaman.

Hal menarik dari tradisi mudik yaitu peristiwa ekonomi yang unik. Terjadi aliran dana cukup besar dari berbagai kota menuju pelosok perdesaan. Setelah sekian lama bekerja di perantauan, jutaan orang kembali ke kampungnya. Mereka membawa hasil jerih payah dan membelanjakannya di kampung halaman. Kondisi ini menggerakkan pertumbuhan ekonomi di daerah.

Mobilitas pemudik memerlukan transportasi. Baik itu transportasi pribadi maupun umum. Pengusaha angkutan mampu meneguk keuntungan. SPBU resmi maupun eceran mengalami peningkatan omset. Demikian juga usaha bengkel, tambal ban, maupun juru parkir.

Tak mau kalah moncer bisnis kuliner. Pemudik membutuhkan makanan dan minuman di tempat kedatangan. Rumah makan dan restoran pasti ramai dengan pembeli. Atau meskipun memasak sendiri pasti perlu bahan makanan ekstra. Imbasnya pasar tradisional kebanjiran konsumen.

Bisnis oleh-oleh menangguk untung besar menjelang hari raya. Buah tangan baik makanan maupun non makanan laris diborong. Pemudik membagikan kebahagiaan dengan membawakan oleh-oleh untuk orang tua dan kerabat. Momentum ini dimanfaatkan pelaku usaha untuk mengoptimalkan penjualan.

Pengusaha hotel dan penginapan turut panen pada musim mudik. Saat keluarga besar berkumpul, rumah di kampung tidak mampu menampung seluruh anggota. Anak anak kota tidak nyaman tinggal di rumah kakek neneknya. Gerah, panas dan banyak nyamuk. Tinggal di hotel atau penginapan menjadi pilihannya.

Data Survei Balitbang Perhubungan tahun 2019 menunjukan Jawa Tengah menjadi daerah tujuan terbanyak pemudik. Dari perkiraan 14,9 juta orang Jabodetabel yang mudik, lebih dari 37 persen masuk Jawa Tengah. Jumlah uang yang dibawa dan dibelanjakan pemudik ke Jawa Tengah mencapai lebih dari 3,8 triliun rupiah.

Dalam kondisi normal, Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten Kota di Jawa Tengah akan menyambut dengan sukacita kedatangan pemudik. Berbagai poster dan baliho sambutan kedatangan terpampang di pusat kota maupun perbatasan.

Sayangnya itu tidak terjadi pada masa lebaran saat ini dan tahun kemarin. COVID-19 membuat pemerintah daerah memasang baliho larangan mudik dan bepergian. Jumlah pemudik turun tajam. Musim lebaran 2020, kisaran angka tidak lebih dari 1 juta orang masuk Jawa Tengah. Kondisi serupa terjadi pada lebaran tahun ini.

Perputaran ekonomi mudik tidak seperti yang diharapkan. Harapan untuk memacu konsumsi rumah tangga tidak terjadi. Rilis BPS Provinsi Jawa Tengah pada Agustus 2019 memperlihatkan mudik menjadi salah satu faktor ekonomi tumbuh. Konsumsi rumah tangga mendominasi struktur ekonomi dari sisi pengeluaran mencapi 60,66 persen.

Pada triwulan II nilainya tumbuh 5,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun kondisinya berbalik arah pada 2020 dimana konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi -4,16 persen. Realitanya ekonomi mudik tidak terjadi pada saat mudik dilarang.

Mengurangi Dampak
Pelarangan mudik dan pengetatan perjalanan dilakukan demi mengendalikan penyebaran COVID-19. Belajar dari India, kewaspadaan mengantisipasi ledakan Covid-19 memang diperlukan. Di sisi lain, perekonomian juga harus digerakkan. Dampak pengganda yang tidak terjadi pada periode mudik dapat disiasati. Tunjangan Hari Raya yang telah dibagikan jangan sampai menjadi dana menganggur.

Pertama, tetap mendorong belanja masyarakat meskipun tidak dengan berpergian. Layanan e-commerce menjadi prioritas. Pemerintah dapat mendorong dengan menggelar hari belanja online. Termasuk memberikan diskon atau subsidi ongkos kirim. Selain membantu dari sisi produksi karena permintaan meningkat, sektor perdagangan juga terimbas. Efek lain, jasa pengiriman barang akan merasakan peningkatan omzet.

Kedua, membuka kembali tempat wisata dengan protokol yang ketat. Wisatawan wajib mengikuti protokol kesehatan termasuk membawa surat bebas Covid-19. Ini akan membawa rasa aman dan nyaman bagi pengunjung lainnya. Selain itu aglomerasi wilayah juga menjadi pertimbangan. Wisatawan dari luar area aglomerasi sebaiknya dilarang. Meski terkesan kontradiktif, namun upaya ini perlu dilakukan mengingat sektor pariwisata terpuruk saat pandemi.

Ketiga, dengan menggratiskan biaya pengiriman uang. Perantau yang tidak pulang dapat mengirim uang ke orang tua dan sanak saudara di kampung secara gratis. Uang yang ditransfer diharapkan memacu belanja di daerah perdesaan dan mendorong konsumsi.

Larangan mudik akan menekan ekonomi dari sisi konsumsi. Namun kebijakan yang tepat, diharapkan pergerakan ekonomi tetap terjadi. Lebih dari itu, upaya mengendalikan COVID-19 harus terus dilakukan. Karena saat COVID-19 dapat dikendalikan, pertumbuhan ekonomi akan terjadi. Jatengdaily.com-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here